Laman

Senin, 11 Februari 2013

Peluang Di Pangan Dan Pakan…

Ketika dalam satu dasawarsa (2001-2011) penduduk China ‘hanya’ tumbuh 5.6 % dari 1.276 Milyar ke 1.347 Milyar, dalam periode yang sama kebutuhan jagung negeri itu mengalami pertumbuhan sebesar 47%. Permintaan jagung yang melonjak secara luar biasa di China ini membuat seluruh produsen jagung dunia kalang kabut untuk menyediakan supply-nya. Akibatnya cadangan jagung dunia anjlog ke titik terendah selama hampir empat dasawarsa terakhir, dan dunia tersentak dengan pertanyaan – apa yang sebenarnya terjadi ?

Kasus supply jagung dunia yang tersedot oleh China ini sesungguhnya bisa menjadi pelajaran penting bagi negara-negara di dunia, untuk dapat secara serius menaruh prioritas dalam penyediaan pangan yang cukup bagi rakyatnya.

Bila kebutuhan jagung China meningkat proporsional dengan peningkatan jumlah penduduk, mestinya kebutuhan jagung mereka hanya tumbuh 5 % – 6 % saja. Kenyataannya kok sampai 47% ? siapa yang ujug-ujug perlu mengkonsumsi jagung yang begitu besar di dasawarsa terakhir ?

Dasawarsa terakhir adalah tahun di mana ekonomi China tumbuh secara pesat. Dampaknya ada sejumlah pergeseran di masyarakat dari yang semula miskin menjadi menengah, yang semula menengah menjadi kaya. Ketika manusia semakin mampu secara finansial, terjadi pula pergeseran pola makannya. Yang semula mengandalkan karbohidrat dari biji-bijian berubah menjadi protein dari hewan.

Dalam dua dasawarsa terakhir kebutuhan daging hewan besar (berkaki empat) meningkat dua kalinya di China, dan bersamaan dengan itu kebutuhan daging unggas meningkat menjadi empat kalinya pada periode yang sama. Lantas dengan apa ternak-ternak ini hidup dan dibesarkan ?, antara lain ya dengan jagung tadi. Itulah sebabnya terjadi lonjakan kebutuhan jagung di China – yang otomatis mengganggu pasar jagung dunia karena jumlah penduduk China saja mewakili 19 % dari populasi dunia.

Mengapa pelajaran dari China ini penting untuk kita ?, karena pada tahun yang sama dengan melonjaknya kebutuhan jagung China tersebut kita masih impor beras dari sejumlah negara sampai 2,75 juta ton dengan nilai US$ 1,5 miliar atau 5% dari total kebutuhan dalam negeri. Impor kedelai tercatat 60% dari total konsumsi dalam negeri sekitar 3,1 juta ton dengan nilai US$ 2,5 miliar, jagung (11% dari konsumsi 18,8 juta ton, US$ 1,02 miliar), gandum (100%, US$ 1,3 miliar), gula putih (18%, US$ 1,5 miliar), daging sapi (30%, US$ 331 juta), dan susu (70%).
 Secara keseluruhan kita defisit pangan sebesar US$ 9.2 Milyar pada tahun tersebut.

Defisit ini relevan karena ketika harga jagung dunia melonjak oleh sebab supply-nya diborong China, minimal tiga item dari ‘daftar belanja’ impor kita tersebut di atas pasti ikut terdongkrak naik harganya. Pertama adalah harga jagung impornya sendiri, kedua dan ketiga adalah produk hewan pengkonsumsi jagung yaitu harga daging dan susu-nya.

Yang ingin saya gambarkan adalah di satu sisi ada masalah besar untuk urusan pangan ini, yaitu selain karena pertumbuhan penduduk di negeri ini sendiri – juga pertambahan penduduk dan peningkatan kemakmuran di negeri lain-pun ikut membuat bahan pangan semakin mahal.

Di sisi lain ini mestinya menjadi peluang yang luar biasa besar bagi negeri ini, bila kita bisa memikirkan secara integrative kebutuhan pangan dan pakan sekaligus. Tidak bisa dipisahkan karena ternyata bila dianggap terpisah – akan terjadi kejutan-kejutan seperti yang terjadi di China di awal tulisan ini. Juga fakta di lapangan yang menunjukkan bahwa karena kita tidak punya strategi jitu untuk pakan ternak, maka kita masih harus impor daging sampai 30% dan susu sampai 70 % dari kebutuhan kita.

Walhasil di tengah hiruk pikuk pemberitaan tentang impor daging dan juga kebutuhan pangan lainnya, mestinya ada tugas yang lebih mendasar yang negeri ini perlu fokuskan – yaitu bagaimana memenuhi kebutuhan pangan bagi sekitar 250 juta penduduk ini sekarang dan nanti, dan bagaimana pula bisa memenuhinya sedapat mungkin dari produk dalam negeri.

Kita tidak bisa terus menerus mengandalkan produk impor karena produk impor akan rentan oleh berbagai faktor yang terjadi di negeri lain – seperti kasus kebutuhan jagung di China tersebut di atas. Kerawanan pangan akan mudah terjadi bila kita tidak bisa men-supply-nya sendiri secara cukup dari produk dalam negeri.

Dalam urusan pangan inipun kita tidak bisa sepenuhnya mengandalkan pemerintah untuk memikirkannya. Selain mereka – paling tidak untuk saat ini sampai tahun depan – akan disibukkan oleh berbagai urusan hukum dan urusan politik yang campur aduk, nampaknya memang belum ada grand strategy yang integratif untuk urusan ini.

Lantas dari mana kita sebaiknya mulai ?, agar tidak tersesat kita harus memulai dari petunjuk yang dijamin kebenarannya. Ketika Allah memerintahkan kita untuk memperhatikan apa yang kita makan “maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS 80 :24), Allah menutup rangkain ayat makanan ini dengan menyebutkan kebutuhan hewan ternak kita “untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS 80 : 32). Dalam rangkaian ayat-ayat (QS 80:24 -32) seperti inilah nampaknya petunjuk itu datang – tinggal kita kerja keras untuk menggalinya, memahaminya dan melaksanakan petunjukNya.

Maka dari sinilah kita memulai meng-eksplorasi peluang di bidang pangan dan pakan itu…InsyaAllah!

Kategori : Entrepreneurship Published on Wednesday, 06 February 2013 13:30 Oleh : Owner Gerai Dinar

Petani Yang Mengendarai Lamborghini…

Bila Anda sekarang melihat mobil super mewah seperti Lamborghini yang harganya mendekati Rp 10 Milyar di Jakarta, pengendaranya kemungkinan adalah lawyer, pengusaha, selebritis atau orang-orang yang mudah mencari uang lainnya. Sekian tahun dari sekarang situasi itu akan berubah, nantinya para petanilah yang akan mampu membeli mobil-mobil sekelas Lambo tersebut ! kok bisa ?

Setidaknya ini adalah pendapat investor legendaris Jim Rogers yang juga salah satu pendiri Quantum Fund. Menurutnya, sektor yang paling menguntungkan kedepan akan kembali ke industri pertanian. Dunia yang sudah kalang kabut untuk mencari makan bagi sekitar 7 milyar penduduknya kini, akan lebih berat lagi untuk menambah kebutuhan pangan sampai 70 % dalam 4 dasawarsa kedepan.

Walhasil apapun yang Anda tanam kini akan semakin dibutuhkan untuk men-supply kebutuhan vital manusia kedepan yaitu pangan. Ini tidak terbatas pada tanaman pangan saja, tanaman apa saja – dengan teknologi yang terus berkembang akan bisa diolah secara langsung ataupun tidak langsung menjadi pangan manusia akhirnya.

Dengan teknologi yang ada saat ini saja kita sudah bisa mengolah nyaris hijauan apa saja menjadi pangan manusia, apalagi nanti. Bukan berarti manusia harus makan rumput ataupun dedaunan lainnya, tetapi rumput-rumput dan segala hijauan itu bisa dioleh menjadi pakan ternak yang efektif dan dari ternak tersebutlah manusia bisa makan dagingnya dan minum susunya. Peluang untuk ikut memberi makan milyaran manusia di dunia tersebutlah yang akan menjadi investasi yang semakin menarik itu.

Lantas apa yang bisa dilakukan untuk terjun di investasi yang paling menarik ini ?, masih menurut Jim Rogers sederhana : “The very best way is to go and become a farmer … Buy farmland and become a farmer, because then you are going to get huge paybacks,” terjemahan bebasnya : “Cara yang paling baik adalah menjadi petani, beli tanah dan bertani. Dengan cara itu Anda akan memperoleh hasil yang paling besar”.

Sejalan dengan pemikirannya Jim Rogers tersebut, sudah beberapa tahun terakhir kami berusaha connecting the dots – merangkai titik-titik – di Industri pertanian ini. Sebagian sudah bisa dilihat hasilnya, sebagian besarnya belum – tetapi saya sependapat bahwa nampaknya industri pertanian dalam arti luas inilah salah satu sektor yang harus menjadi perhatian kita kedepan.

Negeri yang ijo royo-royo ini ironinya harus mengimpor daging, kedelai, gandum dlsb. Padahal dengan teknologi yang ada kinipun seharusnya kita sudah tidak kekurangan pakan untuk membesarkan ternak-ternak kita dan tidak kekurangan pupuk untuk menumbuhkan tanaman pangan kita.

Lantas yang kurang apa ?, yang kurang adalah perhatian, fokus, niat baik, kebijakan publik dlsb. yang sangat dibutuhkan untuk mengolah seluruh potensi yang ada menjadi solusi bagi kebutuhan pangan dalam negeri, dan syukur-syukur bisa berkontribusi memenuhi kebutuhan pangan bagi dunia nantinya.

Tetapi dengan hiruk pikuk politik yang ada kini yang masih akan berlanjut setidaknya sampai tahun depan, kita juga tidak bisa hanya berharap pada para pembuat undang-undang di negeri ini dan para eksekutifnya.

Kita bisa melangkah sekarang juga untuk mulai fokus pada sektor yang sudah sekian lama setengah dilupakan tersebut – yaitu sektor pertanian dalam arti luas termasuk kehutanan, perikanan, peternakan, perkebunan dlsb.

Bila anak-anak muda kini berdesakan mencari kerja di kota-kota besar, mengapa tidak mulai meng-encourge mereka untuk kembali ke desa dan membangun pertanian desanya ?.

Bila mayoritas lulusan SMU berburu masuk perguruan tinggi – jurusan apa saja asal bisa menjadi sarjana, mengapa tidak kita mulai mengarahkan mereka untuk belajar ketrampilan mendasar yang akan menjadi tulang punggung dunia kedepan – yaitu bertani ?

Kelak kalau upaya-upaya ini berhasil, meskipun para petani-petani kita bener-bener mampu membeli Lamborghini seperti prediksi Jim Rogers – sesungguhnya mereka juga tidak perlu membeli si Lambo yang harganya setara 4,000 ekor kambing qurban kelas baik tersebut.

Bila mereka ditempa di industri pertanian, mereka akan tahu betapa pentingnya menggunakan 4,000 ekor kambing untuk melahirkan ribuan kambing berikutnya, untuk terus ikut memberi supply bagi kebutuhan makan dan minum bagi dunia saat itu. InsyaAllah.

Kategori : Entrepreneurship Published on Tuesday, 05 February 2013 16:03 Oleh : Owner Gerai Dinar

Senjata Melawan Riba…

Menurut laporan McKinsey, hanya 12 % usaha Indonesia saat ini yang menggunakan pembiayaan kredit dari Bank. Lantas kemana uang masyarakat yang begitu banyak ditabung di bank-bank ?, menurut laporan yang sama pula antara lain uang tersebut tersimpan dalam apa yang mereka sebut high-yield, low risk Bank Indonesia Certificates (SBIs). Laporan ini seolah menguatkan alasan mengapa riba dilarang dalam Islam, karena uang tidak perlu bekerja produktif sudah menjadi investasi dengan hasil tinggi dan resiko rendah. Lantas mau digerakkan dengan apa ekonomi kalau demikian ?

Ketika ekonomi tidak berputar secara merata, Indonesia bisa saja menjadi kekuatan ekonomi besar – ke 7 di dunia pada tahun 2030 berdasarkan scenario di laporan McKinsey tersebut. Tetapi ketimpangan juga semakin luas, saat itu diprediksi ada 55 juta orang tidak memiliki akses sanitasi dan 25 juta orang tidak memiliki akses air bersih.

Itulah pertumbuhan ekonomi yang antara lain mengandalkan sektor finansial ribawi itu – seolah sah-sah saja kita membuat skenario ekonomi yang akan memiskinkan sekian puluh juta orang tersebut.

Bahwa hasil itu ada di tangan Allah semata, setidaknya bila kita merencanakan dan berupaya membangun ekonomi untuk negeri ini – targetnya harus meng-eliminasi kemiskinan atau meminimisasinya.

Lantas dengan apa kita akan mengeliminasi kemiskinan itu ?, secara umum kita bisa mengeliminasi kemiskinan dengan “7 Sumber Pengentasan Kemiskinan” yang telah saya muat di situs ini pada tanggal 7-September 2012 lalu.

Untuk kemiskinan yang ditimbulkan oleh praktek-praktek ribawi, kitapun telah dibekali oleh Allah antara lain dengan dua senjata utama yaitu perdagangan dan sedekah sebagaimana tercantum di penggalan dua ayat yang berurutan berikut :

“… Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba… Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah…” (QS 2:275-276).

Jadi lawan riba itu dua – yaitu yang pertama perdagangan atau jual-beli dan yang kedua sedekah. Dua lawan riba ini secara umum tercover dalam tulisan saya tersebut di atas, hanya pada tulisan ini akan saya elaborasi salah satunya yaitu perdagangannya.

Bila perdagangan itu hanya mengandalkan permodalan – maka kita akan terjebak pada kapitalisme ribawi sebagaimana terungkap oleh data McKinsey tersebut – dimana hanya segelintir pengusaha saja (12%) yang memiliki akses pembiayaan kredit bank. Mayoritasnya tidak punya modal dan tidak bisa mengakses modal perbankan.

Lantas dengan apa kita bisa berdagang bila tanpa modal ?, ingat pelajaran yang sangat berharga dari jaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – salah satu orang terkaya di jaman itu adalah Abdurrahman bin ‘Auf – dia memulai perdagangannya tanpa modal, dia memulai perdagangannya hanya dengan tahu di mana pasar !

Kemudian di pasar dia ketemu orang-orang yang membutuhkan barang apa, di pasar pula dia ketemu orang-orang yang memiliki barang dagangan apa. Dengan mempertemukan demand dengan supply-nya, dengan itulah Abdurrahman bin ‘Auf mulai berdagang.

Cara perdagangan saat itu juga tergambar dengan jelas melalui hadits sahih yang sangat sering saya sajikan di situs ini.

“(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, beras gandum dengan beras gandum, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (denga syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai”. (HR. Muslim).

Ketika barang atau kebutuhan kita ditukarnya dengan emas atau perak – itulah jual beli dengan uang yang kita kenal sampai sekarang. Ketika ditukar antar jenis barang yang berbeda – misalnya gandum ditukar dengan kurma – maka itulah jual beli dengan barter yang telah sekian lama ditinggalkan.

Dalam era perdagangan atau jual beli yang mengandalkan uang atau modal, umat yang mayoritas di negeri ini terperdaya oleh segelintir minoritas yang menguasai perdagangan hampir di seluruh aspek kehidupan kita. Dari perdagangan mie sampai mobil dikuasai mereka.

Lantas bagaimana kita merebut kembali dominasi perdagangan ini untuk kembali berada di tangan umat – sebagaimana umat ini dahulu perkasa di perdagangan ?, salah satu caranya ya meng-eksplorasi cara-cara perdagangan yang tersirat dalam hadits tersebut di atas.

Mayoritas umat ini tidak memiliki akses modal untuk berdagang, maka ayolah kita mulai belajar berdagang a la Abdurrahman bin ‘Auf – berangkat ke pasar tanpa modal. Dengan barter yang dijaman modern ini saya sebut barter modern atau perdagangan kreatif – Anda bisa berangkat ke pasar untuk mulai berdagang tanpa modal (uang).

Maka bagi Anda yang sudah confirm hadir untuk acara besuk di Rumah Hikmah (yang belum mendaftar ma’af sudah penuh, menunggu kesempatan berikutnya), bayangkan diri Anda besuk adalah seperti hari pertamanya Abdurrahman bin Auf berangkat ke pasar.

Di sana Anda akan ketemu seratusan lebih orang-orang yang membutuhkan barang atau jasa ini dan itu, dan sejumlah orang yang sama yang menawarkan barang atau jasa ini dan itu. Challenge Anda adalah bagaimana mempertemukannya tanpa harus dengan uang atau modal.

Dengan cara inilah umat ini dahulu diunggulkan dalam perdagangan, maka insyaAllah dengan cara ini pula kita akan bisa mengulangi keunggulan itu. Bila kita bisa unggul dalam perdagangan, otomatis lawan dari perdagangan - yaitu riba akan melemah.

Bila riba melemah syukur-syukur menghilang dari umat ini, insyaAllah negeri ini akan bisa kembali hidup dalam keberkahanNya. Amin.

Kategori : Entrepreneurship Published on Friday, 01 February 2013 07:05 Oleh : Owner Gerai Dinar

Peringatan Dini…

Seekor tikus mau masuk lumbung padi Pak Tani melalui lubang sempit yang dengan susah payah digalinya. Begitu berhasil masuk, dihadapannya sudah ada perangkap tikus yang menghadang. Dia balik lari tunggang langgang dan berteriak mengabarkan ke hewan-hewan lain akan adanya bahaya “ada perangkap….ada perangkap….ada perangkap”. Bagaimana sikap hewan lain ?

Teman-teman si tikus yang mendengar pertama kabar itu menganggapnya enteng : “oh itu sudah biasa, Pak Tani memang selalu pasang perangkap. Tapi kita kan lebih cerdik dari dia ?, kita bisa tetap makan padinya tanpa harus kena perangkapnya !”.

Ketika ayam ikut mendengar tikus berteriak “ada perangkap…”, si ayam menjawab “itu pasti bukan untuk saya, lagian saya tidak pernah masuk lumbung Pak Tani !, makanan saya tersedia cukup di luar sini…”.

Ketika kambing ikut mendengar teriakan yang sama “ada perangkap…”, si kambing menjawab : “Oh itu tidak mungkin mengenai saya, saya tidak masuk lumbung Pak Tani dan saya tidak makan padinya, makanan saya rumput diluar sana ! ”.

Ketika sapi juga ikut mendengarkan teriakan yang sama “ada perangkap…”, si sapi menjawab : “jelas itu bukan untuk saya, pintu lumbungnya saja tidak muat untuk saya masuki – saya tidak mungkin mencari makan di sana”.

Karena kesombongan tikus yang tidak mengindahkan peringatan temannya, satu tikus tetap melenggang masuk lumbung Pak Tani. Begitu melewati lubang sempit yang dibuat temannya, terdengar suara “Jepret !, cit cit cit…cit cit cit…cit cit cit…”. Satu tikus kena perangkap dan yang lain panik lari tunggang langgang.

Si ayam, Si kambing dan Si sapi tetap pada pendiriannya : “bahaya itu bukan untuk saya…!”.

Pak Tani yang menyimpan padi di lumbung tidak tahu kalau ada tikus yang terkena perangkapnya. Bangkai tikus tetap berada di lumbung padi untuk waktu yang lama. Bangkai ini menyebarkan penyakit yang terus terbawa ke padi yang dimakan keluarga petani.

Pak Tani dan anaknya memiliki badan yang sehat tidak mudah terkena penyakit, tetapi istrinya yang rentan – langsung sakit dan perlu perawatan. Ketika dalam perawatan ini makan apa saja serba tidak enak, lantas si istri bilang sama suaminya : “Makan sop ayam kali Pake enaknya…”.

Si suami yang sayang istri lantas serta merta memotong ayam - yang sebelumnya mengabaikan peringatan “ada perangkap…”.

Sakit si istri tetap belum sembuh bahkan bertambah parah. Tetangga dan saudara jauh pada berdatangan untuk besuq sambil mendoakan kesembuhan istri Pak Tani. Karena banyak tamu, Pak Tani bingung untuk menjamunya. Dia ingat punya kambing, maka dipotonglah kambing untuk menjamu tamu-tamunya. Kambing ini adalah kambing yang sebelumnya juga mengabaikan peringatan “Ada perangkap…”.

Istri Pak Tani terus bertambah parah sakitnya dan akhirnya meninggal dunia. Pelayat banyak bersimpati ke Pak Tani sampai berhari-hari. Pak Tani bingung lagi bagaimana menjamu tamunya yang sangat banyak, maka dipotonglah satu-satunya yang masih tersisa yaitu sapi – yang juga sebelumnya mengabaikan peringatan “ada perangkap…”.

Begitulah sikap manusia seperti kita ketika mendapatkan peringatan akan adanya suatu bahaya. Ada yang seperti tikus yang sombong, merasa lebih pinter dari bahaya yang akan datang. Ada yang seperti ayam, kambing dan sapi – merasa peringatan itu bukan untuknya – bahwa dia tidak mungkin kena bahaya itu !. Maka ketika peringatan bahaya itu diabaikan, semuanya menjadi korban.

Begitu banyak peringatan itu sampai ke kita dari Sang Maha Pencipta dan Yang Maha Tahu, dari bahaya riba, judi, khamr sampai bahaya dari kerusakan alam, ketidak adilan pemimpin, kecurangan para pengusaha/pedagang dlsb. dlsb.

Siapkah kita sedari dini merespon peringatan tersebut dengan mengambil langkah yang benar sesuai petunjukNya ? atau kita abaikan juga ? Mudah-mudahan Allah menuntun kita pada pilihan yang pertama - memberi kita petunjuk dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Amin.

Kategori : Umum Published on Thursday, 31 January 2013 09:37 Oleh : Owner Gerai Dinar

Kembalinya Timbangan Yang Hilang…

Bila tahun 2010 Anda memiliki uang sebesar Rp 6,518,- Anda sudah bisa membeli 1 kg beras kwalitas rata-rata. Dua tahun kemudian 2012, uang yang sama bila Anda belikan beras tinggal memperoleh 0.86 kg. Tahun 2012 Anda perlu uang sebesar Rp 7,550,- untuk bisa membeli 1 kg beras kwalitas rata-rata. Begitu banyak kita diingatkan untuk menegakkan timbangan, tetapi justru instrumen perdagangan utama manusia modern yaitu uang kertas secara amat gamblang dan terus menerus mengurangi timbangan itu.

Takaran dan timbangan yang paling banyak digunakan untuk jual beli manusia modern bukan untuk menakar volume atau menimbang berat, tetapi untuk menentukan nilai. Lantas bagaimana bila penentu nilai itu sendiri berubah-ubah nilai atau daya belinya dari waktu ke waktu, tidak ada standar yang sama di antara satu negeri dengan negeri lainnya ?.

Jawabannya adalah seperti menakar dengan takaran yang volumenya terus mengecil, seperti menimbang dengan anak timbangan yang terus bertambah ringan. Hasil yang bisa ditakar atau ditimbang menjadi semakin sedikit. Uang kertas kita adalah takaran yang volumenya mengecil atau timbangan yang anak timbangnya terus bertambah ringan tersebut.

Dampak yang lebih luas dari tidak adanya takaran atau timbangan yang baku adalah perdagangan di dunia modern seperti orang-orang yang berjalan di lorong gelap, hanya yang membawa lampu sendiri yang tahu sedang berjalan kemana – sementara mayoritas orang tidak tahu sedang ke arah mana dia berjalan.

Pemerintah-pemerintah dunia mungkin tahu apa yang sedang mereka lakukan, tetapi mayoritas rakyat tidak sadar atau  tidak tahu bahwa hasil jerih payah mereka bekerja bertahun-tahun –terus menyusut bila untuk menakar/menimbang (baca : membeli) barang-barang kebutuhan seperti dalam contoh beras tersebut di atas.

Bagaimana era kegelapan timbangan ini membuat manusia kehilangan arah dapat diilustrasikan dari kasus berikut :

Pada musim qurban 2010, harga seekor kambing super (sekitar 40 kg) harganya di kisaran Rp 1,700,000. Pada tahun 2012 kambing qurban dengan berat yang kurang lebih sama, harganya di kisaran Rp 2,500,000,-. Mana yang lebih mahal ? dari sisi angka Rupiah tentu tahun 2012 lebih mahal 47% dari harga tahun 2010.

Kita bandingkan lagi dengan harga kambing di Amerika pada tahun-tahun tersebut. Untuk kambing dengan berat yang kurang lebih sama, tahun 2010 harganya US$ 100,- dan tahun 2012 harganya di kisaran US$ 150,-. Harga kambing di Amerika dari tahun 2010 ke tahun 2012 mengalami kenaikan sedikit saja lebih tinggi dari harga kambing di kita yaitu di kisaran 50%.

Dengan timbangan Rupiah dan Dollar selain kita tidak tahu apakah  harga tahun 2012 benar-benar lebih tinggi dan seberapa besar lebih tingginya, kita juga tidak bisa langsung membandingkan mana yang lebih mahal harga kambing di Indonesia dalam Rupiah atau kambing di Amerika dalam Dollar.

Sekarang mari kita coba gunakan timbangan yang bersifat universal atau saya sebut universal unit of account berupa Dinar atau Point ( 1/10,000 Dinar atau 1 ¢¢ Dinar). Untuk memudahkan penggunaan Dinar atau Point ini, mulai hari ini Kalkulator Dinar saya pasang di www.geraidinar.com (kalau kesulitan mencarinya lihat di menu paling atas atau menu paling bawah) dan Kalkulator Point saya pasang di www.indobarter.com

Baik Kalkulator Dinar maupun Kalkulator Point dapat digunakan untuk menghitung konversi Dinar atau Point ke seluruh mata uang utama dunia atau sebaliknya dari seluruh mata uang utama dunia ke Dinar atau Point. Untuk US$ maupun Rupiah bahkan bisa untuk menghitung konversi Dinar atau Point ke mata uang dan sebaliknya, untuk waktu mundur sampai 1970.

Cara penggunaannya lihat pada ilustrasi disamping, pilih konversi yang ingin Anda lakukan misalnya karena saya mau mengkonversi harga kambing super  2010 sebesar Rp 1,700,000 ke Dinar, maka saya click radio button “Currency to Dinar”. Di Kotak putih saya ketikkan angka 1700000 (tanpa koma), currency saya set ke Rupiah dan tahun saya set ke 2010. Setelah saya click “Calculate” maka di screen menunjukkan angka Rp 1,700,000 yang setara dengan 1.0852 Dinar untuk tahun 2010. Inilah harga kambing super saat itu.

Dengan langkah yang sama saya ulangi untuk tahun  2012, maka harga kambing super Rp 2,500,000,- ternyata setara dengan 1.1357 Dinar. Sekarang kita bisa membandingkan dengan timbangan yang adil itu, harga kambing 2012 ternyata memang lebih mahal tetapi hanya naik sekitar 4.7 % dalam dua tahun.

Maknanya adalah dengan Dinar-pun harga kambing bisa naik, yaitu manakala demand melebihi supply. Ketika orang yang mampu membeli qurban kambing super lebih banyak dari pertambahan supply-nya – maka harganya memang akan naik. Tetapi kenaikan karena demand yang melebihi supply ini, dalam jangka panjang akan menuju kestabilan karena akan menarik bagi yang akan men-supply kambing qurban berikutnya.

Dengan mengetahui bahwa kenaikan harga kambing  riilnya hanya 4.7% selama dua tahun 2010 ke 2012, lantas mengapa dengan uang Rupiah naiknya sampai 47% ?. Itulah kenaikan karena inflasi harga kambing dalam Rupiah selama dua tahun terakhir.

Bila kita sederhanakan misalnya kenaikan harga itu hanya dipengaruhi oleh dua sebab yaitu faktor inflasi dan faktor supply and demand atau saya formulasikan KENAIKAN HARGA = F(Inflasi)*(1+ Kenaikan Karena Supply and Demand), maka 47% = F(Inflasi)* (1+4.7%). Dari ini kita akan ketemu bahwa inflasi Rupiah saja telah menaikkan harga kambing qurban kelas super sebesar  44.89% dalam dua tahun dari 2010 ke 2012.

Kalkulator yang sama bisa kita gunakan untuk menghitung kenaikan harga kambing dengan ukuran yang kurang lebih sama di negeri Paman Sam. Harga kambing US$ 100 pada tahun 2010 setara dengan 0.5814 Dinar, harga kambing US$ 150 pada tahun 2012 setara dengan 0.6383 Dinar. Jadi dalam Dinar kenaikan kambing di AS dari 2010 ke 2012 adalah 9.8%.

Karena dalam Dollar naiknya sampai 50 % ( dari US$ 100 ke US$ 150), maka sebenarnya kenaikan karena faktor inflasinya adalah 50% = F(Inflasi)*(1+9.8%). Jadi Faktor inflasi-nya saja mempengaruhi kenaikan harga kambing 45.54% di Amerika antara tahun 2010 ke 2012.

Setelah menggunakan timbangan yang sama, kita juga bisa mengetahui bahwa kambing qurban kelas super yang di Indonesia tahun lalu berharga 1.1357 Dinar jauh lebih tinggi dari kambing dengan berat yang kurang lebih sama di Amerika yang hanya 0.6383 Dinar. Apa penyebabnya ?, lagi-lagi antara lain ya karena supply and demand tadi, ongkos produksi dan lain sebagianya – tetapi bukan karena faktor inflasi, karena faktor inflasi dalam artian penurunan daya beli uang-nya sudah kita eliminir.

Lagi-lagi perhitungan di atas membuktikan akan adanya suatu alat tukar atau suatu timbangan yang stabil daya belinya sepanjang jaman. Bila di jaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam harga kambing qurban di kisaran 1 Dinar, setelah lebih dari 1,400 tahun perhitungan-perhitungan diatas menunjukkan 1 Dinar yang sama tetap dapat untuk membeli kambing kwalitas super sekarang.

Bandingkan dengan uang kertas dalam rentang 33 tahun terakhir saja misalnya, dari 1979 harga kambing kelas super yang wajar Rp 25,000-an – naik  100 kali menjadi Rp 2,500,000,- tahun 2012. Dengan pendekatan yang sama menggunakan Kalkulator Dinar di atas, kita bisa tahu bahwa tahun 1979 kambing super berharga 0.9259 Dinar sedangkan tahun 2012 seharga 1.1357 Dinar atau hanya mengalami kenaikan riil 22.65 % selama 33 tahun.

Bahwasannya dalam Rupiah pada rentang waktu 33 tahun itu harga kambing super naik menjadi 100 kalinya atau naik 9,900 % itu karena ada inflasi uang kertas sebesar 8,071.75% !.

Bagaimana dengan beras dalam awal tulisan ini yang saya jadikan sebagai contoh kasus ‘pengurangan timbangan’ yang kita hadapi sehari-hari dalam jual beli kita ?. Bisa juga kita timbang dengan Kalkulator Dinar yang sama, hanya saja karena satuan Dinar yang bernilai jauh lebih besar dibandingkan dengan nilai 1 kg beras, ini ibarat menimbang berat badan Anda dengan jembatan timbang yang biasa digunakan untuk menimbang truk. Bisa, tetapi menjadi kurang akurat.

Untuk bisa menimbang barang-barang yang nilainya kecil, timbangan Dinar tersebut perlu diperkecil sampai mendekati ukuran yang sesuai peruntukannya. Dalam hal ini Dinar saya pecah menjadi 1/10,000 Dinar atau 1 ¢¢ Dinar atau saya sebut 1 Point. Kalkulator yang sudah saya perkecil menjadi Kalkulator Point  inilah yang dapat dilihat di www.indobarter.com.


Rp 6,518 untuk 1 kg beras kwalitas rata-rata tahun 2010 adalah setara 42 Point, sedangkan Rp 7,550 untuk beras yang sama tahun 2012 adalah setara 34 Point. Jadi meskipun dalam Rupiah terjadi kenaikan harga sebesar 15.83 % dalam rentang waktu dua tahun antara 2010 ke 2012; harga beras riil dalam Point malah turun 19.05% dari 42 Point ke 34 Point.

Efek inflasi Rupiah terhadap harga beras 2 tahun terakhir menjadi 15.83% = F(Inflasi) * (1-19.05%), atau inflasi Rupiah membawa kenaikan harga beras sampai 19.56% dalam rentang waktu tersebut. Kenaikan karena inflasi ini sebagian ‘tersembunyikan’ oleh penurunan harga riilnya.

Dengan contoh-contoh perhitungan menggunakan Kalkulator Dinar maupun Kalkulator Point tersebut di atas, insyallah kita sekarang bisa menemukan kembali timbangan untuk jual-beli yang adil itu. Yang oleh Imam Ghazali sudah diingatkan hampir 1000 tahun lalu bahwa  ‘hanya emas dan perak-lah timbangan yang adil untuk penentu harga-harga itu’.

Timbangan yang adil adalah ibarat lampu yang menerangi jalan, kita bisa tahu arah yang benar apakah fitrah mekanisme pasar  supply and demand yang mempengaruhi harga-harga kita, atau karena faktor lain seperti utamanya inflasi ini. Bayangkan kalau kenaikan harga karena inflasi seperti harga beras 2010-2012 tersebut kita kira karena kelebihan demand terhadap supply, kita akan salah mengambil keputusan.

Karena penyebabnya inflasi bukan karena supply yang tidak mencukupi demand, maka yang harus diperbuat para pemimpin adalah mengendalikan inflasi ini jangan sampai terjadi – agar rakyat bisa tahu arah yang benar – berapa seharusnya tingkat produksi yang dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya.

Saya tahu mungkin tidak banyak yang akan mau menggunakan ‘lampu’ timbangan yang adil dalam bentuk Kalkulator Dinar dan Kalkulator Point ini, tetapi ibarat berjalan di lorong yang gelap – apapun yang bisa menerangi jalan seharusnya kita ambil dan gunakan. Wa Allahu A’lam.



Deurbanization Lifestyle…

Kota-kota besar yang menjadi pusat bisnis dan perdagangan dunia itu terus bergeser. Dari Roma, pindah ke Damaskus, pindah ke Konstantinopel yang kemudian berganti nama menjadi Istambul, kemudian pindah lagi ke Vinesia, pindah ke Antwerp, Pindah ke London dan kemudian New York. Awalnya perpindahan itu mengikuti pusat pergerakan barang, belakangan mengikuti pusat pergerakan uang. Kemana pusat bisnis dan perdagangan kemudian akan bergeser ?

Saat ini-pun sudah sulit untuk mengambil satu kota dunia yang menjadi pusat bisnis dan perdagangan itu. Apakah masih di New York ?, atau sudah bergeser ke Singapore , Hongkong, Beijing dlsb ?. Kini tidak ada lagi satu kota di dunia yang begitu dominan-nya menjadi pusat bisnis dan perdagangan.

Orang tidak lagi harus mengikuti pusat pergerakan barang ataupun pusat pergerakan uang. Teknologi informasi telah memungkinkan orang bisa tinggal dan hidup di mana dia mau, tanpa harus kehilangan jejak terhadap pergerakan barang dan pergerakan uang yaitu usaha dan perdagangan yang dia kendalikan.

Di luar dugaan kita semua, ternyata banyak eksekutuf dunia yang justru berkeinginan dan mulai tinggal dan mengendalikan usahanya dari negara-negara yang selama ini tidak terbayangkan oleh kita seperti Vietnam, Czech Republic, Bulgaria, Slovenia, Costa Rica, Tunisia dan Uruguay.

Ibukota Uruguay yaitu Montevideo misalnya, kini meiliki daya tarik tersendiri bagi eksekutif dunia untuk berkantor karena perbedaan waktu dengan New York yang hanya 1 atau 2 jam (tergantung daylight saving), dan perbedaan waktu dengan London hanya 3 atau 4 jam.

Orang yang berkantor di Montevideo bisa dengan mudah menyesuaikan irama kerjanya dengan pusat – pusat bisnis di Amerika atau Eropa. Selain faktor perbedaan waktu, daya tarik kota atau negara yang menjadi tujuan tempat tinggal dan bekerja baru adalah karena faktor Human Development Index (HDI), infrastruktur, perpajakan, perijinan dan berbagai peraturan yang memudahkan.

Berpindah dari pusat-pusat bisnis dunia menuju tempat-tempat tinggal dan bekerja yang lebih disukai ini kini menjadi lifestyle baru yang eksotis yang sering menjadi impian banyak pekerja. Dalam tataran lokal, sebenarnya kita juga bisa membangun lifestyle seperti ini sambil mengatasi berbagi persoalan kota besar yang tidak kunjung bisa diselesaikan.

Apa enaknya sih misalnya bekerja di Jakarta dengan membuang 3 sampai 4 jam setiap hari di jalan, dengan biaya hidup yang mahal, banjir dan kemacetan belum nampak bisa diatasi, keamanan yang tidak terjamin, pencemaran udara dan airnya konon membuat begitu banyak anak terlahir autis ?

Tetapi Jakarta tetap menjadi tujuan utama anak-anak muda dari seluruh negeri yang telah menyelesaikan pendidikannya, Jakarta menjadi tumpuan harapan ketika di kampung tidak ada tempat kerja yang bergengsi. Disinilah masalahnya, orang mementingkan gengsi, citra atau gaya hidup metropolitan – meskipun hidup di metropolitannya sengsara.

Karena salah satu faktor pendorong urbanisasi itu adalah lifestyle metropolitan yang dipamerkan melalui acara-acara televisi, dan juga para pekerja ibukota yang tampil parlente ketika pulang kampung di musim lebaran – maka lifestyle ini mestinya bisa dilawan pula dengan lifestyle.

Kaum pekerja kelas menengah sampai atas misalnya bisa menjadi pelopor gerakan yang saya sebut Deurbanization Lifestyle ini. Anda yang sudah mapan di Jakarta misalnya, kemungkinan Anda punya imaginasi untuk kerja dari kampung halaman Anda masing-masing, atau kerja dari kota yang memiliki kenangan tersendiri bagi Anda – kota tempat Anda bertemu pertama kali dengan calon ibunya anak-anak misalnya.

Di posisi Anda saat ini, semua itu mestinya kini menjadi mungkin. Dengan bantuan teknologi, Anda tidak harus bertemu dengan mitra bisnis atau mitra kerja Anda setiap saat. Bila toh dibutuhkan sekali waktu Anda dengan mudah bisa terbang satu dua jam ke Jakarta.

Bila orang-orang makmur seperti Anda pulang kampung, multiplier effect-nya insyaAllah akan sangat berarti. Pertama dengan income Jakarta yang Anda belanjakan di kota atau kampung halaman akan berdampak besar pada ekonomi masyarakat setempat.

Kedua, dengan pengetahuan dan pengalaman Anda – Anda bisa menjadi katalisator pembangunan ekonomi di daerah-daerah. Dan ketiga, bila hal ini dilakukan rame-rame menjadi lifestyle baru yang diidamkan oleh para pekerja – maka perkembangan ekonomi Indonesia akan terdorong untuk menyebar ke seluruh penjuru negeri.

Lantas bagaimana memulainya ? beberapa jenis pekerjaan lebih memungkinkan dari yang lain. Tingkat manager ke atas yang umumnya bekerja berdasarkan target KPI (Key Performace Indicators) tertentu akan lebih mudah untuk mulainya, karena kinerja mereka bukan berdasarkan kehadiran fisik tetapi berdasarkan hasil.

Pekerjaan-pekerjaan seperti programmer, penulis (seperti yang saya lakukan !), accountant, data processing, back office administration dlsb. yang tidak secara langsung berhubungan dengan customer-nya day to day, juga lebih memungkinkan untuk membangun Deurbanization Lifestyle ini.

Selain faktor pekerjaan individu, pemerintah-pemerintah daerah di era otonomi daerah ini juga bisa menarik para putra daerah sukses untuk balik ke daerah dan ikut berperan memajukan daerahnya. Pemerintah setempat bisa memberi insentif daya tarik tertentu seperti mempermudah urusan perpajakan dan perijinan, perbaikan infrastruktur dlsb.

Wacana memindahkan ibukota yang sudah mulai dibicarakan sejak era Presiden Soekarno, entah kapan akan bener-bener bisa direalisir. Sementara itu ibukota kini sudah tidak lagi nyaman untuk tempat bekerja apalagi untuk tempat tinggal - lantas mengapa tidak sebagian kita mengejar mimpi kita untuk hidup, bekerja dan tinggal di kota-kota yang eksotis bagi diri kita masing-masing ? Wa Allahu A’lam.

Kategori : Entrepreneurship Published on Tuesday, 29 January 2013 06:51 Oleh : owner gerai dinar