Indahnya
ilmu itu adalah bila dia dibagi, dia tidak berkurang tetapi malah
bertambah. Itulah yang terjadi di situs ini, awalnya saya menulis
sedikit tentang kebun. Kemudian para pembaca situs ini yang tahu lebih
banyak menambahinya dengan ilmu-ilmu mereka. Ada yang menambahinya dari
sisi perkebunan, science dan juga banyak yang menambahinya dengan Al-Qur’an. Maka pools of knowledge yang menggelinding seperti bola salju itu insyaAllah cukup untuk membuat grand design sebuah kebun yang tidak biasa, yaitu kebun yang berbasis Al-Qur’an. Apa isinya ?
Web ini berisi kumpulan artikel peluang dan risiko berbagai bisnis atau usaha yang ingin Anda coba.
Tampilkan postingan dengan label koin emas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label koin emas. Tampilkan semua postingan
Jumat, 24 Mei 2013
Kebunku Kebun Al-Qur’an…
Label:
baju anak,
dinar,
dinar emas,
ekonomi islam,
emas,
emas batangan,
emas lantakan,
gapura dinar,
gerai dinar,
hati,
investasi,
Islam,
koin emas,
malang,
peluang,
peluang usaha,
resiko,
resiko usaha,
surabaya
Sabtu, 04 Mei 2013
Antara Marocco, California dan Jonggol…
2000 Years Food Forest - Marocco
Label:
baju anak,
dinar,
dinar emas,
ekonomi islam,
emas,
emas batangan,
emas lantakan,
gapura dinar,
gerai dinar,
hati,
investasi,
Islam,
koin emas,
koin emas dinar,
malang,
peluang,
peluang usaha,
resiko usaha,
surabaya
Ancaman (Peluang ?) Dari Negeri-Negeri Jiran…
Sepuluh
tahun lalu (2003) para pemimpin negara-negara ASEAN menyepakati bahwa
10 negara dalam kawasan ini harus membentuk suatu kesatuan ekonomi yang
disebut ASEAN Economic Community (AEC), target
waktu yang ditetapkan saat itu adalah tahun 2020. Empat tahun kemudian
(2007), para pemimpin-pemimpin negeri tersebut sepakat untuk mempercepat
realisasi AEC ini menjadi tahun 2015. Dua tahun dari sekarang kita akan
berada dalam satu kesatuan pasar dan kesatuan basis produksi tunggal
ASEAN yang ukurannya sekitar 600 juta orang penduduk. Sayangnya
mayoritas kita tidak sadar ancaman atau peluang kah yang sudah ada di
depan mata itu !
Label:
baju anak,
dinar,
dinar emas,
ekonomi islam,
emas,
emas batangan,
emas lantakan,
gapura dinar,
gerai dinar,
hati,
investasi,
Islam,
koin emas,
koin emas dinar,
malang,
peluang usaha,
resiko usaha,
surabaya
Kamis, 25 April 2013
Kurma Untuk Pengentasan Kemiskinan…
Menurut pengakuan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin di Republika bulan lalu (04/03/2013), penurunan angka kemiskinan di Indonesia berjalan sangat lambat. “Sangat lambat. Salah satu penyebabnya karena tidak fokus dalam penanganannya”
ungkap beliau di media tersebut. Data kemiskinan terakhir (September
2012) menunjukkan angka resmi kemiskinan ini masih berada di 28.59 juta
orang atau 11.66% dari penduduk Indonesia. Menurut saya, salah satu
penyebab lestarinya kemiskinan ini adalah karena kita salah makan !
Label:
baju anak,
dinar,
dinar emas,
ekonomi islam,
emas,
emas batangan,
emas lantakan,
gapura dinar,
gerai dinar,
hati,
investasi,
Islam,
koin emas,
koin emas dinar,
malang,
peluang,
peluang usaha,
resiko,
surabaya,
usaha
Lean Startup : Mulai Usaha Dengan Resiko Rendah…
Entrepreneur
itu bisa belajar dari siapa saja, bahkan bisa belajar dari seorang
petinju seperti Mike Tyson sekalipun. Melalui ucapannya yang terkenal “semua
orang bisa ber-strategi, tetapi ketika pukulan lawan mengenai muka Anda
– baru Anda tahu apakah strategi Anda bekerja atau tidak” – dia
memberi pelajaran bagi para (calon) entrepreneur bahwa strategi saja
tidak cukup. Karena realita ini pulalah kini mulai terjadi perubahan
pendekatan dalam memulai usaha, dari yang beresiko tinggi ke arah yang
beresiko relatif lebih rendah.
Label:
baju anak,
dinar,
dinar emas,
ekonomi islam,
emas,
emas batangan,
emas lantakan,
gapura dinar,
gerai dinar,
hati,
investasi,
Islam,
koin emas,
koin emas dinar,
malang,
peluang,
peluang usaha,
resiko,
surabaya,
usaha
Memakmurkan Bumi Dengan Surat Yaasiin…
Di
antara surat-surat panjang yang paling banyak dihafal di pesantren
sampai kini adalah surat Yaasiin. Ini antara lain karena Pak Kyai suka
bercerita bahwa yang membacanya siang dan malam untuk mencari
keridlaanNya akan diampuni dosanya. Bahkan bila yang membacanya sedang
takut dia akan aman, bila sedang sakit dia akan sembuh, bila sedang
lapar maka dia akan kenyang. Ternyata Pak Kyai benar, bila sebagian saja
ayat-ayat di surat Yaasiin itu didalami dan diimplementasikan – bumi
akan dapat benar-benar makmur berkesinambungan.
Label:
baju anak,
dinar,
dinar emas,
ekonomi islam,
emas,
emas batangan,
emas lantakan,
gapura dinar,
gerai dinar,
hati,
investasi,
Islam,
koin emas,
koin emas dinar,
malang,
peluang,
peluang usaha,
resiko,
surabaya,
usaha
Senin, 22 April 2013
Jalan (Tidak) Menyempit Di Ujung Cakrawala…
Label:
baju anak,
dinar,
dinar emas,
ekonomi islam,
emas,
emas batangan,
emas lantakan,
gapura dinar,
gerai dinar,
hati,
investasi,
Islam,
koin emas,
koin emas dinar,
malang,
peluang,
peluang usaha,
resiko,
surabaya,
usaha
Food, Energy & Water Dari Kurma…
Sejak
kami menggali potensi kurma untuk solusi pangan dan pencegahan
kelaparan dunia beberapa bulan lalu, begitu banyak sumber yang saling
menguatkan satu dengan yang lainnya – hingga tidak akan cukup bila saya
tulis semuanya di sini. Maka beberapa poin yang penting untuk diketahui
masyarakat umum akan saya tulis lebih dahulu. Setelah tulisan sebelumnya
tentang Menjadikan PetunjukNya Sebagai Panglima ,
tulisan kali ini adalah tentang bagaimana kurma bisa memberi solusi
bukan hanya terhadap masalah pangan tetapi solusi pada tiga kebutuhan
pokok bagi manusia sekaligus yaitu Food, Energy & Water (FEW).
Label:
baju anak,
dinar,
dinar emas,
ekonomi islam,
emas,
emas batangan,
emas lantakan,
gapura dinar,
gerai dinar,
hati,
investasi,
Islam,
koin emas,
koin emas dinar,
malang,
peluang,
peluang usaha,
resiko,
surabaya,
usaha
Menjadikan PetunjukNya Sebagai Panglima…
Situs resmi United Nation World Food Programme mengungkapkan
bahwa resiko kesehatan terbesar di dunia saat ini adalah resiko
kelaparan. Kelaparan menimbulkan lebih banyak kematian dibandingkan
dengan jumlah kematian gabungan yang ditimbulkan oleh penyakit AIDS,
Malaria dan TBC sekaligus. Bahwasanya masih begitu banyak jumlah orang
yang kelaparan di abad modern ini, barangkali ini karena dunia baru
mengandalkan ilmu, teknologi , system ekonomi, sosial dan politik buatan
manusia yang penuh kelemahan dan kepentingan itu sebagai panglima –
dunia belum menggunakan petunjukNya sebagai panglima untuk menyelesaikan
masalah yang sangat serius seperti urusan pangan ini.
Label:
baju anak,
dinar,
dinar emas,
ekonomi islam,
emas,
emas batangan,
emas lantakan,
gapura dinar,
gerai dinar,
hati,
investasi,
Islam,
koin emas,
koin emas dinar,
malang,
peluang,
peluang usaha,
resiko,
surabaya,
usaha
Selasa, 16 April 2013
‘Wag The Dog’ Harga Emas…
Ada Joke yang dimulai dengan pertanyaan : ‘mengapa anjing suka mengibaskan ekornya ?’, jawabannya adalah ‘karena anjing lebih cerdas dari ekornya’.
Kalau saja si ekor lebih cerdas dari anjingnya maka bisa jadi si
ekorlah yang mengibaskan anjing – bukan sebaliknya. Perandaian ini yang
kemudian dalam bahasa Inggris memunculkan idiom ‘Wag the Dog’ – si ekor yang mengibaskan anjingnya. Fenomena penurunan harga sangat tajam yang terjadi di pasar emas global dalam beberapa hari terakhir adalah fenomena yang mirip dengan ‘Wag the Dog’ ini
Label:
baju anak,
dinar,
dinar emas,
ekonomi islam,
emas,
emas batangan,
emas lantakan,
gapura dinar,
gerai dinar,
hati,
investasi,
Islam,
koin emas,
koin emas dinar,
malang,
peluang,
peluang usaha,
resiko,
surabaya,
usaha
Harga Emas Dalam Perspektif Jangka Panjang…
Semalam
harga emas turun tajam – paling tajam sejak saya mulai mengamati
langsung pergerakan harga emas dunia lima tahun terakhir. Dalam situasi
seperti ini, pasti banyak pertanyaan dari masyarakat pengguna emas atau
Dinar. Ada apa sebenarnya ?, apa yang harus dilakukan ? kemana arah
selanjutnya ? dlsb. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan lebih mudah
dijawab bila kita lihat harga emas ini dalam perpektif jangka panjang
dan dalam perspektif ekonomi yang lebih luas.
Label:
baju anak,
dinar,
dinar emas,
ekonomi islam,
emas,
emas batangan,
emas lantakan,
gapura dinar,
gerai dinar,
hati,
investasi,
Islam,
koin emas,
koin emas dinar,
malang,
peluang,
peluang usaha,
resiko,
surabaya,
usaha
Land Grabs : Perburuan Lahan Pertanian Global…
Krisis
pangan sepanjang 2007-2008 telah melonjakkan indikator harga pangan
dunia (FAO Food Price Index) dari kisaran angka 130-an ke angka di atas
200-an hingga kini. Bukan hanya masalah harga, ketika krisis itu terjadi
negara-negara produsen mengerem ekspornya sehingga membuat panik
negara-negara yang bahan pangannya mengandalkan produk impor. Kepanikan
inilah yang kemudian memicu perburuan lahan pertanian secara global atau
yang disebut land grabs.
Label:
baju anak,
dinar,
dinar emas,
ekonomi islam,
emas,
emas batangan,
emas lantakan,
gapura dinar,
gerai dinar,
hati,
investasi,
Islam,
koin emas,
koin emas dinar,
malang,
peluang,
peluang usaha,
resiko,
surabaya,
usaha
Agar Ayam Tidak Mati Di Lumbung Padi…
Amartya Kumar Sen adalah ekonom India yang memperoleh hadiah Nobel ekonomi pada tahun 1998. Dia
terkenal akan pemikiran-pemikirannya yang terkait dengan penyebab
kelaparan di dunia. Menurutnya kelaparan bukanlah disebabkan oleh
kelangkaan pangan, kelaparan bisa terjadi bahkan pada saat panenan bagus. Jadi apa penyebab utama kelaparan ?
Label:
baju anak,
dinar,
dinar emas,
ekonomi islam,
emas,
emas batangan,
emas lantakan,
gapura dinar,
gerai dinar,
hati,
investasi,
Islam,
koin emas,
koin emas dinar,
malang,
peluang,
peluang usaha,
resiko,
surabaya,
usaha
Selasa, 09 April 2013
Peluang Pangan Dari Yang Merambat…
Seiring dengan berlipatnya penghuni bumi, lahan-lahan pertanian produktif tergerus habis oleh pembangunan perumahan,
infrastruktur dan pabrik-pabrik. Lantas bagaimana penduduk bumi yang
terus bertambah banyak bisa disuply makanannya dari lahan yang semakin
sempit ?. Ilmuwan modern kemudian mulai berfikir dengan apa yang
disebut vertical farming, konon ini bisa menghemat lahan. Tetapi vertical farming memiliki permasalahannya sendiri !
Label:
baju anak,
dinar,
dinar emas,
ekonomi islam,
emas,
emas batangan,
emas lantakan,
gapura dinar,
gerai dinar,
hati,
investasi,
Islam,
koin emas,
koin emas dinar,
malang,
peluang,
peluang usaha,
resiko,
surabaya,
usaha
Buah Kelengkeng Yang Tidak Sempat Matang…
Saya
ada menanam empat pohon kelengkeng di halaman Bazaar Madinah, setiap
musim buah – layaknya pohon buah lainnya – pohon kelengkeng tersebut
juga selalu berbuah. Tetapi sampai sekarang saya belum sempat sekalipun
merasakan buahnya, mungkin juga orang lain. Pohon kelengkeng yang
ditanam di tempat umum demikian, buahnya tidak sempat matang – karena
selalu keburu dipetik orang sebelum dia matang. Ini menjelaskan fenomena
ekonomi yang disebut tragedy of the commons.
Label:
baju anak,
dinar,
dinar emas,
ekonomi islam,
emas,
emas batangan,
emas lantakan,
gapura dinar,
gerai dinar,
hati,
investasi,
Islam,
koin emas,
koin emas dinar,
malang,
peluang,
peluang usaha,
resiko,
surabaya,
usaha
Rabu, 03 April 2013
Solusi Trilemma Ekonomi Modern…
Kita tentu familiar dengan ungkapan dilemma buah simalakama “Dimakan bapak mati, tidak dimakan ibu yang mati…”.
Ekonomi modern kini memiliki komplikasi yang lebih rumit dari sekedar
dilemma simalakama, setidaknya sudah menjadi trilemma simalakama “dimakan bapak dan anak mati, tidak dimakan ibu dan bapak mati, tindakan lainnya (dijual ?) ibu dan anak mati…”. Lantas diapakan seharusnya ekonomi modern ini agar tidak ada yang mati ?
Label:
baju anak,
dinar,
dinar emas,
ekonomi islam,
emas,
emas batangan,
emas lantakan,
gapura dinar,
gerai dinar,
hati,
investasi,
Islam,
koin emas,
malang,
peluang,
peluang usaha,
resiko,
resiko usaha,
surabaya
Burung Kecil Yang Memadamkan Api…
Di
kalangan suku Aztec Meksiko mereka memiliki cerita rakyat bahwa dahulu
kala terjadi kebakaran besar di hutan mereka. Semua makhluk yang ada di
hutan itu lari menyelamatkan diri, kecuali sekelompok burung-burung
kecil yang berterbangan mengambil air dalam paruhnya untuk memadamkan
api yang sangat besar. Melihat apa yang dilakukan burung-burung kecil
ini, burung-burung yang lebih besar mendatanginya sambil bertanya : “Apa yang sedang kalian lakukan ?”
Label:
dinar,
dinar emas,
ekonomi islam,
emas,
emas batangan,
emas lantakan,
gapura dinar,
gerai dinar,
hati,
investasi,
Islam,
koin emas,
koin emas dinar,
malang,
peluang,
peluang usaha,
resiko,
resiko usaha,
surabaya
Selasa, 26 Maret 2013
Golongan Kanan Yang Memberi Makan …
Di situs resminya Food and Agricultural Organization (FAO),
ada dimuat sebuah dokumen yang berjudul “Feeding The World” – memberi
makan bagi dunia. Yang menarik dalam dokumen tersebut terungkap bahwa,
bila produksi makanan di seluruh dunia didistribusikan merata – maka
setiap orang di dunia akan mendapatkan jatah 5,359 kcal/ hari. Padahal kebutuhan calorie rata-rata menurut UK Health Department misalnya
bagi wanita hanya 1,940 kcal/hari dan 2,550 kcal/hari untuk pria. Jadi
produksi makanan di dunia sebenarnya cukup untuk memberi makan lebih
dari dua kali penduduk dunia saat ini !
Label:
dinar,
dinar emas,
ekonomi islam,
emas,
emas batangan,
emas lantakan,
gapura dinar,
gerai dinar,
hati,
investasi,
Islam,
koin emas,
koin emas dinar,
malang,
peluang,
peluang usaha,
resiko,
resiko usaha,
surabaya,
usaha
Senin, 25 Maret 2013
Mengelola Yang Cukup…
Ketika
Thomas Malthus mengeluarkan teorinya (1798) bahwa populasi dunia tumbuh
secara deret ukur (1,2,4, 8 dst…) sedangkan sumber daya kehidupan
tumbuh secara deret hitung (1,2,3,4 dst…), saat itu penduduk dunia belum
mencapai 1 Milyar. Gara-gara teori tersebut, timbul pemikiran yang
ganjil dari Thomas Malthus ini – bahwa tidak ada gunanya mengentaskan
kemiskinan – karena bila si miskin tambah makmur, dia akan menambah anak
dan problem kekurangan sumber daya kehidupan akan semakin serius.
Pemikiran
Thomas Malthus yang ganjil tersebut kemudian menjadi justifikasi bagi
Karl Marx, Lenin dan teman-temannya – untuk menentang kapitalisme.
Menurut mereka ini justru itu perlunya sumber daya-sumber daya kehidupan
yang terbatas tersebut untuk dibagi sama rata dan sama rasa agar cukup
bagi semua.
Separuh
saja dari teorinya Thomas Malthus yang mendekati kebenaran , yaitu
bahwa penduduk bumi tumbuh secara deret ukur. Dua tahun setelah teori
tersebut penduduk bumi mencapai 1 Milyar pertama (1800), ini adalah
hampir 12,000 tahun sejak peradaban manusia mengenal pertanian menetap.
Sejak saat itu jumlah penduduk bumi melesat dengan cepat seiring dengan
peningkatan kemakmurannya.
130
tahun kemudian penduduk bumi mencapai 2 milyar (1930), 30 tahun
kemudian mencapai 3 milyar (1960), 15 tahun kemudian mencapai 4 milyar
(1975), 12 tahun kemudian mencapai 5 milyar (1987), 12 tahun kemudian mencapai 6 milyar (1999) dan 12 tahun kemudian mencapai 7 milyar (2011). Lihat kelipatan ini, 12,000 tahun untuk
mencapai jumlah 1 milyar dan hanya perlu sekitar 200 tahun kemudian
untuk mencapai 7 Milyar !. Dengan pertumbuhan seperti ini penduduk bumi
akan mencapai 8 Milyar sebelum tahun 2023 !.
Sisi
pertumbuhan populasi bumi secara deret ukur tersebut nampaknya akan
terbukti tetapi sisi sumber daya kehidupan ternyata juga tetap cukup
untuk menopang kehidupan penduduk bumi yang kini sudah lebih dari 7
Milyar dan akan segera mencapai 8 milyar ini. Artinya sisi lain teori
Thomas Malthus bahwa penopang kehidupan yang tumbuh secara deret hitung
terbukti tidak benar, penduduk bumi secara kumulatif ternyata tidak
berkurang kemakmurannya kini dibandingkan dengan ketika teori Malthus
tersebut dikeluarkan lebih dari dua abad lalu - ketika penduduk bumi belum mencapai 1 Milyar pertamanya.
Tetapi
kecukupan penopang kehidupan bukan berarti tanpa masalah. Dengan pola
ekonomi yang dikendalikan kapitalisme sekarang, rata-rata penduduk
negara maju seperti Amerika menyerap sumber daya
kehidupan di bumi 32 kali lebih banyak dari yang diserap rata-rata
penduduk negeri miskin seperti Kenya misalnya . Sumber daya kehidupan
yang disedot mereka ini meliputi pangan, air, energy, mineral, hasil
tambang dlsb.
Jadi
masalahnya jelas, bukan sumber daya kehidupan di bumi yang tumbuh
secara deret hitung sehingga tidak bisa mengejar pertumbuhan populasi
yang tumbuh secara deret ukur – tetapi lebih pada masalah distribusi
sumber daya tersebut yang tidak dilakukan secara adil.
Berbagai
system mulai dari keuangan, perdagangan, standar industri, teknologi
dlsb. diciptakan untuk mengunggulkan segelintir orang atau kelompok
terhadap mayoritas penduduk bumi. Negeri-negeri yang memiliki sumber
daya alam melimpah, tidak jaminan bahwa mereka yang paling makmur dan
paling cepat pertumbuhannya – mereka justru menjadi target penjajahan
jenis baru – penjajahan ekonomi, keuangan, politik dan pemikiran.
Lantas
apakah yang benar Marxism dan Leininism yang membagi sumber daya
kehidupan yang terbatas secara sama rasa dan sama rata ?, tidak juga !
Karena pembagian yang demikian juga tidak mendorong orang untuk
berkinerja optimal meng-eksplorasi kekayaan alam di bumi ini.
Maka
solusinya tinggal umat ini yang seharusnya bisa menghadirkan kemakmuran
di bumi itu. Umat inilah yang dikabarkan oleh hadits Nabi berikut yang
akan memakmurkan bumi sekali lagi sebelum kiamat datang di bumi ini :
" Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnya tetapi
dia idak mendapatkan seorangpun yang bersedia menerima zakatnya itu.
Dan sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan
padang-padang rumput dan sungai-sungai " (HR. Muslim).
Kita
bisa optimis bahwa kemakmuran di bumi masih akan datang sekali lagi –
berapapun jumlah penduduk bumi saat itu, karena selain hadits tersebut
di atas juga adanya janji Allah langsung di sejumlah ayat yang bunyinya
senada :
“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.” (QS 15 :21).
Allah
tidak mungkin menciptakan sesuatu yang tidak seimbang seperti ketidak
seimbangan antara jumlah penduduk bumi dengan sumber daya kehidupannya –
yang diteorikan oleh Thomas Malthus tersebut di atas :
“Yang
telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak
melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak
seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ?” (QS 67 :3)
Bahwa
belum semuanya sumber daya kehidupan tersebut kita temukan dan kita
kuasai saat ini, karena ke-Maha Tahu-an Allah juga – yang tidak
menghendaki kita berlebih-lebihan dalam menggunakannya :
“Dan
jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka
akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang
dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui
(keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (42:27)
Jadi
sumber daya di bumi itu cukup untuk semuanya, tidak berlebih dan tidak
kurang - tetapi harus terus digali dan dikelola secara adil. Untuk bisa
terus menggali dan mengelola sumber daya yang ada di bumi ini secara
adil itulah kita diciptakan oleh Allah sebagai khalifahNya – yang
memakmurkan bumi ini (QS 11 :61).
Bila
kapitalism itu memperebutkan sesuatu yang dianggapnya sedikit atau
terbatas (scarcity), Marxism membagi yang sedikit itu sama rata sama
rasa dan berharap cukup dengan yang sedikit itu. Kita bukan keduanya,
kita yakin bahwa sumber-sumber kehidupan itu cukup, hanya perlu terus
digali dan dikelola secara adil mengikuti petunjuk-petunjukNya.
InsyaAllah.
- Details
- Kategori : Ekonomi Makro
- Published on Monday, 25 March 2013 06:23
- Oleh : owner gerai dinar
Label:
dinar,
dinar emas,
ekonomi islam,
emas,
emas batangan,
emas lantakan,
gapura dinar,
gerai dinar,
hati,
investasi,
Islam,
koin emas,
koin emas dinar,
malang,
peluang,
peluang usaha,
resiko,
resiko usaha,
surabaya,
usaha
Solusi Benang Merah…
Seorang
yang konon genius serba bisa yang dikenal dengan nama Leonardo Da Vinci
– pelukis, penulis, ahli matematika, botani, dlsb – pernah berbagi
bagaimana dia menghasilkan karya-karyanya : “Berdiam diri
memperhatikan pola di alam, debu bekas pembakaran, awan di langit,
kerikil di pantai…bila dilihat secara cermat akan menghasilkan temuan
yang luar biasa…”. Dia lahir ketika Islam masih menguasai Eropa
dari Spanyol (1452), dia besar sampai meninggal di era puncak kejayaan
Kekhalifahan Turki Usmani (1519). Apakah ada hubungannya ?
Belum
tentu ada hubungannya, bisa saja hanya karena kebersamaan waktu. Tetapi
yang jelas memperhatikan apa yang ada di alam dan memikirkannya –
seperti yang dia ungkapkan tersebut – adalah bagian dari ajaran Agama
ini. Bahkan Allah menyebut orang yang berakal (Ulil Albaab) adalah orang
yang tidak berhenti mengingatNya sambil terus memikirkan penciptaan
langit dan bumi ketika dia berdiri, duduk sampai berbaring (tidur)
sekalipun.
“Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang
yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan
sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”” (QS 3 : 190-191)
Bagaimana
awan bisa menjadi inspirasi sebuah karya ?, bagaimana kerikil atau
pasir di laut menjadi awal sebuah karya ? ini semua tentu tidak berdiri
sendiri – harus dikaitkan dengan sejumlah hal lain yang ada di alam ini
atau masalah yang hendak kita pecahkan.
Dalam
bahasa kita ketika kita merangkai sejumlah hal yang semula secara
visual tidak saling terkait, menjadi sesuatu yang saling terkait satu
sama lain – kita menyebutnya merangkai atau menarik ‘Benang
Merah’. Kemampuan menarik ‘Benang Merah’ inilah yang dimiliki oleh
seorang Leonardo Da Vinci, dan seharusnya kita lebih baik bahkan dari
Leonardo Da Vinci karena kitab kita – petunjuk jalan kita, mengarahkan
kita untuk menjadi orang-orang yang berakal dengan tidak berhenti
mengingatNya sambil terus memikirkan yang di langit dan di bumi.
Karena
orang yang bisa menarik ‘Benang Merah’ (memikirkan) dari
kejadian-kejadian yang di bumi ini (bahkan juga di langit !) adalah
orang-orang yang berakal (cerdas) menurut definisi ayat tersebut di atas
– maka dari sinilah masalah-masalah akan bisa teratasi, produk-produk
baru nan kreatif bisa dihasilkan, kehidupan yang lebih baik di
masyarakat-pun bisa ditumbuhkan.
Saya beri contoh masalah yang masih fresh
di ingatan kita, yaitu masalah kelangkaan kedelai, kemahalan harga
daging, bawang merah-bawang putih dan kemudian cabe. Mengapa masalah
yang sangat mirip satu sama lain ini bergiliran muncul di tengah
masyarakat ? Karena solusi yang diterapkan pada setiap masalah tersebut
muncul adalah solusi kasuistis – solusi yang hanya mengatasi gejala
tetapi bukan mengatasi penyebab. Ibarat obat, hanya menghilangkan rasa
sakit sesaat tetapi tidak menyembuhkan penyakitnya sendiri.
Untuk bisa menyembuhkan penyakit yang sesungguhnya harus ditelusuri sampai beyond the symptoms
– lebih dari sekedar melihat gejalanya, tetapi melihat masalah sampai
ke akar-akarnya. Disitulah dibutuhkan kemampuan untuk menarik ‘Benang
Merah’ dari rangkaian kejadian-kejadian atau masalah-masalah tersebut di
atas.
Lantas
apa ‘Benang Merah’ antara masalah kedelai – daging – bawang dan cabe ?,
karena ‘Benang Merah’ ini adalah sesuatu yang imaginer – bukan sesuatu
yang riil – maka masing-masing orang akan memiliki ‘Benang Merah’-nya
sendiri sesuai dengan keilmuan, latar belakang lingkungan, pengalaman
dlsb.
Karena
variasi ‘Benang Merah’ ini, maka solusi dari setiap masalah juga lebih
dari satu. Dari sekian banyak solusi tersebut tentu ada yang efektif dan
ada yang kurang atau tidak efektif, tetapi solusi tersebut pasti ada !
Lho kok berani memastikan solusi tersebut pasti ada ?
Diperlukan
‘Benang Merah’ lain lagi untuk memahami bahwa solusi itu pasti ada,
‘Benang Merah’ yang ini adalah ‘Benang Merah’ petunjuk. Coba sekarang
kita menarik ‘Benang Merah’ imaginer antara hadits ini : “Aku
telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama
berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.”
(HR. Malik, Al-Hakim, Al-Baihaqi) dengan ayat :
“…Maka
jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti
petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan
barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya
penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari
Kiamat dalam keadaan buta. (Q.S Thaha: 123 - 124). Juga dengan ayat :
“…
Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan
baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya… Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya
Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS Ath Thalaaq: 2-4)
Jadi
apa ‘Benang Merah’ yang bisa kita rangkai dari hadits dan ayat-ayat
tersebut di atas ? Bila ditarik dari salah satu ujungnya – yaitu masalah
yang kita hadapi seperti kedelai, daging, bawang dan cabe tersebut
misalnya. Maka rangkain ‘Benang Merah’ solusi itu akan sebagai berikut :
Solusi Benang Merah
Atau bila diringkas/diperpendek ‘Benang
Merah’ itu adalah kita menghadapi segala masalah seperti sekarang ini
(kedelai, daging, bawang dan cabe misalnya) – karena kita tidak
melaksanakan tugas yang diberikanNya untuk kita yaitu memakmurkan bumi.
Maka bila tugas itu kita laksanakan dengan mengikuti segala petunjukNya –
segala masalah itu insyaAllah akan teratasi.
Solusi masalah-masalah kita bukan ada di Australia, New Zealand, Laos, Myanmar atau negara-negara lain.
Solusi itu ada di depan mata kita, ada di sekitar kita, hanya
diperlukan kemampuan kita untuk menarik ‘Benang Merah’ antara berbagai
hal yang selama ini mungkin masih kita abaikan. ‘Benang Merah’ yang sama
insyaAllah juga bisa kita gunakan untuk mengatasi problem-problem
pribadi kita dan menggali peluang usaha yang bisa dilahirkan dari
jawaban atas masalah-masalah di sekitar kita. InsyaAllah.
- Details
- Kategori : Entrepreneurship
- Published on Sunday, 24 March 2013 08:18
- Oleh : Owner Gerai Dinar
Label:
dinar,
dinar emas,
ekonomi islam,
emas,
emas batangan,
emas lantakan,
gapura dinar,
gerai dinar,
hati,
investasi,
Islam,
koin emas,
koin emas dinar,
malang,
peluang,
peluang usaha,
resiko,
resiko usaha,
surabaya
Langganan:
Postingan (Atom)