Laman

Senin, 11 Februari 2013

Kembalinya Timbangan Yang Hilang…

Bila tahun 2010 Anda memiliki uang sebesar Rp 6,518,- Anda sudah bisa membeli 1 kg beras kwalitas rata-rata. Dua tahun kemudian 2012, uang yang sama bila Anda belikan beras tinggal memperoleh 0.86 kg. Tahun 2012 Anda perlu uang sebesar Rp 7,550,- untuk bisa membeli 1 kg beras kwalitas rata-rata. Begitu banyak kita diingatkan untuk menegakkan timbangan, tetapi justru instrumen perdagangan utama manusia modern yaitu uang kertas secara amat gamblang dan terus menerus mengurangi timbangan itu.

Takaran dan timbangan yang paling banyak digunakan untuk jual beli manusia modern bukan untuk menakar volume atau menimbang berat, tetapi untuk menentukan nilai. Lantas bagaimana bila penentu nilai itu sendiri berubah-ubah nilai atau daya belinya dari waktu ke waktu, tidak ada standar yang sama di antara satu negeri dengan negeri lainnya ?.

Jawabannya adalah seperti menakar dengan takaran yang volumenya terus mengecil, seperti menimbang dengan anak timbangan yang terus bertambah ringan. Hasil yang bisa ditakar atau ditimbang menjadi semakin sedikit. Uang kertas kita adalah takaran yang volumenya mengecil atau timbangan yang anak timbangnya terus bertambah ringan tersebut.

Dampak yang lebih luas dari tidak adanya takaran atau timbangan yang baku adalah perdagangan di dunia modern seperti orang-orang yang berjalan di lorong gelap, hanya yang membawa lampu sendiri yang tahu sedang berjalan kemana – sementara mayoritas orang tidak tahu sedang ke arah mana dia berjalan.

Pemerintah-pemerintah dunia mungkin tahu apa yang sedang mereka lakukan, tetapi mayoritas rakyat tidak sadar atau  tidak tahu bahwa hasil jerih payah mereka bekerja bertahun-tahun –terus menyusut bila untuk menakar/menimbang (baca : membeli) barang-barang kebutuhan seperti dalam contoh beras tersebut di atas.

Bagaimana era kegelapan timbangan ini membuat manusia kehilangan arah dapat diilustrasikan dari kasus berikut :

Pada musim qurban 2010, harga seekor kambing super (sekitar 40 kg) harganya di kisaran Rp 1,700,000. Pada tahun 2012 kambing qurban dengan berat yang kurang lebih sama, harganya di kisaran Rp 2,500,000,-. Mana yang lebih mahal ? dari sisi angka Rupiah tentu tahun 2012 lebih mahal 47% dari harga tahun 2010.

Kita bandingkan lagi dengan harga kambing di Amerika pada tahun-tahun tersebut. Untuk kambing dengan berat yang kurang lebih sama, tahun 2010 harganya US$ 100,- dan tahun 2012 harganya di kisaran US$ 150,-. Harga kambing di Amerika dari tahun 2010 ke tahun 2012 mengalami kenaikan sedikit saja lebih tinggi dari harga kambing di kita yaitu di kisaran 50%.

Dengan timbangan Rupiah dan Dollar selain kita tidak tahu apakah  harga tahun 2012 benar-benar lebih tinggi dan seberapa besar lebih tingginya, kita juga tidak bisa langsung membandingkan mana yang lebih mahal harga kambing di Indonesia dalam Rupiah atau kambing di Amerika dalam Dollar.

Sekarang mari kita coba gunakan timbangan yang bersifat universal atau saya sebut universal unit of account berupa Dinar atau Point ( 1/10,000 Dinar atau 1 ¢¢ Dinar). Untuk memudahkan penggunaan Dinar atau Point ini, mulai hari ini Kalkulator Dinar saya pasang di www.geraidinar.com (kalau kesulitan mencarinya lihat di menu paling atas atau menu paling bawah) dan Kalkulator Point saya pasang di www.indobarter.com

Baik Kalkulator Dinar maupun Kalkulator Point dapat digunakan untuk menghitung konversi Dinar atau Point ke seluruh mata uang utama dunia atau sebaliknya dari seluruh mata uang utama dunia ke Dinar atau Point. Untuk US$ maupun Rupiah bahkan bisa untuk menghitung konversi Dinar atau Point ke mata uang dan sebaliknya, untuk waktu mundur sampai 1970.

Cara penggunaannya lihat pada ilustrasi disamping, pilih konversi yang ingin Anda lakukan misalnya karena saya mau mengkonversi harga kambing super  2010 sebesar Rp 1,700,000 ke Dinar, maka saya click radio button “Currency to Dinar”. Di Kotak putih saya ketikkan angka 1700000 (tanpa koma), currency saya set ke Rupiah dan tahun saya set ke 2010. Setelah saya click “Calculate” maka di screen menunjukkan angka Rp 1,700,000 yang setara dengan 1.0852 Dinar untuk tahun 2010. Inilah harga kambing super saat itu.

Dengan langkah yang sama saya ulangi untuk tahun  2012, maka harga kambing super Rp 2,500,000,- ternyata setara dengan 1.1357 Dinar. Sekarang kita bisa membandingkan dengan timbangan yang adil itu, harga kambing 2012 ternyata memang lebih mahal tetapi hanya naik sekitar 4.7 % dalam dua tahun.

Maknanya adalah dengan Dinar-pun harga kambing bisa naik, yaitu manakala demand melebihi supply. Ketika orang yang mampu membeli qurban kambing super lebih banyak dari pertambahan supply-nya – maka harganya memang akan naik. Tetapi kenaikan karena demand yang melebihi supply ini, dalam jangka panjang akan menuju kestabilan karena akan menarik bagi yang akan men-supply kambing qurban berikutnya.

Dengan mengetahui bahwa kenaikan harga kambing  riilnya hanya 4.7% selama dua tahun 2010 ke 2012, lantas mengapa dengan uang Rupiah naiknya sampai 47% ?. Itulah kenaikan karena inflasi harga kambing dalam Rupiah selama dua tahun terakhir.

Bila kita sederhanakan misalnya kenaikan harga itu hanya dipengaruhi oleh dua sebab yaitu faktor inflasi dan faktor supply and demand atau saya formulasikan KENAIKAN HARGA = F(Inflasi)*(1+ Kenaikan Karena Supply and Demand), maka 47% = F(Inflasi)* (1+4.7%). Dari ini kita akan ketemu bahwa inflasi Rupiah saja telah menaikkan harga kambing qurban kelas super sebesar  44.89% dalam dua tahun dari 2010 ke 2012.

Kalkulator yang sama bisa kita gunakan untuk menghitung kenaikan harga kambing dengan ukuran yang kurang lebih sama di negeri Paman Sam. Harga kambing US$ 100 pada tahun 2010 setara dengan 0.5814 Dinar, harga kambing US$ 150 pada tahun 2012 setara dengan 0.6383 Dinar. Jadi dalam Dinar kenaikan kambing di AS dari 2010 ke 2012 adalah 9.8%.

Karena dalam Dollar naiknya sampai 50 % ( dari US$ 100 ke US$ 150), maka sebenarnya kenaikan karena faktor inflasinya adalah 50% = F(Inflasi)*(1+9.8%). Jadi Faktor inflasi-nya saja mempengaruhi kenaikan harga kambing 45.54% di Amerika antara tahun 2010 ke 2012.

Setelah menggunakan timbangan yang sama, kita juga bisa mengetahui bahwa kambing qurban kelas super yang di Indonesia tahun lalu berharga 1.1357 Dinar jauh lebih tinggi dari kambing dengan berat yang kurang lebih sama di Amerika yang hanya 0.6383 Dinar. Apa penyebabnya ?, lagi-lagi antara lain ya karena supply and demand tadi, ongkos produksi dan lain sebagianya – tetapi bukan karena faktor inflasi, karena faktor inflasi dalam artian penurunan daya beli uang-nya sudah kita eliminir.

Lagi-lagi perhitungan di atas membuktikan akan adanya suatu alat tukar atau suatu timbangan yang stabil daya belinya sepanjang jaman. Bila di jaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam harga kambing qurban di kisaran 1 Dinar, setelah lebih dari 1,400 tahun perhitungan-perhitungan diatas menunjukkan 1 Dinar yang sama tetap dapat untuk membeli kambing kwalitas super sekarang.

Bandingkan dengan uang kertas dalam rentang 33 tahun terakhir saja misalnya, dari 1979 harga kambing kelas super yang wajar Rp 25,000-an – naik  100 kali menjadi Rp 2,500,000,- tahun 2012. Dengan pendekatan yang sama menggunakan Kalkulator Dinar di atas, kita bisa tahu bahwa tahun 1979 kambing super berharga 0.9259 Dinar sedangkan tahun 2012 seharga 1.1357 Dinar atau hanya mengalami kenaikan riil 22.65 % selama 33 tahun.

Bahwasannya dalam Rupiah pada rentang waktu 33 tahun itu harga kambing super naik menjadi 100 kalinya atau naik 9,900 % itu karena ada inflasi uang kertas sebesar 8,071.75% !.

Bagaimana dengan beras dalam awal tulisan ini yang saya jadikan sebagai contoh kasus ‘pengurangan timbangan’ yang kita hadapi sehari-hari dalam jual beli kita ?. Bisa juga kita timbang dengan Kalkulator Dinar yang sama, hanya saja karena satuan Dinar yang bernilai jauh lebih besar dibandingkan dengan nilai 1 kg beras, ini ibarat menimbang berat badan Anda dengan jembatan timbang yang biasa digunakan untuk menimbang truk. Bisa, tetapi menjadi kurang akurat.

Untuk bisa menimbang barang-barang yang nilainya kecil, timbangan Dinar tersebut perlu diperkecil sampai mendekati ukuran yang sesuai peruntukannya. Dalam hal ini Dinar saya pecah menjadi 1/10,000 Dinar atau 1 ¢¢ Dinar atau saya sebut 1 Point. Kalkulator yang sudah saya perkecil menjadi Kalkulator Point  inilah yang dapat dilihat di www.indobarter.com.


Rp 6,518 untuk 1 kg beras kwalitas rata-rata tahun 2010 adalah setara 42 Point, sedangkan Rp 7,550 untuk beras yang sama tahun 2012 adalah setara 34 Point. Jadi meskipun dalam Rupiah terjadi kenaikan harga sebesar 15.83 % dalam rentang waktu dua tahun antara 2010 ke 2012; harga beras riil dalam Point malah turun 19.05% dari 42 Point ke 34 Point.

Efek inflasi Rupiah terhadap harga beras 2 tahun terakhir menjadi 15.83% = F(Inflasi) * (1-19.05%), atau inflasi Rupiah membawa kenaikan harga beras sampai 19.56% dalam rentang waktu tersebut. Kenaikan karena inflasi ini sebagian ‘tersembunyikan’ oleh penurunan harga riilnya.

Dengan contoh-contoh perhitungan menggunakan Kalkulator Dinar maupun Kalkulator Point tersebut di atas, insyallah kita sekarang bisa menemukan kembali timbangan untuk jual-beli yang adil itu. Yang oleh Imam Ghazali sudah diingatkan hampir 1000 tahun lalu bahwa  ‘hanya emas dan perak-lah timbangan yang adil untuk penentu harga-harga itu’.

Timbangan yang adil adalah ibarat lampu yang menerangi jalan, kita bisa tahu arah yang benar apakah fitrah mekanisme pasar  supply and demand yang mempengaruhi harga-harga kita, atau karena faktor lain seperti utamanya inflasi ini. Bayangkan kalau kenaikan harga karena inflasi seperti harga beras 2010-2012 tersebut kita kira karena kelebihan demand terhadap supply, kita akan salah mengambil keputusan.

Karena penyebabnya inflasi bukan karena supply yang tidak mencukupi demand, maka yang harus diperbuat para pemimpin adalah mengendalikan inflasi ini jangan sampai terjadi – agar rakyat bisa tahu arah yang benar – berapa seharusnya tingkat produksi yang dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya.

Saya tahu mungkin tidak banyak yang akan mau menggunakan ‘lampu’ timbangan yang adil dalam bentuk Kalkulator Dinar dan Kalkulator Point ini, tetapi ibarat berjalan di lorong yang gelap – apapun yang bisa menerangi jalan seharusnya kita ambil dan gunakan. Wa Allahu A’lam.



Deurbanization Lifestyle…

Kota-kota besar yang menjadi pusat bisnis dan perdagangan dunia itu terus bergeser. Dari Roma, pindah ke Damaskus, pindah ke Konstantinopel yang kemudian berganti nama menjadi Istambul, kemudian pindah lagi ke Vinesia, pindah ke Antwerp, Pindah ke London dan kemudian New York. Awalnya perpindahan itu mengikuti pusat pergerakan barang, belakangan mengikuti pusat pergerakan uang. Kemana pusat bisnis dan perdagangan kemudian akan bergeser ?

Saat ini-pun sudah sulit untuk mengambil satu kota dunia yang menjadi pusat bisnis dan perdagangan itu. Apakah masih di New York ?, atau sudah bergeser ke Singapore , Hongkong, Beijing dlsb ?. Kini tidak ada lagi satu kota di dunia yang begitu dominan-nya menjadi pusat bisnis dan perdagangan.

Orang tidak lagi harus mengikuti pusat pergerakan barang ataupun pusat pergerakan uang. Teknologi informasi telah memungkinkan orang bisa tinggal dan hidup di mana dia mau, tanpa harus kehilangan jejak terhadap pergerakan barang dan pergerakan uang yaitu usaha dan perdagangan yang dia kendalikan.

Di luar dugaan kita semua, ternyata banyak eksekutuf dunia yang justru berkeinginan dan mulai tinggal dan mengendalikan usahanya dari negara-negara yang selama ini tidak terbayangkan oleh kita seperti Vietnam, Czech Republic, Bulgaria, Slovenia, Costa Rica, Tunisia dan Uruguay.

Ibukota Uruguay yaitu Montevideo misalnya, kini meiliki daya tarik tersendiri bagi eksekutif dunia untuk berkantor karena perbedaan waktu dengan New York yang hanya 1 atau 2 jam (tergantung daylight saving), dan perbedaan waktu dengan London hanya 3 atau 4 jam.

Orang yang berkantor di Montevideo bisa dengan mudah menyesuaikan irama kerjanya dengan pusat – pusat bisnis di Amerika atau Eropa. Selain faktor perbedaan waktu, daya tarik kota atau negara yang menjadi tujuan tempat tinggal dan bekerja baru adalah karena faktor Human Development Index (HDI), infrastruktur, perpajakan, perijinan dan berbagai peraturan yang memudahkan.

Berpindah dari pusat-pusat bisnis dunia menuju tempat-tempat tinggal dan bekerja yang lebih disukai ini kini menjadi lifestyle baru yang eksotis yang sering menjadi impian banyak pekerja. Dalam tataran lokal, sebenarnya kita juga bisa membangun lifestyle seperti ini sambil mengatasi berbagi persoalan kota besar yang tidak kunjung bisa diselesaikan.

Apa enaknya sih misalnya bekerja di Jakarta dengan membuang 3 sampai 4 jam setiap hari di jalan, dengan biaya hidup yang mahal, banjir dan kemacetan belum nampak bisa diatasi, keamanan yang tidak terjamin, pencemaran udara dan airnya konon membuat begitu banyak anak terlahir autis ?

Tetapi Jakarta tetap menjadi tujuan utama anak-anak muda dari seluruh negeri yang telah menyelesaikan pendidikannya, Jakarta menjadi tumpuan harapan ketika di kampung tidak ada tempat kerja yang bergengsi. Disinilah masalahnya, orang mementingkan gengsi, citra atau gaya hidup metropolitan – meskipun hidup di metropolitannya sengsara.

Karena salah satu faktor pendorong urbanisasi itu adalah lifestyle metropolitan yang dipamerkan melalui acara-acara televisi, dan juga para pekerja ibukota yang tampil parlente ketika pulang kampung di musim lebaran – maka lifestyle ini mestinya bisa dilawan pula dengan lifestyle.

Kaum pekerja kelas menengah sampai atas misalnya bisa menjadi pelopor gerakan yang saya sebut Deurbanization Lifestyle ini. Anda yang sudah mapan di Jakarta misalnya, kemungkinan Anda punya imaginasi untuk kerja dari kampung halaman Anda masing-masing, atau kerja dari kota yang memiliki kenangan tersendiri bagi Anda – kota tempat Anda bertemu pertama kali dengan calon ibunya anak-anak misalnya.

Di posisi Anda saat ini, semua itu mestinya kini menjadi mungkin. Dengan bantuan teknologi, Anda tidak harus bertemu dengan mitra bisnis atau mitra kerja Anda setiap saat. Bila toh dibutuhkan sekali waktu Anda dengan mudah bisa terbang satu dua jam ke Jakarta.

Bila orang-orang makmur seperti Anda pulang kampung, multiplier effect-nya insyaAllah akan sangat berarti. Pertama dengan income Jakarta yang Anda belanjakan di kota atau kampung halaman akan berdampak besar pada ekonomi masyarakat setempat.

Kedua, dengan pengetahuan dan pengalaman Anda – Anda bisa menjadi katalisator pembangunan ekonomi di daerah-daerah. Dan ketiga, bila hal ini dilakukan rame-rame menjadi lifestyle baru yang diidamkan oleh para pekerja – maka perkembangan ekonomi Indonesia akan terdorong untuk menyebar ke seluruh penjuru negeri.

Lantas bagaimana memulainya ? beberapa jenis pekerjaan lebih memungkinkan dari yang lain. Tingkat manager ke atas yang umumnya bekerja berdasarkan target KPI (Key Performace Indicators) tertentu akan lebih mudah untuk mulainya, karena kinerja mereka bukan berdasarkan kehadiran fisik tetapi berdasarkan hasil.

Pekerjaan-pekerjaan seperti programmer, penulis (seperti yang saya lakukan !), accountant, data processing, back office administration dlsb. yang tidak secara langsung berhubungan dengan customer-nya day to day, juga lebih memungkinkan untuk membangun Deurbanization Lifestyle ini.

Selain faktor pekerjaan individu, pemerintah-pemerintah daerah di era otonomi daerah ini juga bisa menarik para putra daerah sukses untuk balik ke daerah dan ikut berperan memajukan daerahnya. Pemerintah setempat bisa memberi insentif daya tarik tertentu seperti mempermudah urusan perpajakan dan perijinan, perbaikan infrastruktur dlsb.

Wacana memindahkan ibukota yang sudah mulai dibicarakan sejak era Presiden Soekarno, entah kapan akan bener-bener bisa direalisir. Sementara itu ibukota kini sudah tidak lagi nyaman untuk tempat bekerja apalagi untuk tempat tinggal - lantas mengapa tidak sebagian kita mengejar mimpi kita untuk hidup, bekerja dan tinggal di kota-kota yang eksotis bagi diri kita masing-masing ? Wa Allahu A’lam.

Kategori : Entrepreneurship Published on Tuesday, 29 January 2013 06:51 Oleh : owner gerai dinar

Selasa, 22 Januari 2013

Solusi Bukan Dari Negeri Dongeng…

Bagi yang tinggal atau bekerja di Jakarta, hari-hari ini sebagian sudah bisa bernafas lega karena kehidupan mulai bisa berjalan normal setelah sekitar sepekan dikacaukan oleh banjir. Sayangnya problem semacam ini nampaknya masih bisa terus berulang, karena konon banjir besar Jakarta bersiklus sekitar 5-6 tahunan seperti yang dialami tahun 2002, 2007 dan 2013 ini. Dengan segudang ahli dari berbagai bidang yang tumpleg bleg di Jakarta, haruskah banjir seperti ini terus berulang ?

Dari sisi keilmuan kok saya yakin sebenarnya semua tersedia di Jakarta, mulai dari ahli tata kota, ahli lingkungan, ahli bendungan, ahli meteorology, ahli pembiayaan dan sejumlah ahli-ahli lainnya yang diperlukan untuk mengatasi satu masalah besar yaitu banjir !. Tetapi mengapa kok tidak atau belum teratasi setelah sekian kali banjir besar berulang ?

Dugaan saya banjir musiman belum bisa diatasi karena pemerintah DKI Jakarta khususnya belum mengeksplorasi seluruh potensi yang ada di masyarakat untuk mengatasi masalah bersama ini. Pemerintah baru mengandalkan resources yang itu-itu saja, baik berupa intansi terkait maupun sumber pendanaannya yang mengandalkan APBD yang terbatas.

Bila masalah tidak kunjung teratasi dan makin lama makin tambah serius, artinya masalah itu berkembang melebihi kemampuan pihak terkait untuk mengatasinya. Atau dengan kata lain masalah tersebut lebih cerdas dari siapapun yang selama ini berusaha mengatasinya. Kita butuh solusi yang lebih cerdas yang belum terpikirkan dan tentu belum ditempuh sebelumnya.

Lantas bagaimana solusinya ? Di jaman teknologi ini sesungguhnya tidak terlalu sulit bagi pemda DKI untuk mencari solusi-solusi yang out of the box dalam mengatasi banjir - solusi yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Apa misalnya ?.

Salah satu contoh yang bisa dilakukan adalah membuat semacam sayembara atau bursa ide, semua ahli dari semua bidang diundang untuk menyampaikan ide solusinya. Kemudian team kecil yang terpilih me-review ide-ide tersebut untuk diambil yang paling efektif dan doable untuk mengatasi problem yang ada.

Ahli yang ide-nya dipakai sebagai solusi dilibatkan dalam implementasinya dan diberi reward yang pantas untuk itu.

Solusi semacam ini banyak kita jumpai dari cerita di negeri dongeng ketika raja memiliki problem besar yang tidak kunjung teratasi. Misalnya ketika raja atau keluarganya sakit dan tidak sembuh-sembuh, maka sayembaralah solusinya. Ketika raja kesulitan mencarikan jodoh untuk puterinya, sayembara pula solusinya. Dan berbagai sayembara lain yang dilakukan oleh ‘negeri dongeng’ untuk segala macam problem yang tidak mudah teratasi !.

Dari banyaknya cerita sayembara-sayembara yang dilakukan oleh negeri dongeng tersebut, ada pula sayembara yang dilakukan oleh raja di bukan negeri dongeng. Dari negeri yang ada sesungguhnya dalam cerita yang dijamin kebenarannya – yaitu cerita di Al-Quran.

Lihat misalnya cerita nabi Sulaiman yang men-‘sayembara’-kan siapa yang paling cepat bisa memindahkan istana ratu Balqis :

“Berkata Sulaiman: "Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri"”. (QS 27:38)

“Berkata 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya".” (QS 27:39)

“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia"”. (QS 27:40).

Pendekatan ‘sayembara’ oleh Nabi Sulaiman Alaihi Salam tersebut di atas adalah contoh eksplorasi sumber daya yang ada di kalangan masyarakatnya – meskipun dia sendiri sangat mampu mengatasi hal yang disayembarakan tersebut. Bayangkan kalau pak Jokowi mau menggunakan solusi banjir mengikuti petunjuk dalam kisah di Al-Qur’an ini, dampak yang di luar kebiasaan atau solusi yang bener-bener out of the box – insyaallah akan muncul. Lebih dari itu :

· Masyarakat Jakarta akan meningkat keimanannya karena solusi masalah yang selama ini tidak terselesaikan, menjadi terselesaikan karena pemimpinnya mau menggunakan petunjuk Ilahiah untuk mengatasi masalah yang ada.

· Para ahli yang ada di Jakarta mendapatkan kesempatan untuk mengamalkan ilmunya secara maksimal.

· Rakyat terlibat langsung dalam memberi solusi, rakyat bukan lagi seperti penonton sepak bola yang hanya bisa berkomentar tanpa bisa ikut main.

· Dlsb.

Kemudian setelah solusi ‘sayembara’ yang mengikuti petunjuk Al-Qur’an tersebut berhasil diimplementasikan untuk mengatasi masalah banjir di Jakarta, maka negeri ini akan dipenuhi sayembara-sayembara yang memakmurkan negeri.

· Ada sayembara untuk solusi swasembada pangan, energy dan air (FEW). · Ada sayembara untuk memilih pemimpin yang adil. · Ada sayembara untuk meng-efektifkan kurikulum pendidikan. · Ada sayembara untuk menurunkan biaya kesehatan. · Ada sayembara untuk memakmurkan rakyat melampau negeri-negeri jiran. · Dlsb. dlsb.

Maka Maha Benarlah FirmanNya yang antara lain menyebutkan bahwa Al-Qur’an itu adalah penjelasan atau jawaban atas segala sesuatu:

“…Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS 16:89)

Mudah-mudahan tulisan ini sampai ke Pak Jokowi atau bapak-bapak yang terkait di sana, sehingga tidak lama lagi kita bisa membaca pengumuman sayembara yang kurang lebih berbunyi : “….Barang siapa yang bisa menyelesaikan masalah banjir di Jakarta…..maka…..”. InsyaAllah !.

Kategori : Umum Published on Tuesday, 22 January 2013 07:23 Oleh : owner gerai dinar

Jumat, 18 Januari 2013

Barakah Bukan Musibah…

Artikel ini saya tulis di lapangan terbang karena untuk menghindari kemacetan akibat banjir, saya harus berangkat jauh lebih awal agar tidak ketinggalan pesawat. Hari-hari ini mayoritas penduduk Jakarta lagi berjuang mengatasi masalahnya sendiri-sendiri yang terkait dengan banjir ini. Tetapi benarkah kita harus melihat banjir ini hanya sebagai masalah ?, bisakah kita melihat ada peluang besar sekali yang tersembunyi di belakangnya ?.

Do’a yang diajarkan ke kita ketika melihat hujan adalah “Allahumma Shayyiban Naafi’an” atau terjemahan bebasnya “Ya Allah jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat”. Seolah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ingin mengabarkan bahwa ada hujan yang bermanfaat dan ada hujan yang tidak bermanfaat.

Hujan hari-hari ini di Jakarta nampaknya menjadi hujan jenis yang kedua, bisa jadi karena kita lalai bahwa hujan ini sebenarnya bisa menjadi hujan jenis pertama yaitu hujan yang bermanfaat.

Hujan jenis pertama ini juga kita jumpai dari sejumlah ayat antara lain : “Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam…” (QS 50:9) dan “Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS 51:22).

Pertanyaannya adalah lantas bagaimana kita bisa mengambil manfaatnya yang lebih besar dari hujan ini, ketimbang efek sampingnya berupa mudharat seperti banjir yang saat ini kita hadapi ?.

Pertama adalah merubah sikap dahulu, bahwa hujan itu adalah barakah dan melalui hujan inilah antara lain rezeki kita diturunkan dari langit. Yang kedua adalah kemudian mengelolanya dengan segala ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada di jaman ini agar yang seharusnya barakah sumber rezeki tersebut tidak malah menjadi musibah.

Bayangkan kalau Anda punya lahan yang luas dan subur, Apa yang Anda akan lakukan dengan lahan ini ? apakah membiarkannya ditumbuhi ilalang, dijarah orang dlsb sehingga Anda hanya sibuk mengeluarkan biaya untuk menjagainya tanpa memperoleh hasil dari lahan tersebut ?.

Atau di lahan negeri ini ada cadangan gas alam yang sangat besar, apakah kita biarkan menjadi letupan-letupan kebakaran di sana –sini atau kita mengelolanya sebagi sumber energi yang melimpah ?.

Makanan (Food), Energy dan Air (Water) atau disingkat FEW adalah tiga sumber pemenuhan kebutuhan pokok manusia yang teramat penting yang bahkan menjadi alasan-alasan perang sepanjang masa. Sumber –sumber FEW itu melimpah di negeri ini, masa kita persepsikan sebagai sumber musibah ?.

Bahwa ketiganya harus dikelola bersama, ini juga diajarkan oleh uswatun hasanah kita melalui sabdanya : “Orang-orang muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput, air dan api” (Sunan Abu Daud, no 3745).

Maka setelah kita menyikapi air hujan sebagai sumber rezeki yang penuh barakah, sama dengan sumber-sumber pangan dan sumber-sumber energy, insyaAllah kita akan semangat menyongsong dan mengelolanya.

Para ahli kemudian dapat merumuskan bagaimana mengelola air yang turun berlimpah secara musiman ini, agar manfaatnya bisa di-spread sepanjang tahun sebagai sumber air baku untuk minum, untuk pengairan, untuk perikanan, penunjang berbagai industri dlsb.

Bayangan saya yang perlu dibuat tidak harus waduk yang sebesar-besarnya seperti yang disampaikan Gubernur DKI kemarin jawabannya, bisa saja waduk-waduk skala kecil tetapi menyebar di sejumlah lokasi yang tepat – insyaallah akan lebih efektif dan doable dengan melibatkan masyarakat luas. Tetapi ya Wa Allahu A’lam, diserahkan ke ahlinya untuk merancangnya yang paling efektif.

Untuk menyiapkan waduk-waduk dan sarana pengelolaan air yang paripurna ini tentu dibutuhkan dana yang tidak sedikit, untuk inipun saya sudah pernah menulis sarana pengumpulan dana’nya yang melibatkan masyarakat DKI melalui dana ta’awun.

Salah satu dari tiga sarana pemenuhan kebutuhan pokok manusia itu lagi tersedia melimpah ruah di Jakarta hari-hari ini, akankah kita biarkan terus menjadi musibah padahal sesungguhnya dia sumber rezeki yang penuh barakah ? Jawabannya bukan hanya ada pada para pemimpin kita, tetapi juga ada pada diri-diri kita.

Mulai menyikapinya secara benar, kemudian berikhtiar secara maksimal dengan ilmu dan petunjukNya – InsyaAllah air hujan yang melimpah ini akan kembali menjadi sumber rezeki yang penuh barakah. Amin.

Kategori : Umum Published on Friday, 18 January 2013 08:32 Oleh : owner gerai dinar

Ta’aawun : Solusi Dua Problem Terbesar Jakarta…

Semua orang yang tinggal atau bekerja di Jakarta tahu dua problem terbesar Jakarta adalah kemacetan dan banjir. Tahun silih berganti dan gubernur-nya pun berganti, tetapi akankah dua problem besar tersebut bisa diatasi ? Kalau pertanyaan ini dijadikan pertanyaan survey, kita bisa menduga hasilnya – mayoritas orang Jakarta akan berpendapat tidak bisa diatasi – paling tidak dalam waktu dekat. Saya sendiri melihat problem itu mungkin bisa diatasi. Oleh siapa ?, bukan oleh pemerintah atau gubenurnya tetapi oleh penduduk Jakarta sendiri.

Gubernur hanya menjabat lima tahun atau kalau dipilih lagi menjadi sepuluh tahun, tetapi bila Anda bekerja atau tinggal di Jakarta – Anda berkepentingan dengan segala problem Jakarta selama puluhan tahun atau bahkan seumur hidup Anda. Jadi Anda harus menjadi bagian solusi dari problem Anda sendiri, bukan bagian dari masalahnya.

Lantas bagaimana Anda bisa menjadi bagian dari solusi itu ?

Terinspirasi oleh saking yakinnya ulama dahulu dengan Al-Qur’an sebagai jawaban atas segala masalah – tibyaanal likulli syai’ (QS 16:89)- sampai-sampai bila mereka kehilangan cemetipun mencarinya di Al-Qur’an, maka saya mencoba mencari jawaban dua masalah besar Jakarta tersebut di atas juga di Al-Qur’an.

Di antaranya saya mentadaburi ayat “…wa ta’aawanuu ‘alal birri wattaqwaa…” atau “…bertolong menolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan taqwa…”(QS 5:2). Bagaimana aplikasi ayat ini dalam menjawab dua problem terbesar Jakarta tersebut ?. Berikut kurang lebih solusi berbasis Ta’aawun itu.

Untuk kemacetan Jakarta yang ditimbulkan oleh berlebihannya kendaraan bermotor, ide Jokowi untuk memangkas lalu lintas menjadi separuhnya dengan peraturan ganjil genap dapat menjadi langkah awal yang baik. Tetapi langkah ini saja tidak cukup.

Langkah ini harus diikuti oleh perubahan sikap masyarakat Jakarta sendiri untuk menjadikan dirinya bagian dari solusi dan bukan bagian dari masalah. Bila tidak ada perubahan sikap ini, segala peraturan akan dicari jalan untuk mengakalinya. Yang kaya akan membeli mobil/motor lagi dengan nomor yang berbeda , yang tidak terlalu kaya akan ngakali plat nomornya saja dlsb.

Peluangnya adalah bila peraturan tersebut dijadikan momentum untuk memperbaiki sikap masyarakat Jakarta sendiri dari sikap mementingkan diri sendiri menjadi peduli pada kepentingan bersama.

Peraturan ganjil genap bisa menjadi Tipping Point – titik didih perubahan dari masyarakat yang egois menjadi masyarakat yang care and share, peduli dan berbagi. Masyarakat yang saling tolong menolong dalam kebajikan.

Ketika hari genap berlaku, yang mobilnya bernomor genap mau berbagi dengan yang nomornya ganjil dan sebaliknya. Tetapi dimana kita bisa menemukan teman untuk berbagi ini ? teman yang aman, yang bisa diajak ber-ta’aawun ?. Ini jaman teknologi ! ayo berdayakan teknologi untuk solusi.

Dengan menulis status di jejaring Anda, “mobil saya genap, hari ini rute saya dari sini ke sini dst…, siapa mau berbagi ?”. Besar kemungkinan tawaran Anda ini sudah akan direspon oleh teman-teman Anda. Yang respon-pun mugkin bukan hanya satu teman, tetapi sejumlah teman sampai mobil Anda penuh !.

Bayangkan bila solusi ini mewabah, maka berkurangnya lalu lintas kendaraan di Jakarta bisa lebih dari yang dibayangkan Jokowi !. Empat lima orang yang selama ini naik mobil sendiri-sendiri, dengan cara ini mereka suka rela berbagi dengan teman-teman yang mereka pilih sendiri – dalam satu mobil.

Apa mau orang berbagi ? disitulah masalahnya. Yang ingin menjadikan dirinya bagian dari solusi, insyaallah mau bersusah payah berbagi. Yang tidak ingin menjadi solusi, yang beranggapan solusi harus datang dari pemerintah atau orang lain, maka dia akan mencari jalan untuk mengakali peraturan.

Untuk teknologi berbagi itu kini sudah sangat luas ada di masyarakat yaitu situs-situs jejaring sosial standard yang tinggal pakai. Selain yang standard inipun, proyek yang tiga bulan lalu saya kompetisikan di situs ini O-JEX kini juga sudah mulai pada tahapan pengerjaan – insyaAllah akan menambah satu lagi instrument untuk memfasilitasi saling berbagi, ber-ta’aawun memecahkan masalah kemacetan ini.

Untuk banjir apa solusinya ?, sama dengan Ta’aawun juga. Waktunya masyarakat disadarkan bahwa banjir hanya bisa diatasi bila masyarakat terlibat aktif dalam berpartisipasi mencegah banjir. Bukan hanya disiplin dalam menjaga agar tidak membuang sampah di tempat sembarangan dlsb. tetapi juga terlibat dalam pendanaan project-project pencegahan banjir.

Jakarta butuh waduk-waduk penampungan, saluran-saluran pemecah konsentrasi air. Saluran-saluran penyaluran air yang melebihi debit normalnya di kala hujan lebat dlsb. Para insinyur Jakarta insyaAllah mampu untuk memikirkan seluruh solusi tersebut, tetapi dari mana dananya ?

Disitulah dana Ta’aawun dapat berperan. Kemampuan pemerintah untuk membangun project-project pencegahan banjir ini bisa jadi terbatas, sehingga masalah banjir terakselerasi lebih cepat dari solusi yang dibangun pemerintah.

Maka pemerintah sangat bisa melibatkan seluruh masyarakat Jakarta untuk mendanai bareng project-project pencegahan banjir itu.

Caranya adalah dengan mengumpulkan dana masyarakat yang besar kecilnya disesuaikan dengan nilai asset dan lokasi atau tingkat resiko banjir yang dihadapi. Dana ini akan besar, tetapi dihitung sedemikian rupa sehingga tidak lebih besar dari kerugian masyarakat yang ditimbulkan oleh banjir – bila banjir tersebut tidak di cegah.

Cara pengumpulan dana ta’aawun bisa dilakukan dengan membuat peraturan daerah yang mewajibkan masyarakat untuk ikut program ta’aawun – semacam wajib asuransi bangunan, tetapi harus disesuaikan dengan ketentuan syariah.

Dengan konsep ta’aawun ini masyarakat Jakarta yang tinggal di daerah bebas banjir-pun ikut berkontribusi mencegah banjir – meskipun dengan dana ta’aawun yang lebih rendah dari mereka yang memang tinggal di daerah banjir. Meskipun daerah mereka tidak banjir, kalau wilayah lainnya dari Jakarta terendam banjir – aktivitas mereka toh terganggu – jadi relevan untuk melibatkan seluruh penduduk Jakarta berkontribusi dalam dana ta’aawun banjir ini.

Lantas apa benefit yang diperoleh masyarakat agar mereka mau berkontribusi mahal dalam mengatasi banjir ini ?. Pertama dengan project-project pencegahan banjir yang didanai secara masal oleh masyarakat ini, banjir insyaAllah bisa nantinya bener-bener dicegah.

Selama project-project ini belum efektif benar mencegah banjir sepenuhnya, masyarakat yang masih mengalami kerugian karena banjir – mendapatkan penggantian kerugian dari sebagian dana ta’aawun tersebut yang dikelola untuk men-cover resiko dengan proteksi takaful, re-takaful dlsb.

Dengan melibatkan jaringan takaful (asuransi syariah) dan re-akaful (re-asuransi syariah) yang bersifat global, maka mitigasi resiko banjir akan menyebar luas ke seluruh penjuru dunia sehingga secara tidak langsung terjadi ta’aawun yang bersifat global. Dengan system ini masalah yang berat menjadi ringan karena dipikul bersama oleh seluruh masyarakat baik yang berkepentingan langsung dengan Jakarta, maupun masyarakat dunia yang mau berta’aawun mengatasi masalah yang serupa.

Kami beserta development team kami insyaAllah siap dengan konsep detilnya, bila Ada pihak yang ingin merespon ide ini secara lebih jauh menuju tahap implementasinya di lapangan.

Dapatkah ide tersebut bener-bener diimplemantsikan di Jakarta ?, jawabannya tergantung kita masyarakat Jakarta sendiri. Apakah kita akan menjadi bagian dari solusi itu atau tetap puas menjadi bagian dari masalah, apakah kita menerima status quo bahwa Jakarta identik dengan kemacetan dan banjir atau kita yakin bisa merubahnya, apakah kita merasa bahwa kepentingan untuk mengatasi masalah itu kepentingan kita atau urusan pemerintah atau orang lain dst.

Intinya jawaban itu ada di kita, bila kita yakin itu bisa dan rela berbuat untuk mewujudkannya – maka insyaAllah kita-pun bisa ! Ingat ini bila Anda lagi terjebak di kemacetan Jakarta atau terjebak dalam banjir…

Kategori : Umum Published on Friday, 28 December 2012 07:53 Oleh : owner gerai dinar

Kamis, 17 Januari 2013

Negeri (Jangan) Berbisik…

Tahun ini dan tahun depan rakyat kebanyakan negeri ini akan banyak-banyak dihibur oleh suara-suara lantang yang menjanjikan kemakmuran dan pengentasan kemiskinan. Suara-suara lantang yang menghibur rakyat tersebut kemudian akan menghilang pasca pemilihan. Setelah terpilih menjadi anggota legislatif ataupun duduk di eksekutif, mereka tidak lagi bersuara lantang – mereka rajin berbisik !.

Mengapa berbisik ? karena yang mereka omongkan tidak untuk kepentingan rakyat banyak, maka hanya dengan berbisik-bisik di antara merekalah mereka berunding untuk kepentingan kelompoknya masing-masing.

Mereka berbisik ketika mereka merencanakan plesir studi banding, berbisik ketika membicarakan anggaran, berbisik untuk mencantumkan atau menghilangkan ayat-ayat tertentu dalam perundang-undangan, berbisik ketika membuat peraturan pemerintah, berbisik ketika mereka menyusun perda dst.

Mengapa harus berbisik ? karena ada yang mereka sembunyikan dari masyarakat kebanyakan. Mereka juga harus berbisik karena banyaknya pembisik-pembisik yang sibuk menitipkan kepentingannya masing-masing.

Bahwasanya negeri ini dari pusat sampai daerah dikendalikan oleh bisik-bisik, itu dapat kita lihat dari beberapa fenomena berikut :

Mengapa rakyat kebanyakan tidak memiliki pasarnya untuk bisa menaikkan taraf hidup ? Karena para penguasa mendapatkan bisikan bahwa mal-mal modern nan mewahlah yang menaikkan gengsi pada kotanya, pasar-pasar megah yang hanya bisa dijangkau oleh yang punya uang-lah yang bisa mendatangkan pendapatan daerah yang besar. Seolah mereka berbisik “ Hanya yang kaya yang boleh jualan di sini…”

Rakyat kebanyakan yang ‘mencuri’ kesempatan untuk berjualan di pinggir-pinggir jalan, di pasar kaget dlsb – selalu menjadi korban gusuran aparat pemda yang seolah berbisik “Orang miskin jangan jualan disini, mengganggu ketertiban …”.

Ketika banjir besar melanda ibu kota dan sekitarnya seperti hari-hari ini, pemda dan masyarakat kayanya berbisik menyalahkan orang miskin. Seolah mereka-mereka yang tinggal di pinggir kali penyebabnya, mereka yang membuang sampah di kali penyebabnya. Logikanya karena orang-orang kaya tidak tinggal di pinggir kali, mereka tidak membuang sampah di pinggir kali. Lalu merekapun seolah berbisik “…orang miskin jangan tinggal di sini…”.

Yang tidak kalah menyakitkan lagi, hari-hari ini ada salah satu pemda dari kota penyangga ibu kota yang membuat aturan hanya rumah-rumah besar yang boleh dibangun oleh developer di kotanya. Alasannya adalah agar kotanya tidak menjadi kumuh, maka mereka-pun seolah berbisik “…orang miskin jangan tinggal di kota ini…”

Di rumah-rumah sakit orang miskin tidak dilayani semestinya, seolah mereka bicara “…orang miskin yang sakit jangan dibawa ke sini...”. Di sekolah-sekolah yang mahal, bahkan ada anak guru yang tidak bisa masuk sekolah dimana orang tuanya mengajar, mereka seolah bicara “…orang miskin jangan sekolah disini…”.

Barangkali inilah yang membuat negeri ini tidak kunjung makmur setelah 67 tahun merdeka, negeri ini melalaikan kepentingan orang miskin ini di hampir setiap kebijakan publik yang dibuatnya. Negeri ini berjalan melalui bisik-bisik dan melalaikan peringatan Allah antara lain melalui ayat berikut :

“Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan. "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu". Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: "Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)"” (QS 68 : 23-27)

Padahal ada janji pertolongan dan rezeki dariNya melalui keberadaan (do’a) orang-orang miskin ini :

“Tidaklah kalian ditolong dan diberi rezeki melainkan karena adanya orang-orang yang lemah diantara kalian” (HR. Bukhari).

Maka berangkat dari fenomena yang ada di masyarakat kita yang tidak kunjung makmur, berbekal dengan ayat-ayat dan hadits yang sahih di atas, insyaAllah negeri ini bisa makmur justru ketika setiap membuat kebijakan publik – mendahulukan kepentingan orang miskin yang lemah di negeri ini.

Negeri ini bisa makmur ketika para pengambil keputusan tidak lagi berbisik, mereka bisa bersuara lantang lantaran tidak lagi ada yang mereka sembunyikan. InsyaAllah.

Kategori : Ekonomi Makro Published on Thursday, 17 January 2013 09:30 Oleh : owner gerai dinar