Laman

Selasa, 26 Maret 2013

Golongan Kanan Yang Memberi Makan …

Di situs resminya Food and Agricultural Organization (FAO), ada dimuat sebuah dokumen yang berjudul “Feeding The World” – memberi makan bagi dunia. Yang menarik dalam dokumen tersebut terungkap bahwa, bila produksi makanan di seluruh dunia didistribusikan merata – maka setiap orang di dunia  akan mendapatkan jatah 5,359 kcal/ hari. Padahal kebutuhan calorie rata-rata menurut UK Health Department misalnya bagi wanita hanya 1,940 kcal/hari dan 2,550 kcal/hari untuk pria. Jadi produksi makanan di dunia sebenarnya cukup untuk memberi makan lebih dari dua kali penduduk dunia saat ini !

Senin, 25 Maret 2013

Mengelola Yang Cukup…

Ketika Thomas Malthus mengeluarkan teorinya (1798) bahwa populasi dunia tumbuh secara deret ukur (1,2,4, 8 dst…) sedangkan sumber daya kehidupan tumbuh secara deret hitung (1,2,3,4 dst…), saat itu penduduk dunia belum mencapai 1 Milyar. Gara-gara teori tersebut, timbul pemikiran yang ganjil dari Thomas Malthus ini – bahwa tidak ada gunanya mengentaskan kemiskinan – karena bila si miskin tambah makmur, dia akan menambah anak dan problem kekurangan sumber daya kehidupan akan semakin serius.

Pemikiran Thomas Malthus yang ganjil tersebut kemudian menjadi justifikasi bagi Karl Marx, Lenin dan teman-temannya – untuk menentang kapitalisme. Menurut mereka ini justru itu perlunya sumber daya-sumber daya kehidupan yang terbatas tersebut untuk dibagi sama rata dan sama rasa agar cukup bagi semua.

Separuh saja dari teorinya Thomas Malthus yang mendekati kebenaran , yaitu bahwa penduduk bumi tumbuh secara deret ukur. Dua tahun setelah teori tersebut penduduk bumi mencapai 1 Milyar pertama (1800), ini adalah hampir 12,000 tahun sejak peradaban manusia mengenal pertanian menetap. Sejak saat itu jumlah penduduk bumi melesat dengan cepat seiring dengan peningkatan kemakmurannya.

130 tahun kemudian penduduk bumi mencapai 2 milyar (1930), 30 tahun kemudian mencapai 3 milyar (1960), 15 tahun kemudian mencapai 4 milyar (1975),  12 tahun kemudian mencapai 5 milyar (1987),  12 tahun kemudian mencapai 6 milyar (1999) dan 12 tahun kemudian mencapai 7 milyar (2011). Lihat kelipatan ini,  12,000 tahun  untuk mencapai jumlah 1 milyar dan hanya perlu sekitar 200 tahun kemudian untuk mencapai 7 Milyar !. Dengan pertumbuhan seperti ini penduduk bumi akan mencapai 8 Milyar sebelum tahun  2023 !.

Sisi pertumbuhan populasi bumi secara deret ukur tersebut nampaknya akan terbukti tetapi sisi sumber daya kehidupan ternyata juga tetap cukup untuk menopang kehidupan penduduk bumi yang kini sudah lebih dari 7 Milyar dan akan segera mencapai 8 milyar ini. Artinya sisi lain teori Thomas Malthus bahwa penopang kehidupan yang tumbuh secara deret hitung terbukti tidak benar, penduduk bumi secara kumulatif ternyata tidak berkurang kemakmurannya kini dibandingkan dengan ketika teori Malthus tersebut  dikeluarkan lebih dari dua abad lalu - ketika penduduk bumi belum mencapai 1 Milyar pertamanya.

Tetapi kecukupan penopang kehidupan bukan berarti tanpa masalah. Dengan pola ekonomi yang dikendalikan kapitalisme sekarang, rata-rata penduduk negara maju seperti Amerika menyerap  sumber daya kehidupan di bumi 32 kali lebih banyak dari yang diserap rata-rata penduduk negeri miskin seperti Kenya misalnya . Sumber daya kehidupan yang disedot mereka ini meliputi pangan, air, energy, mineral, hasil tambang dlsb.

Jadi masalahnya jelas, bukan sumber daya kehidupan di bumi yang tumbuh secara deret hitung sehingga tidak bisa mengejar pertumbuhan populasi yang tumbuh secara deret ukur – tetapi lebih pada masalah distribusi sumber daya tersebut yang tidak dilakukan secara adil.

Berbagai system mulai dari keuangan, perdagangan, standar industri, teknologi dlsb. diciptakan untuk mengunggulkan segelintir orang atau kelompok terhadap mayoritas penduduk bumi. Negeri-negeri yang memiliki sumber daya alam melimpah, tidak jaminan bahwa mereka yang paling makmur dan paling cepat pertumbuhannya – mereka justru menjadi target penjajahan jenis baru – penjajahan ekonomi, keuangan, politik dan pemikiran.

Lantas apakah yang benar Marxism dan Leininism yang membagi sumber daya kehidupan yang terbatas secara sama rasa dan sama rata ?, tidak juga ! Karena pembagian yang demikian juga tidak mendorong orang untuk berkinerja optimal meng-eksplorasi kekayaan alam di bumi ini.

Maka solusinya tinggal umat ini yang seharusnya bisa menghadirkan kemakmuran di bumi itu. Umat inilah yang dikabarkan oleh hadits Nabi berikut yang akan memakmurkan bumi sekali lagi sebelum kiamat datang di bumi ini :

Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnya tetapi dia idak mendapatkan seorangpun yang bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai " (HR. Muslim).

Kita bisa optimis bahwa kemakmuran di bumi masih akan datang sekali lagi – berapapun jumlah penduduk bumi saat itu, karena selain hadits tersebut di atas juga adanya janji Allah langsung di sejumlah ayat yang bunyinya senada :

Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.” (QS 15 :21).

Allah tidak mungkin menciptakan sesuatu yang tidak seimbang seperti ketidak seimbangan antara jumlah penduduk bumi dengan sumber daya kehidupannya – yang diteorikan oleh Thomas Malthus tersebut di atas :

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ?” (QS 67 :3)

Bahwa belum semuanya sumber daya kehidupan tersebut kita temukan dan kita kuasai saat ini, karena ke-Maha Tahu-an Allah juga – yang tidak menghendaki kita berlebih-lebihan dalam menggunakannya :

Dan jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (42:27)

Jadi sumber daya di bumi itu cukup untuk semuanya, tidak berlebih dan tidak kurang - tetapi harus terus digali dan dikelola secara adil. Untuk bisa terus menggali dan mengelola sumber daya yang ada di bumi ini secara adil itulah kita diciptakan oleh Allah sebagai khalifahNya – yang memakmurkan bumi ini (QS 11 :61).

Bila kapitalism itu memperebutkan sesuatu yang dianggapnya sedikit atau terbatas (scarcity), Marxism membagi yang sedikit itu sama rata sama rasa dan berharap cukup dengan yang sedikit itu. Kita bukan keduanya, kita yakin bahwa sumber-sumber kehidupan itu cukup, hanya perlu terus digali dan dikelola secara adil mengikuti petunjuk-petunjukNya. InsyaAllah.



Solusi Benang Merah…

Seorang yang konon genius serba bisa yang dikenal dengan nama Leonardo Da Vinci – pelukis, penulis, ahli matematika, botani, dlsb – pernah berbagi bagaimana dia menghasilkan karya-karyanya : “Berdiam diri memperhatikan pola di alam, debu bekas pembakaran, awan di langit, kerikil di pantai…bila dilihat secara cermat akan menghasilkan temuan yang luar biasa…”. Dia lahir ketika Islam masih menguasai Eropa dari Spanyol (1452), dia besar sampai meninggal di era puncak kejayaan Kekhalifahan Turki Usmani (1519). Apakah ada hubungannya ?

Belum tentu ada hubungannya, bisa saja hanya karena kebersamaan waktu. Tetapi yang jelas memperhatikan apa yang ada di alam dan memikirkannya – seperti yang dia ungkapkan tersebut – adalah bagian dari ajaran Agama ini. Bahkan Allah menyebut orang yang berakal (Ulil Albaab) adalah orang yang tidak berhenti mengingatNya sambil terus memikirkan penciptaan langit dan bumi ketika dia berdiri, duduk sampai berbaring (tidur) sekalipun.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”” (QS 3 : 190-191)

Bagaimana awan bisa menjadi inspirasi sebuah karya ?, bagaimana kerikil atau pasir di laut menjadi awal sebuah karya ? ini semua tentu tidak berdiri sendiri – harus dikaitkan dengan sejumlah hal lain yang ada di alam ini atau masalah yang hendak kita pecahkan.

Dalam bahasa kita ketika kita merangkai sejumlah hal yang semula secara visual tidak saling terkait, menjadi sesuatu yang saling terkait satu sama lain – kita menyebutnya merangkai atau menarik  ‘Benang Merah’. Kemampuan menarik ‘Benang Merah’ inilah yang dimiliki oleh seorang Leonardo Da Vinci, dan seharusnya kita lebih baik bahkan dari Leonardo Da Vinci karena kitab kita – petunjuk jalan kita, mengarahkan kita untuk menjadi orang-orang yang berakal dengan tidak berhenti mengingatNya sambil terus memikirkan yang di langit dan di bumi.

Karena orang yang bisa menarik ‘Benang Merah’ (memikirkan) dari kejadian-kejadian yang di bumi ini (bahkan juga di langit !) adalah orang-orang yang berakal (cerdas) menurut definisi ayat tersebut di atas – maka dari sinilah masalah-masalah akan bisa teratasi, produk-produk baru nan kreatif bisa dihasilkan, kehidupan yang lebih baik di masyarakat-pun bisa ditumbuhkan.

Saya beri contoh masalah yang masih fresh di ingatan kita, yaitu masalah kelangkaan kedelai, kemahalan harga daging, bawang merah-bawang putih dan kemudian cabe. Mengapa masalah yang sangat mirip satu sama lain ini bergiliran muncul di tengah masyarakat ? Karena solusi yang diterapkan pada setiap masalah tersebut muncul adalah solusi kasuistis – solusi yang hanya mengatasi gejala tetapi bukan mengatasi penyebab. Ibarat obat, hanya menghilangkan rasa sakit sesaat tetapi tidak menyembuhkan penyakitnya sendiri.

Untuk bisa menyembuhkan penyakit yang sesungguhnya harus ditelusuri sampai beyond the symptoms – lebih dari sekedar melihat gejalanya, tetapi melihat masalah sampai ke akar-akarnya. Disitulah dibutuhkan kemampuan untuk menarik ‘Benang Merah’ dari rangkaian kejadian-kejadian atau masalah-masalah tersebut di atas.

Lantas apa ‘Benang Merah’ antara masalah kedelai – daging – bawang dan cabe ?, karena ‘Benang Merah’ ini adalah sesuatu yang imaginer – bukan sesuatu yang riil – maka masing-masing orang akan memiliki ‘Benang Merah’-nya sendiri sesuai dengan keilmuan, latar belakang lingkungan, pengalaman dlsb.

Karena variasi ‘Benang Merah’ ini, maka solusi dari setiap masalah juga lebih dari satu. Dari sekian banyak solusi tersebut tentu ada yang efektif dan ada yang kurang atau tidak efektif, tetapi solusi tersebut pasti ada ! Lho kok berani memastikan solusi tersebut pasti ada ?

Diperlukan ‘Benang Merah’ lain lagi untuk memahami bahwa solusi itu pasti ada, ‘Benang Merah’ yang ini adalah ‘Benang Merah’ petunjuk. Coba sekarang kita menarik ‘Benang Merah’ imaginer antara hadits ini : “Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik, Al-Hakim, Al-Baihaqi) dengan ayat :

“…Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. (Q.S Thaha: 123 - 124). Juga dengan ayat :

… Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya… Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS Ath Thalaaq: 2-4)

Jadi apa ‘Benang Merah’ yang bisa kita rangkai dari hadits dan ayat-ayat tersebut di atas ? Bila ditarik dari salah satu ujungnya – yaitu masalah yang kita hadapi seperti kedelai, daging, bawang dan cabe tersebut misalnya. Maka rangkain ‘Benang Merah’ solusi itu akan sebagai berikut :


Solusi Benang Merah
Masalah ini pasti bisa dengan mudah diselesaikan oleh orang yang bertakwa – untuk mencapai derajat takwa tentu orang harus beriman dahulu – orang yang beriman meyakini kebenaran isi Al-Qur’an dan Hadits-hadits yang shahih – Meyakini Al-Qur’an adalah jawaban atas segala hal (QS 16 : 89) – Meyakini tanpa ragu (QS 49 : 15) – Menyelesaikan masalah dengan terus mengingat (petunjuk) Allah – menyelesaikan masalah dengan tidak berhenti memikirkan apa yang ada di langit dan yang ada di bumi – yang menjadi tugas kita untuk memakmurkannya (bumi) (Qs 11 :61).

Atau bila diringkas/diperpendek  ‘Benang Merah’ itu adalah kita menghadapi segala masalah seperti sekarang ini (kedelai, daging, bawang dan cabe misalnya) – karena kita tidak melaksanakan tugas yang diberikanNya untuk kita yaitu memakmurkan bumi. Maka bila tugas itu kita laksanakan dengan mengikuti segala petunjukNya – segala masalah itu insyaAllah akan teratasi.

Solusi masalah-masalah kita bukan ada di Australia, New Zealand, Laos, Myanmar atau negara-negara lain. Solusi itu ada di depan mata kita, ada di sekitar kita, hanya diperlukan kemampuan kita untuk menarik ‘Benang Merah’ antara berbagai hal yang selama ini mungkin masih kita abaikan. ‘Benang Merah’ yang sama insyaAllah juga bisa kita gunakan untuk mengatasi problem-problem pribadi kita dan menggali peluang usaha yang bisa dilahirkan dari jawaban atas masalah-masalah di sekitar kita. InsyaAllah.



Proses Bukan Hasil…

Seorang anak laki-laki bermain di tepi pantai, di terik matahari berjam-jam dia membuat istana pasir yang indah. Setelah selesai dia menikmati sejenak karyanya, kemudian melihat di kejauhan datanglah ombak besar. Blaaas, ombak menyapu habis hasil jerih payahnya. Anak laki-laki ini bersorak gembira ketika hasil karyanya disapu habis oleh ombak. Kok dia bisa gembira ? Karena dia tahu ombak pasti datang , dia tahu bahwa dia hanya bermain sesaat !

Yang dilakukan oleh para orang tua seperti kita-kita sebenarnya tidak jauh beda dengan yang dilakukan oleh anak laki-laki kecil tersebut. Kita membangun istana pasir dengan pekerjaan kita, karir kita, usaha kita dlsb. Yang membedakan dengan si anak laki kecil tadi adalah kita mengabaikan kenyataan bahwa ombak pasti datang !

Ketika mengejar karir, kita mengira bahwa karir itulah tujuan kita sehingga kita mengira kebahagiaan akan datang pada saat cita-cita tercapai. Ketika kita membangun usaha kita mengira bahwa usaha itulah tujuan kita, sehingga kita kira  akan bahagia ketika usaha berhasil sukses.

Karena karir atau usaha adalah tujuan, maka ketika tujuan itu tidak tercapai – kekecewaan dan frustasi yang datang. Ketika ombak datang berupa pensiun atau gagalnya usaha seolah akhir dari segalanya.

Lantas bagaimana kita bisa menikmati seperti anak kecil tadi ? bisa tetap gembira ketika ombak datang ? salah satunya adalah menikmati proses membuat ‘istana pasir’ tersebut. Berkotor-kotor berkubang pasir basah di terik matahari, itulah proses menikmati pembangunan ‘istana pasir’ itu.

Karena kita tahu bahwa suatu saat keindahan ‘istana pasir’ itu akan meninggalkan kita atau kita meninggalkannya, maka ketika hal itu bener-bener terjadi kita tetap bisa bersorak gembira seperti yang dilakukan oleh anak kecil tersebut di atas.

Menikmati proses itu sejalan dengan takdirNya, bahwa domain kita adalah bekerja dan berusaha – domain Allah menentukan hasil. Karena hasil diluar kemampuan kita untuk menentukannya, maka tidak pantas kita berlebihan menikmatinya ketika hasil tercapai. Sebaliknya juga tidak pantas bersedih berlebihan ketika gagal.

Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS 57 : 23)

Lantas bagaimana kita bisa menikmati proses ini ? bekerja atau berusahalah sebaik mungkin dimanapun tempat Anda sekarang berada. Optimalkan waktu kini yang menjadi milik Anda satu-satunya,  karena waktu besuk belum tentu milik Anda sedangkan waktu kemarin sudah bukan lagi milik Anda.

Waktu adalah very perishable asset – yaitu aset yang mudah sekali rusak. Kita hanya memilikinya untuk saat ini, maka saat inilah waktunya untuk bekerja dan berusaha se-optimal mungkin.

Besuk atau lusa ombak bisa datang, tetapi karena saat ini kita sudah bekerja optimal – kita sudah berkarya, sudah menciptakan kerja, sudah memberi makan – maka insyaAllah ketika ombak itu bener-bener datang – kita tetap bisa bergembira menyambutnya.

Bila waktu ini sudah kita optimalkan, cita-cita tercapai sekalipun – karir bisa menjulang tinggi, usaha bisa tumbuh menggurita – saat itu-pun bukan waktu yang tepat untuk bisa menikmatinya. Tidak ada  waktu yang tepat untuk kita bisa leyeh-leyeh menikmati hasil. Selalu akan ada tugas besar berikutnya yang menanti !

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS 94 :7-8)

Istana pasir demi istana pasir kita bangun, ombak demi ombak datang menghancurkannya – insyaallah kita bisa tetap gembira. Karena kita tahu dunia ini hanya permainan, hanya kepadaNyalah kita berharap dan kembali !.

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS 57 :20)


Minggu, 24 Maret 2013

Bertani Di Abad Wiki…

Salah satu cara untuk membangkitkan optimism itu adalah bila kita bisa mengubah suatu kelemahan menjadi kekuatan. Di bidang pertanian misalnya, negeri agraris yang ijo royo-royo ini masih sering dihantui dengan sejumlah kelemahan, misalnya pada ukuran kepemilikan lahan yang terlalu kecil untuk dikelola secara ekonomis, posisi tawar petani yang lemah, serbuan produk pertanian impor dlsb. Tetapi semua kelemahan ini sangat mungkin bisa diubah menjadi kekuatan, bila kita bisa merubah paradigma bertani kita.

Di abad yang orang menyebutnya abad Wiki ini – diambilkan dari fenomena Wikipedia yang secara drastis merubah paradigma penyebaran ilmu pengetahuan, pemain yang kuat tidak harus yang besar. Pemain yang kuat adalah yang bisa menjadi integrator dari sejumlah pemain kecil yang fokus di bidangnya.

Di bidang komputasi misalnya, untuk mengelola informasi yang sangat besar tidak lagi dibutuhkan super computer yang biaya pengadaan dan pemeliharaannya selangit. Cukup dijalin jaringan kapasitas dari sejumlah computer kecil-kecil yang kemudian disebut cloud computing.

Prinsip kerja Wiki yang kemudian antara lain melahirkan konsep ekonomi Wikinomics adalah keterbukaaan (openness), kemitraan yang setara (peering), berbagi ( sharing) dan integrasi global. Prinsip dasar ini menjadi lebih memungkinkan untuk diaplikasikan pada seluruh bidang kehidupan di abad ini dengan teknologi informasi yang semakin canggih, murah dan menjangkau 70% penduduk bumi.

Lantas bagaimana kita menggunakan prinsip kerja Wiki tersebut untuk mengunggulkan sektor pertanian kita yang masih dihantui oleh sejumlah kelemahan tersebut ?. Kuncinya ada di kata yang selama ini sudah familiar sekali dalam kehidupan kita, tetapi belum kita gunakan untuk membangun kekuatan ekonomi – yaitu kata Jama’ah atau bila menjadi kata sifat Jama’i.

Dengan setara (peering) berbagi (sharing) secara terbuka (openness), kita bisa mengintegrasikan kekuatan global – yaitu kekuatan jama’ah manusia yang sangat banyak, untuk membangun kekuatan positif yang dalam hal ini membangun kekuatan  pertanian.

Aplikasinya dilapangan akan melibatkan dua hal yang saya sebut sebagai Kecerdasan Jama’i dan Kapasitas Jama’i.

Bayangkan apa yang dialami oleh para petani saat ini. Mereka berjuang sendirian untuk sekedar tahu sebaiknya ditanami apa lahannya yang sangat terbatas. Karena dia sendirian mencarinya, maka dia akan cenderung meniru saja tetangganya menanam apa.

Masalah timbul selalu ketika panen tiba, sejumlah besar petani memanen produk yang sama dengan kapasitas pasar yang terbatas di sekitarnya. Maka dari sinilah sering kita dengar/baca cerita tragis petani yang memilih tidak memanen sayurnya, membuang susu di jalanan dlsb – karena ketiadaan pasar yang feasible untuk produk panenan mereka.

Dengan Kecerdasan Jama’i, ilmu yang ada dari masing-masing pelaku (bisa petani, akademisi, peneliti dlsb) di-share dan dibuat mudah diakses oleh siapapun. Dengan bahasa dan aplikasi yang sederhana misalnya, seorang petani bisa tahu apa yang terbaik ditanam di lokasi tanahnya – dengan mempertimbangkan aspek agroklimat (suhu, curah hujan, ketinggian, kelembaban dlsb) dan ketersediaan pasar atau kebutuhan di masyarakat.

Masih sulit dipahami ?, saya beri contoh sederhananya begini : Bila Anda memiliki lahan beberapa puluh meter saja di halaman rumah Anda saat ini, lahan tersebut insyaAllah dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi bisa Anda tanami dengan tanaman pangan – yang cukup untuk makan Anda sekeluarga sampai musim panen berikutnya !.

Apa mungkin itu ?, insyaAllah mungkin bila Anda memiliki akses pengetahuan tentang apa jenis tanaman tersebut, dan bagaimana memeliharanya sehingga memberikan hasil optimal dlsb. Dari mana Anda akan tahu seluk beluk tanaman ini ?, itulah yang akan dijawab oleh apa yang saya sebut Kecerdasan Jama’i itu.

Saya sendiri juga belum tahu, tetapi saya ada ide – maka ketika ide tersebut disambut dan dilengkapi para ahli di bidangnya masing-masing, dari situlah akan terkumpul segala macam ilmu, keterampilan dan pengalaman. Sehingga jalan untuk swasembada pangan dengan sejengkal lahan di halaman rumah itu menjadi dimungkinkan.

Setelah jenis tanaman dan tata cara pengelolaannya yang paling efektif diketahui semua orang, lantas apakah tidak terjadi over supply di pasar sehingga harga akan jatuh pada musim panennya ?

Untuk inilah istilah kedua mulai berperan yaitu Kapasitas Jama’i. Bila juta’an orang negeri ini menanm tanaman tersebut, kemudian panen bareng sehigga panenan melimpah – maka ini akan menjadi nice problem to have – problem yang menyenangkan untuk dihadapi !. Artinya saat itu kita akan over supply dalam bidang makanan.

Dengan Kapasitas Jama’i, kita agregasikan over supply tersebut  dan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan bagian lain dari bumi ini yang karena kondisi lahannya tidak sesubur negeri ini – mereka terpaksa kekurangan pangan.

Kita yang diberi rezeki bumi yang subur, air tersedia nyaris sepanjang tahun, cuaca yang bersahabat dengan segala jenis tanaman – mestinya kita bisa berkontribusi positif dalam menyelesaikan masalah-masalah kekurangan pangan dunia. Mestinya kita adalah bagian dari solusi dan bukan sebaliknya bagian dari masalah !

Ilusikah ini ?, insyaAllah tidak !. Karena kita beriman kepada kabar nubuwah yang sampai ke kita : “ Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnya tetapi dia idak mendapatkan seorangpun yang bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai” (HR. Muslim).

Meyakini kebenaran hadits tersebut adalah bagian dari keimanan kita, tinggal masalahnya adalah apakah kita memilih terlibat dalam mewujudkan kemakmuran tersebut atau tidak. Bila kita memilih untuk terlibat, maka waktunya kini untuk memulai berbuat.

Dalam rangka memulai rintisan untuk berbuat tersebutlah maka di situs ini belum lama ini kami kompetisikan untuk pengembangan system Wikitani berbasis teknologi mobile, supaya nantinya para petani-pun bisa mengakses Kecerdasan Jama’i tersebut di atas secara mudah. Para petani ini mungkin belum paham menggunakan komputer untuk mengakses web, tetapi kalau sekedar menggunakan handphone yang semakin canggih - insyaAllah semuanya akan bisa.

Paralel dengan itu, ada sejumlah riset yang sedang kami lakukan untuk menemukan jenis tanaman yang bisa memberi makan pada dunia dan mencegah kelaparan di tingkat global. Selain riset dari kabar-kabar Ilahiah (Al-Qur’an) dan nubuwah (hadits), secara ilmiah di lapangan juga sudah mulai kita tes pembenihannya. Pada waktunya nanti akan kita umumkan supaya menjadi bagian dari Kecerdasan Jama’i yang terus menerus disempurnakan oleh orang yang lebih tahu - sampai kebenaran hadits tersebut terbukti. InsyaAllah.

Sang Pemimpin…

Suatu saat ada pohon besar rubuh menghalangi jalan, seorang komandan mengerahkan prajuritnya untuk menyingkirkan pohon tersebut. Sekuat tenaga prajurit tersebut berusaha mengangkat, pohon tersebut tetap tidak bergerak. Seorang penunggang kuda yang hendak lewat bertanya kepada sang komandan : “ mengapa kamu tidak ikut mengangkatnya ?” jawab komandan : “itu tugas mereka, bukan tugasku !”.

Lantas si penunggang kuda turun, berusaha sekuat tenaga membantu para prajurit mengangkat pohon yang menghalangi jalan. Pohon besar tersebut berhasil disingkirkan. Si penunggang kuda ini kemudian berkata kepada sang komandan : “Lain kali kalau ada beban berat untuk diangkat, panggil Sang Panglima !”.

Sang panglima ini bila di Amerika disebutnya Commander in Chief – yaitu presiden Amerika sendiri, dan sang penunggang kuda tersebut ternyata adalah George Washington – president AS pertama – yaitu Commander in Chief  tentara Continental pada perang revolusi AS.

Contoh yang lebih baik dari ini dan pasti benarnya ada di kisah Zulkarnain, ketika rakyatnya terancam oleh Ya’juz dan Majuz : “Zulkarnain berkata: "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi" Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Zulkarnain: Tiuplah (api itu)". Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata: "Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu"”. (QS 18 : 95-96)

Lihat pemimpin besar sekaliber Zulkarnin yang menjadi penguasa negeri dari tempat terbitnya matahari sampai tempat terbenamnya, ketika ada masalah besar yang dihadapi rakyatnya – dia tidak hanya turunkan instruksi ini – intruski itu, tidak hanya menyalahkan dan mengeluhkan ini dan itu. Dia turun langsung menyelesaikan masalah itu bersama rakyatnya.

Negeri besar ini punya segudang masalah – itu wajar saja, karena banyaknya rakyat, luasnya wilayah, keberagaman sukunya dlsb. Ketika satu masalah berhasil diatasi sekalipun, sangat besar peluang munculnya masalah-masalah baru.

Jadi kemajuan dan kemakmuran suatu negeri bukan diukur oleh ada atau tidaknya segudang masalah. Tetapi tergantung pada bagaimana masalah tersebut disikapi dan diatasi. Pemimpin negeri punya peran utama dan tanggung jawab untuk  memimpin langsung – bersama rakyat – mengatasi segala persoalan yang ada.

Sekitar setahun dari sekarang, kita akan punya kesempatan untuk memilih pemimpin negeri ini baik yang di eksekutif maupun yang legislatif. Gunakan kesempatan ini untuk memilih yang terbaik yang bisa  me-lead langsung rakyat dalam mengatasi berbagai persoalannya.

Meskipun pemimpin itu jauh dari kesempurnaan, meskipun proses pemilihannya juga tidak sesuai dengan keyakinan kita sekalipun – tetap diperlukan pemimpin di masyarakat. Seburuk-buruk pemimpin, tetap lebih baik dari ketiadaan pemimpin.

Bisa kita bayangkan bila karena kita menunggu lahirnya pemimpin yang ideal, yang dipilih melalui proses yang ideal dan sesuai keyakinan kita – lantas kita putuskan sekarang tidak usah dahulu ikut memilihnya – apa yang akan terjadi ? setidaknya dua kemungkinan yang terjadi.

Pertama pemimpin itu akan dipilih dan ditentukan justru oleh orang-orang lain yang bisa jadi punya agenda yang bertentangan dengan kepentingan kita semua. Kedua adalah the worst case scenario, negeri chaos tanpa pemimpin !.

Bila negeri tanpa pemimpin, lantas siapa yang akan menangkap dan menghukum pencuri, pemerkosa dan pelaku kejahatan lainnya ?, siapa yang akan bekerja keras mengatur lalu lintas, mencegah banjir, mencegah pencurian kekayaan alam dlsb ?.

Seandainya toh belum memungkinkan kita memiliki pemimpin yang ideal, bukan berarti tidak memiliki pemimpin sama sekali akan lebih baik. Maka ayo kita pilih para pemimpin kita – mungkin masih lengkap dengan segala kelemahannya, karena bila tidak maka orang lainlah yang akan memilih pemimpin untuk kita – dan saat itu mau nggak mau kita harus terima.

Sebagian orang mungkin beranggapan – biarlah mereka memilih pemimpinnya, bukan pemimpin kita yang mereka pilih kok. Lantas bagaimana kalau mereka memilih walikota kita, memilih gubernur  kita, sampai presiden kita ?. Realitasnya kan masih mereka-mereka inilah yang mengendalikan negeri ini ?

Dari urusan KTP, ketertiban umum, pengatasan bencana, pengendalian peraturan perdagangan, pertanian, ketenaga kerjaan, industry dlsb. semua ada di tanangan-tangan mereka ini – bisa dibayangkan bila orang lain yang memiliki agenda sendiri yang memilih mereka, bukan kita !

Bayangkan pula bila di negeri ini nantinya dihadirkan pemimpin yang menekan dan mengancam rakyatnya sendiri, menghalangi rakyat dari mengamalkan syariat agamanya,  menjual segala kekayaan alam yang ada, tidak peduli dengan segala penderitaan rakyat dlsb. dlsb – apakah ini bukan salah kita juga bila pemimpin seperti ini terpilih karena kita memilih untuk tidak menggunakan hak kita ketika ada kesempatan untuk memilih yang lebih baik ?

Maka inilah kampanye saya jauh hari sebelum pemilu legislatif dan eksekutif 2014 nanti. Ini karena keprihatinan saya atas rendahnya kwalitas para pemimpin yang ada di Legislatif maupun Eksekutif saat ini – sebagaimana kita baca riuh rendahnya sehari-hari di media masa.

Bukan salah siapa-siapa, tetapi bisa jadi salah kita semua karena kita tidak memilih yang terbaik pada tahun 2009 lalu atau bahkan kita tidak memilih sama sekali !. Meskipun saya ikut mengkampanyekan gerakan untuk memilih ini, saya tidak akan menyebut nama atau partai – dan saya tidak akan mencalonkan diri untuk posisi apapun.

Saya hanya ingin mengajak agar kita bisa mewarnai para pemimpin yang kita pilih, bukan warna orang lain diluar sana yang sudah sangat siap dengan berbagai agendanya sendiri. Agar kita tetap punya pemimpin – yang bisa menyingkirkan ‘pohon rubuh yang menghalangi jalan’ kita, dan pemimpin yang bisa 'membuat benteng antara kita dengan Ya'juz dan Makjuz' !

Perjalanan tiga orang saja butuh amir perjalanan, apalagi perjalanan bangsa dengan 250 juta orang ini – pasti butuh pemimpin, meskipun jauh dari kesempurnaan, meskipun hanya yang terbaik dari yang terburuk sekalipun ! Bisa dibayangkan sebaliknya bila 250 juta orang ini dibiarkan tanpa pemimpin, Wa Allahu A’lam.