Laman

Kamis, 12 April 2012

Investasi Anut Grubyug…

Diterbitkan Wednesday, 05 October 2011 07:18

Ada teman saya yang ahli pertanian dan telah lebih dari seperempat abad terjun langsung di lapangan dengan ilmu dan pengalamannya, dia kini piawai memilih apa-apa yang ditanamnya dan apa yang tidak. Yang dia tanam kini mayoritasnya adalah tanaman jangka panjang yang telah diriset dengan baik pasarnya hingga sepuluh dua puluh tahun kedepan, yang dia tidak tanam adalah tanaman-tanaman musiman yang mudah sekali ditiru orang dan mudah terjadi over supply ketika musim panen tiba.


Di tanaman semusim-pun dia dahulu melakukan riset dengan teliti kebutuhan pasarnya, sehingga dia awalnya menanam jenis-jenis tanaman yang sering berbeda dengan yang ditanam orang lain. Namun kemudian karena melihat hasilnya, banyak petani lain suka ‘ngintip’ apa yang ditanam teman saya ini kemudian mengikutinya. Lama kelamaan yang mengikutinya cukup banyak sehingga ketika panen tiba kembali over supply dan harga jatuh.


Demikianlah rata-rata petani kita, ketika tetangganya sukses bertanam melon maka dia ikut-ikutan menanam melon, bila ada yang sukses bertanam cabe – maka rame-rame nanam cabe yang buntutnya tidak menguntungkan siapapun karena ketika musim panen selalu anjlog harganya.


Tetapi kebiasaan anut grubyug ini sesungguhnya bukan monopoli para petani saja, hampir seluruh perilaku masyarakat mengikuti pola ini – pola kegilaan massal atau dalam bahasa Inggrisnya disebut madness of crowds – tetapi saya sendiri lebih menyukai istilah bahasa jawa yang saya anggap pas yaitu anut grubyug tadi.


Di akhir tahun 80-an ketika awal-awalnya bursa saham Indonesia memasyarakat orang rela antri berjam-jam untuk membeli saham perdana dari nyaris perusahaan apapun yang akan go public. Tidak perduli perusahaan tersebut baik atau tidak, orang tetap menyerbu karena saat itu besar peluangnya harga melonjak ketika saham yang mereka beli mulai diperdagangankan di bursa.


Di awal 90-an ketika apartemen murah mulai diperkenalkan oleh sebuah group usaha di Kuningan, orang rela mengantri sejak sehari sebelumnya untuk membeli apartemen. Bahkan teman-teman saya yang saat itu belum mampu membeli apartemen-pun ikut-ikutan mengantri karena peluang untuk membelinya saja bisa diperjual –belikan.


Dan yang terakhir yang kita saksikan beberapa pekan lalu di Logam Mulia – Antam, orang rela mengantri dari tengah malam untuk mendapatkan kesempatan membeli emas keesokan harinya – padahal harga lagi tinggi-tingginya. Ironinya orang malah tidak mengantri lagi ketika harga lagi rendah seperti hari-hari ini.


Anut grubyug atau ikut-ikutan inilah yang selalu berulang di berbagai sendi kehidupan. Bisa jadi ini pula penyebabnya mengapa “…kebanyakan manusia merugi…” itu.


Selama lebih dari tiga tahun memperkenalkan Dinar atau emas, memang ada fenomena aneh yang dapat saya tangkap. Puncak-puncak pembelian masyarakat justru terjadi ketika harga lagi tinggi-tingginya, puncak pembelian berikutnya terjadi ketika harga baru turun dari harga tinggi sebelumnya.


Ketika harga terus beruntun turun untuk beberapa lama, pembelian emas atau Dinar justru ikut turun. Rupanya tidak banyak orang yang menggunakan trend jangka panjang sebagai acuannya untuk mengambil keputusan investasi. Di situs inipun sebenarnya selalu terpampang trend jangka panjang setahun atau bahkan 10 tahun, jadi sebenarnya cukup informasi untuk mengambil keputusan investasi Anda dengan pertimbangan jangka panjang dan bukan karena ikut-ikutan atau anut grubyug. InsyaAllah hasilnya akan lebih baik bila Anda ‘mengerjakan PR’ dahulu dengan banyak membaca, ketimbang sekedar mengikuti kemana arus orang banyak berinvestasi. Wa Allahu A’lam.

by owner gerai dinar

Kamis, 05 April 2012

Keluar Dari Lingkaran Riba : Sulit Tetapi Harus Terus Diupayakan…

Ketika Fatwa MUI no 1 tahun 2004 tentang bunga bank riba dikeluarkan, saat itu saya masih aktif sebagai salah satu eksekutif di perusahaan yang berhubungan langsung dengan fatwa ini. Sebelum adanya fatwa ini keharaman bunga bank memang masih banyak diperdebatkan, organisasi masa Islam yang besar-besar pun saat itu belum menyatakan bahwa bunga bank adalah riba. Tetapi setelah adanya fatwa yang dikeluarkan oleh Komisi Fatwa – Majelis Ulama Insonesia – yang mewakili seluruh elemen penting umat Islam negeri ini – maka menurut saya sudah tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan, tinggal tantangannya adalah bagaimana kita bisa mengikuti fatwa para ulama ini dengan mencari solusinya.


Karena isi dari fatwa tersebut diatas tidak hanya terbatas pada produk-produk perbankan tetapi juga menyangkut seluruh produk-produk institusi keuangan lainnya, lantas bagaimana para eksekutif dan karyawan perbankan serta industri keuangan lainnya merespon fatwa ini ?. Secara umum saat itu saya berusaha memetakannya kedalam empat kelompok yang merespon-nya secara berbeda.

Kelompok pertama adalah kelompok yang tidak tahu atau tidak mau tahu tentang adanya fatwa tersebut diatas – bagi kelompok ini, ada atau tidak adanya fatwa riba ini tidak berpengaruh sama sekali terhadap pekerjaannya hingga kini. Kelompok yang kedua adalah kelompok yang tahu ada fatwa ini – tetapi mereka merasa ‘lebih tahu’ tentang haram tidaknya bunga bank – maka bagi kelompok yang kedua ini fatwa diatas juga tidak berpengaruh pada pekerjaannya.

Kelompok yang ketiga adalah kelompok yang menerima fatwa tersebut dan berusaha mentaatinya – hanya tidak atau belum tahu harus bagaimana. Kelompok yang keempat adalah kelompok yang menerima fatwa tersebut dan mulai membuat rencana-rencana bagaimana menjauhi riba dalam kehidupan modern yang bentuk-bentuk ribanya sudah sangat sophisticated ini. Untuk kelompok ketiga dan keempat inilah tulisan ini saya buat, mudah-mudahan bermanfaat.

Pasca keluarnya fatwa tersebut diatas, saya juga berusaha memetakan lebih jauh lagi seperti apa sesungguhnya riba yang mengepung kehidupan kita sehari-hari ini – bukan hanya mengepung para eksekutif dan pekerja di perbankan dan industri keuangan lainnya, tetapi mengepung seluruh masyarakat pekerja. Kepungan riba atau saya sebut sebagai lingkaran riba ini dapat dilihat pada ilustrasi dibawah ini. Lingkaran merah adalah ribanya, sedangkan garis-garis putih adalah celah-celah dimana kita bisa (berusaha) keluar dari lingkaran riba ini. Anda bisa perhatikan bahwa celah ini begitu kecil untuk menunjukkan betapa susahnya keluar dari lingkaran riba itu sekarang.


Lingkaran Riba

Melihat betapa sulitnya kita keluar dari lingkaran riba di jaman ini, maka sangat bisa jadi jaman ini adalah jaman yang sudah dikabarkan ke kita oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melalui haditsnya :

“Sungguh akan datang pada manusia suatu masa (ketika) tiada seorangpun di antara mereka yang tidak akan memakan (harta) riba. Siapa saja yang (berusaha) tidak memakannya, maka ia tetap akan terkena debu (riba)nya” (HR Ibnu Majah, HR Sunan Abu Dawud, HR. al-Nasa’i dari Abu Hurairah).

Untuk menggambarkan betapa riba tersebut telah mengepung Anda, berikut adalah situasinya :

· Bila Anda bekerja di perusahaan atau instansi apapun kini, hampir dapat dipastikan perusahaan atau instansi Anda menaruh sebagian besar dananya di bank konvensional dalam bentuk rekening koran, deposito dlsb. Bunga kemudian mengalir ke rekening ini – dan sampai pula ke gaji Anda, tunjangan, bonus dlsb.

· Selain gaji, sebagai karyawan Anda juga memperoleh jaminan kesehatan, dana pensiun, jaminan perlindungan kecelakaan kerja dlsb. Dimana dana-dana ini dikelola ? lagi-lagi mayoritasnya adalah di industri keuangan konvensional yang terkena fatwa riba tersebut diatas.

· Darimana Anda bisa tahu bahwa sebagian besar perusahaan atau instansi menggunakan bank dan industri keuangan konvensional untuk menaruh atau mengelola uangnya ?, Anda bisa tahu dari pangsa pasar bank dan industri keuangan syariah yang masih sangat kecil dibandingkan dengan yang konvensional. Artinya mayoritas perusahaan dan instansi masih menggunakan yang konvensional ketimbang yang syariah - tujuh tahun lebih sejak keluarnya fatwa riba tersebut diatas !.

Terlepas dari adanya kritik sebagian masyarakat yang menyatakan bahwa bank dan industri keuangan syariah-pun belum sepenuhnya syar’i, saya condong untuk mengajurkan penggunaan yang sudah berusaha menuju yang syar’i ini ketimbang yang terang-terangan tidak menghiraukan fatwa riba ini.

Untuk bank konvensional yang infrastruktur teknologi dan layanannya sudah jauh lebih unggul yang dalam realitasnya sudah banyak memberi manfaat untuk kepentingan transfer dana dlsb. Bisa saja bank-bank seperti ini tetap digunakan tetapi produk-produk ribawinya harus dihilangkan. Rekening koran misalnya tidak usah diberi bunga, tetapi gantinya diberikan dalam bentuk layanan yang sebaik-baiknya – karena masyarakat yang sadar keharaman bunga bank tidak membutuhkan bunga tetapi membutuhkan layanan yang baik. Produk semacam deposito misalnya, tidak perlu lagi digunakan karena kalau ada kelebihan dana – diputar di bisnis yang riil insyaAllah sudah akan lebih baik daripada sekedar ditaruh di deposito.

Untuk produk-produk asuransi, dana pensiun, jaminan kesehatan , jaminan kecelakaan kerja dlsb. menurut saya harus ada perlindungan konsumen muslim secara maksimal, jangan sampai pemenuhan kebutuhan hajat hidup orang banyak ini dipenuhi atau dikelola secara ribawi. Bayangkan misalnya ada keluarga Anda jatuh sakit, tetapi kemudian dirawat oleh perusahaan dengan jaminan asuransi yang dikelola secara ribawi (berdasarkan fatwa tersebut diatas) – do’a orang sakit yang seharusnya terkabulkan menjadi tidak terkabulkan karena pengaruh riba yang bisa jadi tidak Anda sadari.

Begitu pula ketika Anda berangkat pensiun, sudah seharusnya pada usia ini Anda berusaha mendekat kepada Sang Maha Pencipta. Tetapi tanpa Anda sadari, dana pensiun yang Anda gunakan sebagai bekal sebagiannya berasal dari riba yang terbawa oleh pengelolaan dana pensiun yang juga belum menghiraukan fatwa riba tersebut diatas.

Solusi bank syariah, asuransi syariah, dana pensiun syariah dlsb. bisa terus disempurnakan dan diupayakan untuk menjadi solusi yang bener-bener syar’i; namun solusi syar’i yang paling luas aplikasinya dan sesuai tuntunan yang sesungguhnya adalah menggalakkan perdagangan atau jual beli dan sedekah. Di dalam Al-Quran, ‘lawan’ dari riba hanyalah jual beli dan sedekah; maka inilah yang seharusnya digalakkan di masyarakat dan diajarkan sejak anak-anak. Anak-anak lebih baik diajari berdagang dan bersedekah ketimbang diajari menabung.

“… Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (QS 2 : 275)

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah…” (QS 2 : 276).

Tetapi jual beli-pun mudah sekali terjatuh pada riba bila tidak mengikuti ketentuan syariat jual beli, inilah sebabnya mengapa Umar bin Khattab ketika menjadi muhtasib (pengawas pasar) sering mengingatkan masyarakatnya untuk tidak berjualan dipasarnya bila tidak memahami syariat jual beli. Salah satu dari upaya konkrit untuk menumbuhkan keahlian dan kesempatan bagi masyarakat untuk bisa berjual beli secara syar’i ini kami wujudkan dalam bentuk antara lain berdirinya Al Tijaarah Institute yang hadir bersamaan dengan Bazaar Madinah, lha wong untuk menumbuh suburkan yang riba saja ada institut-institut-nya kok – masak kita tidak membangun kekuatan yang minimal sama untuk melawannya !,. InsyaAllah….

by owner gerai dinar

Rabu, 28 Maret 2012

Survival Strategy Di Era Harga Minyak Tinggi…

Beberapa hari ini hampir seluruh kota besar Indonesia diramaikan oleh berbagai aksi demonstrasi menentang harga minyak yang konon akan segera naik. Terlepas dari apakah upaya menentang kenaikan tersebut akan membuahkan hasil atau tidak, tetapi yang jelas cepat atau lambat masalah energy ini memang harus bijak disikapi. Ada yang perlu disikapi secara nasional, biarlah ini menjadi urusan para pemimpin dan wakil kita untuk memutuskannya – mudah-mudahan mereka memutuskannya dengan hati. Tetapi ada juga yang keputusannya ada di tangan kita, mengapa tidak kita mulai memikirkannya ?.



Diputuskan kapanpun kenaikan harga BBM ini apakah dalam waktu dekat atau masih bisa ditunda, yang jelas kenaikan harga barang-barang sudah mendahului merangkak naik. Bagi masyarakat yang berpenghasilan tetap, tentu ini menjadi sebuah pukulan yang berantai. Dia bukan hanya akan membayar ongkos transportasinya yang semakin mahal – tetapi juga ongkos untuk membeli kebutuhan sehari-harinya menjadi semakin mahal.



Sementara perusahaan tempat kerja kecil kemungkinannya untuk bisa serta merta menaikkan gaji para pekerjanya, karena mereka sendiri akan juga dipusingkan oleh naiknya ongkos produksi.



Tetapi apakah tidak ada jalan keluar untuk mengatasi masalah ini ?, mestinya selalu ada, bila kita mau bersungguh-sungguh mencari jalannya. Berikut adalah beberapa diantaranya yang bisa Anda coba lakukan untuk bisa survive ketika harga minyak toh akhirnya diputuskan naik.



Prinsip dasar dari solusi ini ada dua yaitu yang pertama menurunkan kebutuhan Anda khususnya pada ongkos transportasi. Yang kedua adalah menaikkan income Anda sehingga mampu mengungguli kenaikan biaya-biaya transportasi dan kebutuhan hidup lainnya. Bisakah ?, InsyaAllah bisa.



Seiring dengan perkembangan teknologi internet berkecepatan lumayan tinggi yang mudah di akses dari manapun tempat tinggal Anda – mestinya sudah sangat banyak pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah. Sehingga tidak harus terjadi berjuta-juta orang berjejalan ke pusat kota setiap hari hanya untuk melakukan pekerjaan rutin – yang sama baiknya bila dikerjakan di rumah.



Anda bersama perusahaan atau instansi tempat Anda kerja sudah waktunya memikirkan dan merundingkan hal ini. Banyak yang harus dirubah memang, selain system penilaian kinerja yang harus bisa berjalan efektif – faktor budaya juga harus dipersiapkan. Tetapi inilah cara yang masuk akal untuk menekan biaya transportasi, biaya energy untuk listrik kantor, biaya makan siang di kantor, biaya pakaian dan berbagai biaya lainnya.



Yang kedua bagaimana Anda bisa menaikkan pendapatan secara halal bila Anda seorang pegawai yang waktunya sudah full untuk pekerjaan Anda sekarang ?. Lagi-lagi salah satunya adalah tengoklah teknologi !.



Ada sekitar 50 – 60 juta pengguna internet di Indonesia saat ini, mereka mulai familiar mencari segala sesuatu via internet. Dari mencari mobil, rumah sampai juga kebutuhan sehari-hari bisa dicari disana.



Ketika orang berbelanja lewat internet, mereka tidak mengenal kendala waktu dan ruang – bisa dilakukan dari mana saja dan kapan saja. Jualan lewat internet juga menjadi cara yang mudah untuk mulai bisa berjualan – bagi orang yang tidak terbiasa berdagang dan menawarkan barang sekalipun.



Teknologi internet kini telah menjadi penggerak ekonomi yang luar biasa, karena teknologi ini mendorong dan mempercepat perdagangan – maka dampaknya juga tentu mempercepat produksi. Sumber daya yang selama ini idle, tiba –tiba bisa digerakkan menjadi mesin ekonomi yang canggih dengan teknologi yang satu ini.


Istri Anda yang selama ini di rumah-pun bisa tiba-tiba menjadi faktor produksi yang luar biasa, sambil menjalankan peran utama mereka mendidik anak dan melayani suami – mereka bisa membantu meningkatkan penghasilan rumah tangga Anda di sela-sela kesibukannya.



Bila kita bisa menekan biaya transportasi, pada saat yang bersamaan bisa menaikkan penghasilan keluarga – insyaallah kita tidak akan mencemaskan apapun yang nantinya diputuskan pemerintah dalam masalah BBM ini. Insyaallah.

by owner gerai dinar

Senin, 19 Maret 2012

The Day the Dollar Died...

Bagi yang akses internetnya cukup baik, Anda bisa langsung nonton clip film dengan judul The Day the Dollar Died tersebut dengan click disini. Menurut cerita si penulis scenario clip film tersebut, US Dollar akan mati dalam 12 jam mengikuti sequence yang sangat masuk akal berikut :

1) Quantitative Easing 4
Kita tahu bahwa sampai saat ini the Fed-nya Amerika sudah sampai melakukan Quantitative Easing 2 (QE 2). Karena mereka merasa tindakan penyelamatan ekonomi dengan mencetak uang dari awang-awang ini adalah tindakan yang benar, maka sangat mungkin mereka akan melakukan QE 3, QE 4 atau bahkan QE-QE berikutnya.

2) Response China
Sebagai negara yang memegang asset berupa surat hutang dalam US$ yang terbesar,
cepat atau lambat toleransi China pasti akan ada batasnya juga – bahwa pada suatu titik mereka tidak akan bisa menerima lagi penurunan nilai asset yang terus menerus terjadi bersamaan dengan serangkaian QE yang dilakukan oleh pihak Amerika. Batas titik toleransi ini diperkirakan hanya akan sampai QE 4, artinya dua kali lagi Amerika melakukan QE – China sudah tidak akan mempercayainya lagi dan China akan berhenti membeli surat-hutang dari Paman Sam tersebut.

3) Response Wall Street dan Main Street
Ketidak percayaan China terhadap Dollar dan ekonomi Amerika akan memicu jatuhnya saham di Wall Street yang merupakan icon ekonomi Amerika. Kejatuhan Wall Street akan membuat panik masyarakat awam yang mulai menyadari bahwa ekonomi negeri itu sedang runtuh – dan mereka akan menyerbu toko-toko dan supermarket untuk memborong barang-barang kebutuhan – baik yang benar-benar perlu maupun yang kurang perlu sekalipun. Ini akan mirip kejadian seperti di Indonesia di awal krisis 1997 dimana masyarakat berebut membeli susu, mie instant , minyak goreng dlsb. karena kawatir barang-barang kebutuhan pokok tersebut akan menghilang dari pasar.

4) Goal Bunuh Diri the Fed
Kepanikan pasar dan masyarakat akan di response dengan senjata (satu-satunya ?) yang dimiliki the Fed selama ini – yaitu memberikan stimulus ekonomi (lagi) berupa uang baru dari awang-awang yang sangat besar jumlahnya. Hal ini akan membuat kepanikan lebih jauh karena seluruh dunia menjadi tidak lagi percaya pada US$ yang dengan begitu mudah-nya dicetak atau digelembungkan jumlahnya.

5) OPEC Yang Mengakhiri US$
Setelah semua pihak, baik di dalam maupun diluar negeri tidak ada lagi yang bisa mempercayai US$ - tidak ada lagi yang mau menggunakan US$ ; maka kini giliran Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) – yang merupakan salah satu pengguna US$ terbesar dan yang selama ini sangat loyal – pun akhirnya akan mengakhiri penggunaan US Dollar dalam perdagangan minyaknya. Penghentian penggunaan US$ oleh OPEC ini ibarat pencabutan selang bantuan nafas – bagi pasien US$ yang lagi sekarat – maka berakhirlah usia US$ setelah pencabutan ini.

Menurut NIA, rangkaian peristiwa matinya US$ tersebut akan berlangsung dengan sangat cepat selama 12 jam saja – pada hari ke 19 di bulan Desember 2012. Percayakah Anda dengan fiksi ilmiah ini ?, tidak juga perlu terlalu dipercayai sepenuhnya. Namun bahwa karena peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam sequence tersebut sangat mungkin terjadi – adalah benar adanya. Oleh karenanyalah kita juga tidak perlu terlalu mengandalkan US$ baik untuk kebutuhan kita pribadi, maupun untuk menyimpan asset negeri ini. Wa Allahu A’lam.

by owner gerai dinar

Kamis, 15 Maret 2012

Enam Alasan Mengapa Kita Justru Butuh Emas/Dinar Di Era Ekonomi Global…



Dalam beberapa pekan terakhir ini kita bener-bener merasakan betapa terintegrasinya ekonomi dunia sekarang. Bahkan krisis di Negara yang sangat jauh baik dari sisi geografis maupun dari sisi hubungan ekonomi-pun, dampaknya dapat kita rasakan sampai negeri ini. Rupiah bisa lunglai, saham-saham di Indonesia Stock Exchange ikut anjlog – padahal pusat epicentrum gempa financial dunia-nya ada nun jauh di Yunani sana.

Lantas dengan komponen apa kita bisa membangun ‘bangunan tahan gempa financial’ kita ?, agar rencana pendidikan anak-anak yang masih belasan tahun, rencana pergi haji lima tahun mendatang, rencana renovasi rumah setiap sepuluh tahun, tabungan hari tua agar tetap mandiri sampai akhir hayat dlsb. dlsb. - tidak setiap saat terekspose risiko krisis financial global ?.

Emas atau Dinar-lah salah satu batu bata yang kokoh untuk bangunan finansial Anda sebagai jawaban dari risiko tersebut diatas, yang insyallah tahan gempa krisis financial global dengan frequency kejadian dan severity yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Emas/Dinar memiliki enam alasan yang tidak terbantahkan dan tidak dimiliki oleh instrumen investasi lainnya sebagai berikut :

Insurance Against Inflation

Harga kambing di jaman Rasulullah SAW 1 Dinar, sekarang-pun uang satu Dinar tetap dapat untuk membeli kambing ukuran besar. Apakah ada uang lain di dunia yang terbukti stabil daya belinya ( dengan average inflasi 0%) sepanjang lebih dari 1,400 tahun …?

Insurance Against Currency Devaluation

Negara-negara di dunia bila dalam posisi kepepet sering melakukan tindakan drastic men-devaluasi mata uangnya; bila ini terjadi, maka rakyat yang tidak siap selalu jadi korban. Emas atau Dinar adalah instrumen yang paling efektif dan praktis untuk cover risiko ini.

Optimal Security Against Geo-Political and Financial Market Instability

Ekonomi dan politik dunia saat ini seperti berada pada tanah yang labil, ‘gempa’ dalam skala besar bisa mulai dari krisis politik yang kemudian merambat ekonomi – dan sebaliknya bisa berawal dari ekonomi kemudian merembet ke politik. Selagi ada tempat ‘investasi’ yang lebih stabil, mengapa tidak pilih tempat tersebut ?.

Independently Based On Its Own Demand and Supply

Harga emas atau Dinar tidak ditentukan oleh kebijakan politik atau ekonomi suatu Negara manapun; harga emas bagian terbesarnya adalah dihasilkan oleh mekanisme supply and demand di market. Banyak pihak berusaha mempermainkannya selama ini, namun mekanisme pasar tetap lebih dominan.

Inherent Intrinsic Value

Emas membawa nilainya sendiri (inherent), tidak bisa didevaluasi oleh kebijakan suatu negara. Tidak pernah pula dalam sejarah peradaban manusia emas kehilangan daya belinya.

Portfolio Diversifier & Stabilizer

Sebagus apapun emas/Dinar sebagai instrumen investasi, saya tetap tidak menyarankan Anda memindahkan seluruh invesati Anda ke emas/Dinar. Kaidah investasi jangan menaruh seluruh telur pada keranjang yang sama – tetap berlaku; bukan karena risiko terhadap emasnya – tetapi karena kebutuhan Anda yang bisa tiba-tiba berubah.

Jadi jadikan emas/Dinar sebagai salah satu saja dari portfolio Anda; selebihnya bisa investasi di sektor riil; dan untuk kebutuhan jangka pendek dimana Anda memerlukan Rupiah sebagai alat tukar – kemungkinan besarnya Anda juga masih tetap memerlukan Rupiah ini sebagi bagian dari portfolio Anda.

by owner gerai dinar

Rabu, 14 Maret 2012

Investasi Dinar, Aman dan Menguntungkan

Terkait dengan tulisan mengenai Dinar sebagai alat investasi dan Pelindung/Proteksi - selain sebagai ‘uang’ dalam pengertian yang luas tentunya, maka kali ini saya ingin berbagi pandangan mengenai bagaimana sih posisi Dinar dibandingkan dengan alat investasi yang lain ?

Dalam hal investasi saya hanya akan membandingkan Dinar dengan 4 produk yang menjadi pesaing terdekatnya yaitu Deposito, Saham, Reksadana dan Investasi langsung di Sektor Riil. Asumsinya semua yang sesuai syariah – karena yang nggak syariah sudah harus ditinggalkan betapapun menariknya produk tersebut.

Parameter yang saya bandingkan juga saya batasi yang mudah dipahami masyarakat umum yaitu parameter hasil investasi, risiko, tingkat kesulitan, proteksi nilai dan likwiditas. Hasil perbandingan ini dapat dilihat di tabel.











Tingkat Hasil

Tingkat hasil dibawah 15 % saya kategorikan rendah karena hanya cukup melawan inflasi; dari 15 % s/d 50 % saya kategorikan sedang dan peluang hasil investasi diatas 50 % saya kategorikan tinggi. Dengan kriteria ini, maka deposito di bank manapun jatuh ke tingkat hasil yang rendah – karena rata-rata hasil depositio tidak cukup untuk mengimbangi inflasi.

Saham, reksadana dan Dinar emas masuk kategori sedang karena investasi di produk-produk ini dapat mencapai hasil yang lumayan menarik. Dinar sendiri dapat memberikan hasil berupa appresiasi nilai terhadap Rupiah rata-rata sebesar lebih dari 30 %/ tahun selama 40 tahun terakhir.

Hasil yang masuk kategori tinggi menurut penilaian saya hanya mungkin dicapai oleh investasi di sektor riil. Inilah sebabnya saya mendorong kita semua untuk menggerakkan sektor riil ini. Investasi sektor riil sangat mungkin memberikan hasil diatas 50 %.

Tingkat Risiko

Dalam hal tingkat risiko (kemungkinan bangkrut ) investasi di saham dan sektor riil saya kategorikan beresiko tinggi; artinya kalau kita tidak kuasai bener – maka investasi di dua sektor ini bener-bener bisa membuat kita bangkrut.

Deposito dan Dinar Emas sebaliknya merupakan investasi yang risikonya rendah; aman untuk dilakukan oleh orang awam sekalipun. Reksadana saya kategorikan sedang soalnya meskipun dengan bantuan tangan-tangan yang ahli meminimissasi risiko, investasi reksadana ini dalam beberapa tahun terakhir juga mencatatkan statistik yang tidak sepenuhnya aman.

Tingkat Kesulitan

Tingkat kesulitan ini sejalan dengan tingkat risiko; Untuk sektor riil misalnya – masuk risiko tinggi dan kesulitan tinggi untuk terjun didalamnya. Bagi yang bisa mengatasi dengan skills dan pengalamannya, maka kesulitan dan risiko yang tinggi ini tentu akan memberikan peluang hasil yang baik/tinggi – karena tidak banyak yang bisa melakukannya.

Proteksi Nilai

Ini aspek yang sangat penting dalam investasi tetapi jarang yang memperhatikannya. Ambil contoh kejadian tahun 1997/1998. Investasi saat itu adalah Deposito dan Saham. Sampai pertengahan 1997 semuanya berjalan mulus, hasil investasi deposito ok, saham pun ok. 6 bulan sampai 1 tahun berikutnya yang memilukan. Seluruh hasil investasi deposito dan saham menjadi hancur nilainya berkeping-keping karena semua tinggal angka Rupiah – sedangkan Rupiah nilainya hancur menjadi kurang dari seperempatnya.

Disinilah perlunya proteksi nilai itu...; deposito, saham, reksadana dan berbagai produk investasi ‘kertas’ atau ‘janji; yang dinilai dengan mata uang kertas – tidak memiliki proteksi nilai untuk melindungi investor dari kehancuran nilai mata uang yang bersangkutan.

Proteksi Nilai ini otomatis ada di Investasi Dinar/Emas , demikian pula investasi di sektor Riil karena pada umumnya memiliki objek investasi yang sifatnya membawa proteksi nilai (benda riil barang dagangan dlsb nilainya otomatis naik pada saat nilai uang turun).

Likwiditas

Likwiditas ini menyangkut seberapa mudah kita menarik investasi kita dan mencairkannya menjadi dana yang siap pakai apabila kita membutuhkannya untuk keperluan lain. Dari aspek ini, investasi sektor riil tentu pada umumnya yang paling sulit dicairkan karena bisa jadi investasi kita berupa pabrik, bahan baku, tanaman yang sedang tumbuh dan lain sebagainya yang tidak serta merta dapat kita uangkan setiap saat.

Deposito sebenarnya relatif mudah cair tetapi karena kemungkinan kita akan terkena penalti apabila menarik deposito sebelum jatuh temponya – maka saya kategorikan sebagai sedang dari sisi likwiditas. Saham dan Reksadana juga saya masukan kaegori sedang karena belum tentu dana kita bisa cair/dijual setiap saat pada harga yang proper ketika dana kita butuhkan.

Dinar atau Emas selalu mudah dicairkan menjadi uang karena sifat barangnya yang bisa dijual kemana saja. Bisa dijual ke sesama pengguna, bisa dijual ke Gerai Dinar atau agen, bisa dijual ke Logam Mulia – bahkan bisa dijual di toko emas pinggir jalan.

Kesimpulan...

Dengan perbandingan tersebut, secara kseseluruhan investasi mana yang paling baik ?

Sangat tergantung dari target kita dalam berinvestasi, sikap kita terhadap risiko dan faktor-faktor lain yang tidak sepenuhnya bisa dibandingkan.

Kalau orientasi kita hasil investasi misalnya, maka tidak ada yang lebih baik daripada bisnis di sektor riil . Memang investasi sektor riil ini bukan tanpa kelemahan yaitu antara lain di aspek risiko yang tinggi dan likwiditas yang sering tidak baik – tetapi ini semua bisa diatasi apabila kita memang ada skills yang dibutuhkan. Aspek lain dari investasi adalah penyebaran risiko – jangan menaruh seluruh telor pada satu keranjang yang sama.

by owner gerai dinar