Laman

Rabu, 06 Maret 2013

Empat Cerita…

Salah satu Ustadz saya setiap Jum’at mengingatkan saya dan juga nampaknya seluruh muridnya yang ter-record di Blackberry beliau, untuk mewaspadai fitnah Dajjal dengan menghafal 10 ayat pertama surat Al-Kahfi. Yang menarik adalah mengapa surat Al-Kahfi ? ternyata didalamnya ada empat cerita yang bisa menjadi survival kit bagi umat akhir jaman ini.

Cerita pertama adalah tentang sekelompok anak muda yang demi untuk menjaga keimanannya rela menyendiri dan menjauh dari masyarakat yang tingkat kerusakannya sudah tidak mungkin diperbaiki. Kelak mereka kembali ke masyarakat ketika situasi berubah. Ketika kembali ini mereka kembali dengan uang-nya sendiri dan selektif dalam memilih makanan : “…Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik…” (QS 18 :19)

Cerita kedua tentang gambaran kebun yang indah dan pemilik kebun yang sombong. Kesombongan yang melupakan kehendak dan kekuatan Allah – yang akhirnya berbuntut kebunnya dihancurkan oleh Allah. Sementara ada orang kedua yang disepelekan oleh pemilik kebun inipun mengingatkan “…mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu "MAA SYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH" (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu”(QS 18:39-40).

Cerita ketiga tentang Nabi Musa bersama muridnya dan Nabi Musa bersama gurunya yaitu Nabi Khidr. Bersama muridnya dia meng-eksplorasi alam dengan perjalanan yang jauh dan lama : “…."Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun"”. (QS 18 :60)

Bersama gurunya Nabi Musa diminta bersabar dalam menuntut ilmu : “…inilah perpisahan antara aku dengan kamu; Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS 18 :78)

Cerita keempat adalah tentang Zulkarnain, pemimpin yang adil, perkasa, berilmu dan mau bekerja keras untuk memberi solusi permasalahan yang dihadapi oleh rakyatnya: “Zulkarnain berkata: "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi" Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Zulkarnain: Tiuplah (api itu)". Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata: "Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu". (QS 95-96)

Belajar dari rangkaian empat cerita tersebut, maka survival kit kita untuk selamat di akhir jaman itu akan terdiri dari :

1.     Pemuda akhir jaman yang beriman, mampu membentengi diri dari pengaruh rusaknya masayarakat pada jamannya. Mereka mempunyai system keuangan (kehidupan) –nya sendiri, dan mereka menjaga makanan (rezeki) nya.
2.     Mereka bekerja keras mengolah dan memakmurkan bumi dengan tetap bertawakkal dan menyadari bahwa bila mereka berhasil – itu semua atas kehendak dan kekuasaan Allah semata.
3.     Mereka mengamalkan ilmu-ilmu yang mereka miliki untuk mengeksplorasi potensi alam, dan pada saat yang bersamaan mereka belajar meningkatkan keilmuannya secara terus menerus dengan sabar.
4.     Mereka dipimpin oleh pemimpin yang adil, kuat, berilmu pengetahuan dan mau terjun langsung bersama masyarakat untuk menyelesaikan segala persoalan yang ada, pemimpin yang mampu menciptakan keamanan di masyarakat.

Tentu perlu kajian dan pendalaman yang menyeluruh untuk segala bidang – agar empat cerita tersebut bisa menjadi inspirasi untuk amal nyata di dunia yang sudah penuh dengan fitnah ini.

Sekitar setahun dari sekarang, negeri ini akan hiruk pikuk dengan pesta demokrasi untuk memilih para pembuat undang-undang dan pemimpin negeri. Maka dengan pembanding empat cerita di atas, mudah-mudahan kita dimudahkan untuk mengambil sikap kita. Apakah waktunya kita lari menyendiri ke ‘gua’ kita sendiri, atau waktunya terjun menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada di masyarakat.

Seandainya toh kita berpendapat bahwa system yang ada begitu rusaknya sehingga kita waktunya lari ke gua-gua; sikap optimism itu masih layak dibangun untuk jaman ini. Bahwa kita belum menuju akhir jaman, sebelum sekali lagi kita menuju kemakmuran.

Maka, tidak inginkah kita menjadi bagian dari umat yang ikut merintis jalan untuk menuju kemakmuran sekali lagi seperti berita nubuwah berikut ?.

Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnya tetapi dia idak mendapatkan seorangpun yang bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai " (HR. Muslim).

Kemakmuran sekali lagi itu oleh dan untuk orang-orang yang sadar zakat – siapa lagi yang sadar zakat kalau bukan kita umat ini ?, lantas siapa lagi yang harus mulai bekerja mewujudkannya bila bukan kita-kita yang hidup di jaman ini ?. Wa Allahu A’lam.


Merdeka Dengan Bergandengan Tangan…

Pada tahun 1939 Josef Stalin mengadakan perjanjian rahasia dengan Adolf Hittler untuk menguasai tiga negara di sekitar laut Baltic yaitu Estonia, Latvia dan Lithuania. Dalam kekuasaan Uni Soviet, penduduk di negara-negara tersebut dilarang mengibarkan benderanya dan bahkan juga dilarang menyanyikan lagu kebangsaannya. Baru 50 tahun kemudian (1989) penduduk di negara-negara tersebut bisa merdeka. Dengan apa mereka merdeka ? tanpa perang dan tanpa perundingan – mereka merdeka dengan secara harfiah penduduknya bergandengan tangan satu sama lain.


Negara-negara Baltic
Mereka bergandengan tangan membentuk rantai manusia yang panjangnya 360 miles atau sekitar 580 km – membentang dari ujung utara Talinn di Estonia – melewati Latvia dan berakhir di kota Vilnius di Lithuania.  

Untuk membentuk rantai manusia yang setara jarak Jakarta - Magelang ini diperlukan 1,200,000 orang yang terdiri dari 300,000 orang Estonia, 400,000 orang Lithuania dan 500,000 orang Latvia. Saat rantai manusia yang sangat panjang ini terbentuk,  sekitar 1 dari 5 orang di masing-masing negara ikut dalam gandengan tangan ini.

Hal kecil yang remeh temeh bila dilakukan sendirian atau sekelompok kecil orang – hanya sekedar bergandengan tangan, tetapi sangat dasyat bila dilakukan serentak dalam jumlah orang yang sangat banyak. Maka apa yang bisa memotivasi mereka untuk berbuat bersama inilah yang sangat penting.

Dalam hal negeri-negeri Baltics tersebut, yang memotivasi mereka adalah keinginan untuk merdeka – agar mereka bisa mengibarkan bendera mereka sendiri dan agar mereka bisa menyanyikan lagu kebangsaannya lagi !.

Beruntung kita sudah 67 tahun lebih merasakan kemerdekaan de jure itu, kita bisa mengibarkan bendera kita dan juga bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya tanpa ada yang melarangnya. Tetapi secara de facto – sejak awal euphoria kemerdekaan de jure kita-pun sudah ada yang mengingatkannya.

Yang menjajah kita pasca kemerdekaan de jure memang bukan lagi negara tetapi apa yang disebut corporatocracy – gabungan kepentingan antara perusahaan-perusahaan raksasa dunia dengan institusi-institusi global.

Melalui penjajahan corporatocracy ini peternak sapi dalam negeri terjajah oleh impor daging, demikian pula dengan peternak susu, petani kedelai, petani jeruk dan berbagi buah-buahan lainnya. Atas nama perdagangan bebas petani dan pengusaha kecil di suatu negeri dengan mudah tergencet oleh industrialis raksasa dari negara-negara besar yang mencengkeram dunia.

Memang tidak dibutuhkan suatu negara untuk menjajah negara. Negeri ini pernah dijajah oleh sebuah perusahaan yang bernama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), maka tidak mengherankan bila di jaman modern inipun kembali korporasi-korporasi raksasa dunia bisa menjajah kita.

Dengan cara mereka, kita dipaksa ‘mengibarkan bendera mereka’ dan dipaksa pula ‘menyanyikan lagu’ mereka. ‘Bendera’ ini terwakili oleh merek-merek dagang mereka, dan ‘lagu-lagu’ ini terwakili oleh kegemaran kita meniru budaya mereka.

Beruntunglah orang-orang di negeri Baltics tersebut di atas – suatu saat setelah 50 tahun terjajah mereka merasakan hal yang sama yaitu rasa terjajah dan ingin merdeka, lantas mereka bergandengan tangan bareng dan akhirnya merdeka.

Kita masih tiga langkah di belakang mereka, pertama kita belum menyadari bahwa kita terjajah oleh penjajahan modern. Kedua karena belum merasa terjajah maka kita belum merasa perlu untuk memerdekakan diri. Dan yang ketiga karena belum merasa perlu memerdekakan diri tentu kita juga belum merasa perlu untuk berbuat bareng.

Tetapi mudah-mudahan kita bisa terus melangkah, mengejar ketinggalan kita, mengejar kemerdekaan hakiki kita. Merdeka dalam system hukum, dalam system ekonomi, politik, perdagangan, budaya,  pemikiran dst. Merdeka dengan bergandengan tangan… InsyaAllah !


Senin, 04 Maret 2013

Jalan Yang Lurus…

Bayangkan Anda berjalan atau mengemudikan mobil di jalan yang lurus dari A ke B, jalan yang tidak ada belokan dan tidak bercabang – mungkinkah Anda tersesat ?. Anda tidak mungkin tersesat, tetapi belum tentu Anda sampai ke tujuan. Sampai tidaknya Anda ke tujuan tergantung dengan fit tidaknya Anda untuk menempuh perjalanan itu dan perbekalan yang Anda miliki. Prinsip menempuh jalan lurus ini berlaku untuk seluruh aspek kehidupan kita.

Yang pertama dan terpenting adalah menemukan jalan yang lurus itu dahulu, karena bila jalan itu masih berbelok-belok dan bercabang sangat mungkin kita tersesat. Dalam hal ibadah misalnya, kita diajari untuk minta petunjuk jalan yang lurus itu setidaknya 17 kali dalam sehari semalam “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. (QS 1:6)

Dalam hal usaha, ketika Anda menyiapkan business plan – tantangan terberat Anda adalah memetakan ‘jalan yang lurus’ tersebut. ‘Jalan yang lurus’ bagi sebuah usaha adalah kejelasan visi, ketajaman misi, kejituan strategi dan kedisiplinan aksi. Setelah ‘jalan yang lurus’ bagi usaha Anda tersebut terpetakan – insyaAllah usaha Anda sudah tidak akan tersesat.

Masalahnya adalah ‘tidak tersesat’  tidak berarti bahwa Anda akan sampai pada apa yang Anda cita-citakan tersebut. Setelah ‘jalan yang lurus’ itu Anda temukan, kesiapan fisik Anda untuk menempuh perjalanan itu dan juga perbekalan Anda menjadi tidak kalah pentingnya.

Maka Anda harus pandai mengukur jarak tempuh itu disesuaikan dengan kesiapan ‘fisik’ Anda atau team Anda beserta perbekalannya. Anda tidak bisa melampaui jarak tempuh melebihi jarak yang bisa ditempuh oleh team Anda. Jadi hal berikutnya yang juga sangat penting setelah ‘jalan yang lurus’, kondisi badan yang ‘fit’ dan perbekalan yang dibutuhkan – adalah teman atau team seperjalanan Anda.

Namun perlu diingat, bila perjalanan Anda melibatkan orang lain sebagai teman atau team seperjalanan – Anda harus mau berbagi tentang jalan yang akan Anda tempuh, Anda harus me-lead perjalanan itu sehingga tidak terjadi perdebatan sepanjang jalan. Itulah sebabnya dalam Islam ada istilah Amirul Safar-pemimpin perjalanan, agar di setiap perjalanan itu ada yang memimpin dan mengambil keputusan pada saat yang diperlukan.

Setelah ‘jalan yang lurus’ ditemukan, kondisi Anda fit, perbekalan cukup , team  lengkap, dan vision sharing sudah dilakukan untuk berjalan menuju arah yang sama – dari waktu ke waktu Anda tetap harus memotivasi team Anda untuk terus berjalan menuju sasaran yang dituju.

Bahkan bukan hanya sekedar sampai tujuan, harus ada upaya untuk memotivasi bagi mereka yang bersedia menempuh extra miles – perjalanan lebih dari yang sekedar ditargetkan. Ketika berdo’a untuk diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke surga sekalipun, kita dianjurkan untuk minta surga yang paling tinggi Al-Firdaus Al A’la !.

Dalam seluruh aktifitas kehidupan kita ada yang minimal dan ada maksimalnya. Yang minimal adalah ‘jalan yang lurus’ dan yang maksimal adalah kesediaan untuk menempuh ‘extra miles’. Dalam ibadah  ada yang wajib dan ada yang sunnah melengkapi yang wajib.

Dalam usaha, banyak cara yang Anda bisa tempuh untuk memotivasi team Anda untuk menempuh extra miles – lebih dari yang harus mereka kerjakan. Kebiasaan bekerja lebih dari yang bersifat keharusan ini – bukan hanya baik untuk perusahaan, tetapi juga baik untuk setiap individu yang membiasakan diri untuk melakukannya dalam setiap aspek kehidupannya.

Dalam sebuah hadits qudsi ketika Allah menggambarkan para waliNya, Allah menggambarkannya sebagai berikut :

“Siapa saja yang memusuhi wali-Ku, dia berarti telah memaklumkan agar Aku memerangi dirinya. Tidaklah seseorang bertaqarrub kepada Diri-Ku yang lebih Aku sukai seperti saat dia menunaikan apa saja yang telah Aku wajibkan kepada dirinya. Seorang hamba senantiasa bertaqarrub kepada Diri-Ku dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintai dirinya. Jika Aku telah mencintai dirinya, Aku menjadi pendengarannya yang dengan itu dia mendengar; menjadi penglihatannya yang dengan itu dia melihat; menjadi tangannya yang dengan itu dia menyerang; menjadi kakinya yang dengan itu dia melangkah. Jika dia memohon kepada Diri-Ku, niscaya Aku mengabulkan doanya. Jika dia memohon perlindungan kepada Diri-Ku, pasti Aku akan melindungi dirinya.” (HR al-Bukhari).

Para wali adalah orang-orang yang menempuh extra miles yang sunnah dalam ibadahnya. Bayangkan bila Anda dan team Anda membiasakan bukan hanya yang wajib, tetapi juga yang sunnah seperti yang disebutkan di hadits qudsi tersebut – team Anda akan seperti team-nya ‘para wali’ – yang mendengar dengan ‘pendengaran Allah’, melihat dengan ‘penglihatan Allah’, menyerang dengan ‘tangan Allah’, berjalan-pun dengan ‘kaki Allah’. MasyaAllah team para wali ini…!

Untuk ukuran negeri ini misalnya, mungkinkah ‘team para wali’ tersebut diwujudkan di negeri ini ?, saya melihat kemungkinan itu. Terlepas dari begitu meng-haru-biru’nya berita tentang kerusakan politik demokrasi yang diwarnai oleh tindak korupsi yang melibatkan hampir seluruh partai, dari yang rendahan sampai ke tingkat menteri dan para pemimpin partai - namun dibalik ini semua terbesit kabar bahwa para pimpinan KPK adalah orang-orang yang selalu melaksanakan yang wajib dan melaksanakan pula yang sunnah - barangkali dengan itulah mereka berani menangkap siapa saja yang berani korupsi di negeri ini !. Mudah-mudahan mereka bisa menjadi team ‘para wali’ yang menyelamatkan negeri ini, dengan mengawal negeri ini untuk kembali berjalan di ‘jalan yang lurus’ dan mengunggulkan negeri ini melalui perjalanan extra miles yang akan kita tempuh bersama….InsyaAllah.



Investasi Yang Aman…

Dalam dunia investasi ada ungkapan “if it is too good to be true, it may not be true…” bila suatu tawaran investasi itu terlalu indah untuk menjadi kenyataan, mungkin memang tidak nyata. Ungkapan inilah yang menjadikan banyak orang menjadi korban penipuan investasi emas dan perbagai investasi lainnya yang ramai di media akhir-akhir ini.

Maraknya pemberitaan masyarakat yang tertipu dalam investasi emas ataupun investasi lainnya tidak jauh dari ungkapan tersebut. Kalau Anda cermati beritanya, Anda bisa deteksi bahwa suatu investasi itu “…too good to be true…” atau media menyebutnya investasi ‘bodong’ antara lain Anda akan menemukan setidaknya  5 poin berikut :

1.     Menjanjikan untung yang pasti…
2.     Menjanjikan bagi hasil yang sangat besar…
3.     Menjual dengan harga yang melebihi kewajaran…
4.     Investasi dengan tidak ada barangnya…
5.     Produk investasi yang dijual dengan persuasive (gambaran indah yang melebihi kenyataannya) …

Sebaliknya, lima poin ini misalnya Anda tidak akan temukan di investasi Dinar dari Gerai Dinar.

1.     Gerai Dinar tidak pernah menjanjikan untung yang pasti, bahkan sering kita ingatkan di situs ini untuk tidak berspekulasi dengan emas/Dinar.
2.     Kalau toh ada hasilnya, Gerai Dinar tidak menjanjikan hasil yang besar.
3.     Untuk harga, Anda bisa bandingkan harga Dinar dari Gerai Dinar dengan harga di produsen yang mencetaknya seperti Logam Mulia (www.logammulia.com) insyaallah harga Gerai Dinar tidak lebih mahal dari harga di tingkat produsen ini. Bisa juga di cek kewajarannya dengan harga emas fisik di pasaran.
4.     Gerai Dinar menekankan penjualan sedapat mungkin secara fisik, hanya bila karena satu dan lain hal Anda tidak mau atau tidak comfortable menyimpannya sendiri saja boleh dititipkan dan dapat diambil kapan saja Anda perlukan fisiknya.
5.     Gerai Dinar melarang jaringan penjualnya baik agen maupun sub agen untuk menjual Dinar secara persuasive – memberi gambaran yang melebihi kenyataannya. Bahkan panduan keagenan Gerai Dinar adalah utamanya untuk kepanjangan tangan Gerai Dinar dalam meng-edukasi masyarakat – masyarakat yang paham tetapi tidak membeli lebih baik dari yang membeli tetapi tidak paham. Oleh karena itulah situs ini tidak memberikan link atau panduan cara untuk membeli Dinar, karena kami tidak ingin masyarakat yang belum paham buru-buru dan rame-rame membeli Dinar.

Selain hal-hal tersebut di atas, ada baiknya juga masyarakat selektif dalam memilih jenis investasi apapun baik itu emas, deposito, asuransi dlsb. Jangan menganggap semuanya aman, tetapi juga jangan gebyah uyah mengganggap semuanya tidak aman. Bahwasanya ada kasus deposito yang tidak aman di Bank Century yang bermasalah misalnya, lantas tidak berarti bahwa bank-bank lain juga tidak aman. Bahwasanya ada klaim-klaim di perusahaan asuransi tertentu yang tidak dibayar yang seharusnya atau sulit dicairkan, tidak berarti berurusan dengan  perusahaan asuransi itu semuanya sulit. Demikian pula dengan emas, bahwa ada investasi emas yang menipu – tidak berarti pula bahwa seluruh investasi emas itu menipu.

Emas telah menjadi instrumen investasi dan perlindungan nilai sejak jaman kakek – nenek kita, dengan adanya beberapa kasus yang marak di media masa akhir-akhir ini – tidak lantas menjadikan investasi emas itu tidak lagi aman. Perhatikan kuncinya antara lain di lima poin di atas .

Lebih dari itu semua, dalam perbagai tulisan di situs ini – bahkan menjadi kategori tulisan terbanyak (entrepreneurship), sering kita ungkapkan bahwa investasi terbaik itu adalah investasi di sektor usaha riil yang Anda jalankan sendiri dengan baik. Tidak mudah memang, dan bahkan dalam proses membangunnya sering Anda harus bermandikan keringat sampai berurai air mata – tetapi ada hasil investasi yang tidak bisa Anda peroleh di tempat lain, tidak harus hasil yang sifatnya materi – tetapi kepuasan bahwa Anda telah berusaha…! InsyaAllah.


Rabu, 27 Februari 2013

Makmur Dengan Menikah…

Sebuah riset di Amerika belum lama ini mengungkapkan bahwa orang-orang yang menikah dan tetap dalam pernikahannya (tidak bercerai), rata-rata empat kali lebih makmur ketimbang mereka yang tidak menikah atau bercerai di tengah jalan. Ini sekali lagi secara tidak langsung membuktikan kebenaran Al-Qur’an, yang sejak lebih dari 1400 tahun lalu sudah memberi solusi kemiskinan melalui salah satu jalannya yaitu pernikahan.

Ayatnya adalah : “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS 24:32)

Perintah untuk mengawinkan “…orang-orang yang sendirian di antara kamu…” itu masyaAllah indahnya bila diterapkan oleh pemimpin umat. Beberapa tahun lalu saya diundang untuk ikut menyaksikan langsung keindahan ini - bagaimana pemimpin umat menikahkan 500-an pasang pemuda-pemudi Palestina di pengasingan.

Mereka tinggal di negeri orang karena negerinya sendiri dijajah oleh Zionis Israel, tetapi pemimpin mereka masih sempat mengurusi pernikahan para muda-mudinya. Bukan hanya sekedar menikahkan, mereka juga memfasilitasinya dengan tempat tinggal, perabot rumah tangga dan bahkan termasuk uang yang cukup untuk memulai hidup baru – setahun kedepan !.

Barangkali inilah rezeki-nya orang-orang yang menikah sebagaimana dijanjikan di ayat tersebut di atas. Kalau saja para pemimpin kita meyakini kebenaran ayat tersebut di atas – urusan menikah di negeri ini mestinya bukan hanya dipermudah tetapi juga difasilitasi negara.

Lha wong pemimpin dari negeri yang terusir karena kedzaliman penjajah saja masih bisa menikahkan dan membekali rakyatnya kok, apalagi kita yang hidup berdaulat di negeri sendiri dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah.

Kebenaran ayat tersebut di atas – bahwa menikah mendatangkan kemakmuran – sungguh telah terbukti, maka pemerintah bisa menggunakan salah satu strategi pengentasan kemiskinan itu dengan cara menikahkan pemuda-pemudinya yang masih lajang.

Mengapa orang yang menikah lebih berpeluang untuk makmur ?, berikut adalah antara lain hasil riset yang saya sebutkan di atas.

Orang yang menikah cenderung lebih bertanggung jawab dalam hal keseriusan bekerja untuk memperoleh nafkah dan bertanggung jawab pula dalam penggunaannya.

Orang yang menikah berbagi dalam segala hal, yang bila sendiri-sendiri harus membeli masing-masing satu – ketika mereka menikah cukup membeli satu untuk berdua. Ini berlaku untuk rumah, peralatan rumah tangga, peralatan dapur, makanan dlsb. Bahasa ekonominya ada efisiensi dalam pernikahan, ada economies of scale !.

Orang yang menikah lebih berpeluang untuk menghindari pembelanjaan hasil jerih payahnya secara sia-sia, sehingga hasil jerih payahnya lebih banyak untuk membangun kemakmuran bagi keluarga dan keturunannya.

Di atas itu semua ada yang tidak bisa diungkap oleh riset di atas, yaitu petunjuk Ilahiah bahwa dengan menikah itu seorang laki-laki akan menjadi tenang/tenteram (sakinah) dan ada cinta serta kasih sayang (mawaddah wa rahmah) bersama dengan istrinya.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS 30 :21)

Bagi Anda yang belum menikah, bersegeralah dan jangan takut miskin karena menikah – justru sebaliknya, menikah adalah salah satu jalan untuk menghindarkan kemiskinan. InsyaAllah.


Tongkat Nabi Musa…

Awalnya adalah sebuah tongkat biasa, ini tercermin dari pengakuan pemiliknya ketika ditanya : “Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?” (QS 20:17). Yang ditanya-pun menjawab : “…Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya” (QS 20:18). Namun setelah diberi mukjizat oleh Yang Maha Kuasa, berbagai persoalan besar terselesaikan melalui tongkat ini.

Ketika berhadapan dengan para tukang sihir pilihan Fir’aun, Musa diberi petunjuk untuk menggunakan tongkatnya : “…Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang".(QS 20 : 68-69)

Ketika Musa dan kaumnya terjepit di antara lautan dan musuh yang mendekat, Musa diberi petunjuk untuk menggunakan tongkatnya : “..."Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (QS 26 :63)

Kerika terjadi krisis air-pun sekali lagi Musa diberi petunjuk untuk menggunakan tongkatnya : “…"Pukullah batu itu dengan tongkatmu". Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing) Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” (QS 2 :60)

Allah, Tuhan yang sama yang memberi Nabi Musa ‘Alaihi Salam mukjizat melalui tongkatnya – tentu sangat kuasa untuk memberi mukjizat kepada siapapun yang dikehendakiNya dan kapan-pun Dia kehendaki. Untuk kita yang hidup di akhir jaman ini – mukjizat itu-pun disesuaikan dengan jaman kita. Bukan lagi berupa tongkat, tetapi sebuah sumber ilmu yang tidak akan habis digali, sumber petunjuk yang tidak akan pernah menyesatkan siapa saja yang mengikutinya.

Ketika umat ini tersihir dengan kemajuan teknologi umat yang lain, keperkasaan ekonomi umat yang lain dan tekanan politik pemikiran umat yang lain – maka waktunya umat ini untuk menggunakan ‘tongkat – mukjizatnya’ – yaitu kembali kepada petunjuk-petunjuk yang ada di Al-Qur’an untuk meraih keunggulan dan mengalahkan segala bentuk sihir modern yang kita hadapi ini.

Ketika umat ini terjepit di antara musuh-musuh yang semakin mendekat siap meng-kooptasi segala aspek kehidupan kita, di tengah keterbatasan ilmu dan sumber daya lainnya yang kita miliki – maka kinipun waktunya kita kembali pada ‘tongkat –mukjizat’ kita, kembali ke Al-Qur’an untuk mencari solusi yang bisa jadi belum pernah terbayangkan oleh kita sebelumnya. Solusi yang bisa membelah lautan-pun dimungkinkan melalui Mai’ya Robbi – Tuhanku bersamaku.

Ketika dunia menghadapi berbagai krisis pangan, energi dan air (FEW – Food, Energy and Water), maka kita-pun waktunya kembali ke ‘tongkat- mukjizat’ untuk mampu mengeluarkan air (juga pangan dan energi) - bahkan dari tempat yang tidak terduga sekalipun – ‘air yang memancar dari bebatuan’.

Ini semua dimungkinkan karena Allah sendiri yang sudah menjanjikan kita solusi atau jawaban atas segala permasalahan yang kita hadapi : “ …dan Kami turunkan kepadamu Kitab Al-Qur’an sebagai penjelasan (jawaban) bagi segala hal…”. (QS 16 :89)

Bayangkan bila di tangan kita ada tongkatnya Nabi Musa – seperkasa apa kita saat ini ?. Padahal ‘tongkat’  itupun bener-bener ada di tangan kita kini – hanya saja tentu sesuai jamannya – tidak secara harfiah berbentuk tongkat. Dia berupa Kitab yang didalamnya memberikan jawaban atas segala hal yang kita hadapi atau perlukan saat ini.

Sesuai jamannya pula, penggunaan ‘tongkat’ ini tidak lagi dengan cara dipukulkan seperti pada jamannya Nabi Musa – tetapi dengan cara yang paling sesuai untuk jaman modern ini, yaitu dengan dibaca, dihafalkan, dipahami, diamalkan dan juga diajarkan. Lima hal ini yang perlu rame-rame kita budayakan (kembali) kini.

Di tangan kita ada mukjizat yang tidak kalah dengan mukjizat tongkatnya Nabi Musa, diberikan oleh Allah – Tuhan yang sama dengan Tuhan-nya Nabi Musa – maka seyogyanya umat ini siap menghadapi Fir’aun-Fir’aun siapapun Fir’aun itu di jaman kini. Seyogyanya umat ini bisa keluar dari seluruh ancaman dan problema jaman, mulai dari ancaman musuh, kendala alam sampai krisis pangan , energi dan air. InsyaAllah kita bisa.