Laman

Jumat, 14 Januari 2011

Peluang & resiko bisnis teknologi informasi

Mengintip Bisnis Teknologi Informasi di Masa Depan
Deriz S. Syarief
Hampir 40 tahun lalu, Gordon Moore, direktur riset Fairchild Semiconductor mengamati bahwa setiap 18 bulan, kekuatan prosesor meningkat dua kali lipat Dalam satu tahun, jumlah transistor yang dapat dimampatkan dalam satu chip silicon secara ekonomis berlipat ganda.

Fenomena yang dikemukakan peraih gelar Ph.D di bidang Kimia dan Fisika dari California Institute of Technology itu dikenal sebagai, 'Moore's Law'. Gordon Moore kini menjabat sebagai Chairman Emeritus di perusahaan prosesor dunia Intel Corporation.
Berangkat dari hukum Moore itu, lembaga riset pasar Gartner memprediksikan tahun 2008 umum dijumpai di rumah-rumah PC desktop berkecepatan 40 GigaHertz dan memori (RAM) 12 Gigabytes. Media penyimpanannya mencapai 1,5 terabytes (1500 Gigabytes), sementara lalu lintas data pada local area network (LAN) mendekati 100Gigabit per detik.
Kecepatan prosesor terus meningkat hingga 150GHz pada 2011 dengan enam terabytes media storage. Belum lagi kemajuan teknologi fisika kuantum seperti transistor nanotubes dan spintronics yang diyakini melipatgandakan unjuk kerja komputer.
Kekuatan komputer yang sebesar itu sangat mungkin mengubah cara manusia menggunakannya. Menurut prediksi Gartner, pada 2008 sebagian besar manusia mengadaptasi remote computing.
Pada saat itu, PC kemungkinan hanya terdiri dari peranti output -monitor, printer- dan peranti input -keyboard, mouse saja. Semua proses dan penyimpanan data dilakukan oleh 'komputer bersama' nun jauh di sana.
Hasil proses dikirimkan melalui bandwidth kepada PC pengguna, layaknya listrik disalurkan ke rumah-rumah dari reaktor pembangkit melalui sejumlah gardu.
Komputasi jarak jauh itu dimungkinkan karena kapasitas bandwidth sudah sedemikian besarnya. Biaya remote computing akhirnya menjadi lebih murah ketimbang local computing. Proses komputasi pun menjadi sebuah layanan publik. Pengguna tinggal menyediakan monitor dan papan ketik, lalu mencolokannya ke jaringan. Tidak perlu upgrade atau mengganti hard disk jika sudah penuh, karena itu akan dilakukan oleh perusahaan penyedia layanan yang dikenal sebagai application service provider.
Berkonsolidasi

Analis Gartner Carl Claunch memprediksikan sedikitnya satu perusahaan teknologi informasi yang tergolong kelas kakap, menghilang mulai 2004. Entah akibat akuisisi, merger, kehilangan pasar atau teknologinya absolete. Perusahaan-perusahaan dot com pun berguguran dan ibarat kolam, ikan besar memangsa ikan kecil.
Sebelum akhir 2007, industri teknologi informasi memasuki masa oligopoli -segelintir vendor menguasai pasar. Setelah konsolidasi, industri ini akan kembali tumbuh dan menghasilkan inovasi baru.
Konsolidasi vendor besar itu berdampak pada model arsitektur sistem teknologi informasi pada perusahaan. Jumlah vendor yang tidak terlalu banyak membuat peranti lunak dan peranti keras lebih kompatibel antara satu dengan yang lainnya.
Aplikasi dan middleware di masa datang akan lebih mudah diatur dan dikonfigurasi ulang sehingga lebih adaptif terhadap perubahan bisnis. Aplikasi bisnis tidak saja menyatukan berbagai divisi internal, tetapi sudah menghubungkan perusahaan dan lembaga bisnis dalam satu ekosistem ekonomi. Claunch menyebut arsitektur aplikasi ini sebagai interenterprise system.
Konsep konektivitas ini merupakan evolusi dari enterprise resources planning (ERP), customer relationship management (CRM) dan supply chain management (SCM).
Saling keterkaitan antar unit bisnis inilah yang dijanjikan oleh Web Services dan standar industri extensible markup language (XML). Bila pasar menyambut keduanya dengan baik, aplikasi akan memiliki kemampuan plug-and-play sesuai kebutuhan bisnis.
Hasil akhirnya, produktivitas dan efisiensi perusahaan melonjak drastis dan ujung-ujungnya akan mendongkrak ekonomi secara makro. Perusahaan mengoptimalkan Internet dan Intranet untuk menjalankan bisnisnya kapan saja, dimana saja dengan biaya serendah mungkin.
Namun, meningkatnya produktivitas diramalkan membuat banyak orang kehilangan pekerjaan. Sistem otomatisasi akan memangkas kebutuhan tenaga kerja manusia.
Pada 2005, diperkirakan 70% perusahaan yang bergerak lewat Internet jumlah karyawannya berkurang 10% dan pada 2010, sebanyak 60% perusahaan mengurangi 30% karyawannya.
Analis Gartner mengingatkan pengurangan ini baru terjadi pada saat tingkat utilisasi sistem otomatisasi mencapai 100%. Di tahun sebelumnya, kebutuhan tenaga kerja teknologi informasi akan melonjak terlebih dahulu guna menyiapkan peranti keras dan lunak untuk otomatisasi itu.
Peranan bank Presence service bisa diartikan sebagai segala macam layanan yang mendukung keberadaan individu. KTP, SIM, Kartu ATM, Kartu Kredit, Smart Card, alamat email, dan user ID adalah beberapa diantara jenis layanan itu. Tanpanya manusia modern tidak bisa berbuat apa-apa, tidak diakui keberadaannya.
Kehadiran presence service ini berawal dari konsep 'one-click Internet' yang menawarkan pengaturan preferensi dan informasi sesuai kebutuhan pengguna ketika berselancar di Internet.
Ke depan, bank akan lebih banyak berperan sebagai presence service provider karena sektor ini sarat dengan teknologi informasi dalam menjalankan bisnisnya. Disamping itu, bank sudah biasa berurusan dengan security dan privacy nasabahnya. Gartner memprediksikan 70% bank sukses mengelola layanan ini sebelum 2007.
Dari potret masa depan itu, terlihat peranan teknologi informasi dalam dunia bisnis semakin besar. Teknologi informasi tidak lagi dipandang sebagai cost center, bukan juga hanya sebagai profit center tetapi sudah menjadi enabling factor -faktor penyedia yang memungkinkan bisnis berjalan. Dalam setiap keputusan bisnis terkandung muatan teknologi informasi yang semakin kental, begitu juga sebaliknya.

Bisnis Teknologi Informasi 2007 Diprediksi Capai Rp 2,2 Triliun
Selasa, 05 Desember 2006 | 19:35 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta:

Transaksi bisnis teknologi informasi (TI) pada 2007 diperkirakan mencapai Rp 2,2 triliun. Ketua Asosiasi Piranti Lunak Indonesia (Aspiluki) Djarot Subiantoro mengatakan rencana pemerintah melegalkan piranti lunak di setiap komputer di kantor pemerintah mendorong peningkatan industri teknologi informasi.

“Belanja pemerintah dan BUMN untuk sektor TI mencapai 60 persennya,” kata Djarot, Senin (4/12). Selain itu rencana pemerintah menetapkan tahun 2007 sebagai tahun teknologi informasi turut memberikan andil bagi peningkatan transaksi bisnis TI.

Rencana itu dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pengurangan angka pembajakan di Indonesia. Aspiluki memprediksikan transaksi bisnis TI tahun ini sekitar Rp 1,9 Triliun. Dari jumlah itu 80 persennya berasal dari transaksi perangkat keras seperti personal komputer dan aksesorisnya. Sedangkan piranti lunak menyumbang 20 persen.
p

Peluang & resiko bisnis SPBU

Persaingan Bisnis SPBU
Persaingan bisnis SPBU akan semakin ketat dan atraktif. Apalagi makin banyak pemain dari luar yang masuk dan beroperasi di Indonesia. Kendati akhir-akhir ini BBM mengalami masalah di negeri ini, perusahaan penyuplai BBM ini, terus tumbuh setiap tahun. Pertumbuhannya sangat pesat, seiring dengan bertambahnya jumlah kendaraan bermotor yang terus meningkat setiap tahun.

Selain itu, kebutuhan industri pun juga sangat tinggi. ''Kebutuhan BBM di Indonesia untuk jenis premium mencapai 56 ribu kiloliter (kl) per hari, dan untuk jenis disel mencapai 70 ribu kiloliter per hari,'' kata Toharso, general manager Humas PT Pertamina, kepada Republika, Selasa (30/1) di Jakarta.
Sepanjang tahun 2004, kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap BBM mencapai 64,4 miliar liter. Dari jumlah itu, kebutuhan untuk transportasi (ritel) dan industri cukup berimbang. ''Kebutuhan ritel mencapai 34,3 miliar liter dan komersial sebesar 30 miliar liter,'' kata Fathia Syarif, manager Komunikasi Perusahaan, Shell Companies in Indonesia, kepada Republika.
Besarnya kebutuhan masyarakat Indonesia akan BBM ini, membuat perusahaan asing tertarik untuk menanamkan investasinya di Indonesia dan mencoba bersaing memperebutkan kue yang ada.
Di Indonesia, pasar BBM dikuasai oleh Pertamina. Jumlah Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) Pertamina mencapai lebih dari 3.600 buah. Sementara itu, perusahaan asing lain yang saat ini sudah beroperasi di Indonesia adalah Royal Ducth Shell (berpusat di Belanda) dan Petroliam Nasional Berhad (Petronas) asal Malaysia.
Saat ini, Shell telah membuka lima SPBU di Indonesia. Yakni, di Lippo Karawaci (Tangerang), Buncit (Mampang Prapatan), Jalan Gatot Soebroto, Jalan Soeprapto dan Jalan S Parman (Jakarta). Shell menjual produk bahan bakar seperti Shell Super Extra, Shell Super dan Shell Diesel.
Sementara itu, Petronas telah memiliki empat SPBU, yakni di Cibubur (Jaktim), Lenteng Agung (Jaksel), Pekayon (Bekasi), Cikokol (Tangerang). BBM yang ditawarkan berupa Primax 92, Primax 95 dan Diesel.
Selain Shell dan Petronas, kabarnya, perusahaan minyak raksasa asal Perancis, Total, juga berencana menanamkan investasinya di Indonesia dan siap merebut hati masyarakat Indonesia. Total berencana membangun enam SPBU di Jakarta. Januari lalu, Presiden Direktur Total, Thierry Desmarest seusai bertemu dengan Presiden SBY mengatakan, pihak Total sangat tertarik dengan prospek bisnis SPBU di Indonesia. Karena itu, pihaknya telah menambah investasi sebesar enam juta dolar AS di Indonesia selama lima tahun, yang digunakan untuk eksplorasi sumber minyak dan gas baru.
Kabarnya, Total saat ini juga sedang melanjutkan negosiasi dengan Pertamina untuk menambah produksi gas untuk domestik dan ekspor. Saat dimintai tanggapannya mengenai kehadiran sejumlah perusahaan asing dalam bisnis SPBU ini, Toharso mengatakan, hal justru makin membuat Pertamina diuntungkan. Selain itu, tentu saja, konsumen pula yang senang.
''Pertamina melihat, hadirnya para pesaing dalam bisnis SPBU ini akan makin membuat Pertamina tambah kuat. Kenapa? Karena Pertamina akan semakin mempercepat proses transformasi dalam segala bidang, mulai dari layanan, sistem informasi hingga kinerja operator,'' paparnya.
Apalagi, lanjutnya, sebagai pemain yang sudah lama berkiprah dalam bisnis ini dan merupakan pemain dengan pangsa pasar terbesar, Pertamina memiliki jaringan infrastruktur yang sangat luas.
Layanan Terbaik
Toharso menilai, saat ini dan di masa depan, persaingan bisnis SPBU semakin ketat dan atraktif. Sebab, lanjutnya, bukan saja masing-masing perusahaan akan pure (murni) berbisnis BBM, melainkan juga akan merambah fasilitas lainnya.
Hal itu juga diungkapkan Media Relation Petronas Niaga Indonesia, Bayu Anggraeni. ''Persaingan yang sangat ketat, harus diimbangi dengan strategi yang baik. Bisnis SPBU tidak hanya sekedar menjual BBM, tetapi juga layanan servis yang baik dan kemudahan akses serta fasilitas bagi konsumen, seperti minimarket, laundry, mushalla dan lainnya. Karena itu, Petronas membuat SPBU berkonsep one stop shopping (layanan satu atap),'' kata Bayu kepada Republika.
Petronas, ungkapnya, berencana terus melakukan ekspansi dan melebarkan sayapnya dengan menambah SPBU di sejumlah daerah. ''Kami berharap, tahun 2007 ini bisa menambah SPBU Petronas antara 40-50 unit,'' jelasnya.
Persaingan di bisnis ini memang sangat ketat. Apalagi, masing-masing perusahaan berupaya memberikan layanan terbaik bagi konsumennya. Bila Petronas mengembangkan konsep one stop shopping, Pertamina membuat konsep Pertamina Way.
Konsep SPBU Pertamina Way mengandalkan lima kaidah, yaitu aspek mutu dan jumlah (kualitas bagus dan takaran tepat), aspek SDM dan operator yang selalu menerapkan 3S (Salam, Senyum, Sapa). Kemudian aspek keamanan (ada petugas keamanan/satpam); lalu aspek fasilitas (mushalla, cafe, dan toilet); dan aspek servis pelayanan secara umum (menyangkut hak-hak konsumen). ''Kami akan terus menambah SPBU Pertamina Way. Tahun ini, sedikitnya kami membuat 150 SPBU Pertamina Way se-Jabodetabek atau 300 SPBU di seluruh Indonesia,'' ungkap Toharso.
Saat ini Pertamina memiliki lebih dari 3.600 unit SPBU di seluruh Indonesia. Dalam mengembangkan jaringan SPBU, kata Toharso, Pertamina memiliki tiga jaringan, yaitu Coco (Company on Company Operated) -- Pertamina yang bertindak sebagai operator dan agen -- Codo (Company on Dealer Operated) -- Pertamina sebagai operator dan diler sebagai agen,-- dan jaringan Dodo (Dealer on dealer Operated) --diler yang bertindak sebagai operator dan agen.
Sementara itu, Shell mengedepankan konsep QQS (Quality, Quantity and Service). Kualitas terbaik, dengan kuantitas (jumlah) yang tepat dan akurat serta layanan yang memuaskan konsumen. ''QQS ini merupakan tiga pilar yang dikembangkan Shell. Dan Shell akan terus konsisten menerapkan konsep ini tidak hanya sekadar kata-kata. Selama ini, karyawan Shell juga terus melayani konsumen dengan sikap yang santun, sopan dan menyenangkan hati konsumen,'' ungkap Fathia.
Pengusaha SPBU Ogah Rugi!

Pengusaha SPBU ogah rugi!. Demikian kira-kira ungkapan yang muncul di beberapa media pada awal Desember 2008 kemarin. Pemberitaan miring mengenai franchisee Pertamina ini muncul seiring dengan keputusan pemerintah melalui Pertamina untuk menurunkan harga BBM bersubsidi (Premium) sebesar Rp. 500,- sehingga harga Premium menjadi Rp. 5.500,-. Pengusaha SPBU bertindak tidak professional dengan mengurangi pemesanan Premium pada beberapa hari sebelum tanggal efektif keputusan tersebut. Dengan demikian, mereka mengurangi kerugian akibat proses jual rugi; yakni membeli stok premium dengan harga lama (Rp. 6.000,-) namun dijual dengan harga baru. Bagi pengusaha sektor retail lainnya, praktik bisnis seperti ini mungkin sah-sah saja terlebih dalam situasi krisis financial seperti sekarang ini. Namun, SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) sebagai jalur distribusi BBM adalah bisnis yang menyangkut kepentingan orang banyak yang harus mengutamakan prinsip layanan terhadap masyarakat (public service obligation).

Pertanyannya, bagaimana hubungan supply chain antara Pertamina Hilir dan SPBU ini dioptimalkan sehingga kejadian stok habis tidak terulang lagi? Terlebih lagi, pada awal 2009 nanti penetapan harga jual BBM (tidak hanya Pertamax, namun juga Premium dan Solar) akan mengikuti mekanisme harga pasar yang tentunya memperbesar uncertainty (demand uncertainty) bagi pengusaha SPBU. Apa langkah yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut?

Inventory Planning SPBU

Terlepas dari intense atau niatan buruk dari beberapa oknum pengusaha SPBU, kasus stok habis di beberapa daerah pada dasarnya merupakan persoalan inventory planning dan supply chain planning and control. Dalam Operations Management, kedua konsep diatas merupakan usaha untuk mengurangi ketidakpastian dalam bisnis dan sebagai media untuk mencapai tujuan bisnis; yakni memberikan value bagi pelanggan. Dalam konteks bisnis SPBU, value yang diberikan kepada pelanggan adalah ketersediaan BBM sesuai kualitas yang ditetapkan oleh Pertamina dengan takaran yang tepat pula sesuai program “Pasti Pas”. Selain ketersediaan (availability), aspek kualitas dan ketepatan takaran juga merupakan aspek yang sedang hangat diperbincangkan dan akan dibahas pada kesempatan lain. Terlebih lagi, keputusan untuk merubah harga jual BBM dari fixed menjadi floating menambah faktor ketidakpastian tersebut. Artikel ini memfokuskan pembahasan pada aspek ketersediaan terkait dengan adanya ketidakpastian akibat perubahan harga diluar kompetisi dengan retailer swasta. Mengikuti logika ekonomi, pada saat harga naik maka permintaan akan BBM juga berkurang; demikian pula sebaliknya. Pada masa lalu, fenomena ini muncul setiap ada perubahan penetapan harga. Pada saat BBM bersubsidi naik dari Rp. 4.500,- menjadi Rp. 6.000,- pada awal 2008, antrean kendaraan marak terjadi di hamper setiap SPBU menjelang hari kenaikan harga. Konsumen ingin menikmati harga lama semaksimal mungkin dengan mengisi penuh tanki bahan bakar; meskipun hal ini berlangsung beberapa hari saja. Sebaliknya, ketika kali ini harga diturunkan; giliran pengusaha melakukan hal tidak terpuji yang mengakibatkan Pertamina mengurangi kiriman BBM akibat prediksi demand yang (seolah-olah) turun. Dapat Anda bayangkan apa yang terjadi jika perubahan ini berlangsung dalam frekuensi yang lebih tinggi dan tidak terprediksi. Laju roda ekonomi akan terhambat akibat isu transportasi yang berkepanjangan.

Setiap SPBU perlu memiliki safety stock level yang dikontrol oleh Pertamina sebagai franchisor berdasarkan moving average demand yang dihitung dari historical data penjualan BBM. Safety stock level ini merupakan inventory cost yang akan dikompensasi dengan besaran margin penjualan BBM. Dengan sinergi ini, Pertamina mencapai tujuannya untuk memberikan public service obligations melalui availability BBM yang konsisten melalui jaringan franchise SPBU-nya. Sebaliknya, resiko bisnis pengusaha SPBU akibat demand uncertainty menjadi lebih terukur melalui indikator safety stock level. Inventory cost yang dibebankan tersebut diperhitungkan dari holding cost dan ordering cost.

Holding cost merupakan biaya yang muncul karena menetapkan level inventory tertentu yang ditentukan oleh besarnya safety level stock, biaya penyimpanan, opportunity cost, pengurangan stock-out cost, fluktuasi permintaan BBM, dsb. Diskusi holding cost akan semakin menarik karena setiap SPBU menjual beberapa jenis BBM (Solar, Premium, Pertamax, BioSolar, dst) yang masing-masing memiliki pola penjualan yang berbeda yang tentunya memiliki safety level stock yang berbeda pula. Sedangkan ordering cost, merupakan biaya pemesanan terkait dengan pemeliharaan safety stock level; dan bukannya seluruh biaya ordering cost. Besarnya akan tergantung dari persentase safety stock level terhadap total inventory total. Ordering cost muncul dari biaya komunikasi, biaya modal, biaya system pembayaran, dan biaya sumber daya manusia yang tergantung dari frekuensi dan lead time pemesanan. Oleh karena itu, Pertamina dan SPBU perlu mendiskusikan Inventory Control System yang digunakan; memilih Q-System atau P-System berdasarkan faktor lokasi SPBU, kepraktisan, dan keamanan.

Supply Chain Planning and Control

Bagi Pertamina, persoalan ini merupakan persoalan manajemen supply chain; khususnya dari sisi distribusi. Kunci sukses Pertamina dalam hal ini adalah mendapatkan forecast demand yang presisi sehingga cukup akurat untuk mengukur kebutuhan produk BBM yang harus dipasok kepada SPBU sebagai retailer dan mendesain jalur distribusi yang tepat sehingga distribusi produk BBM sampai tepat jumlah dan tepat waktu. Untuk itu, data moving average demand dari masing-masing SPBU perlu dikumpulkan sedini mungkin sehingga demand forecast dapat ditetapkan yang selanjutnya menjadi patokan penyusunan production forecast. Sesudah mengintegrasikan lead time dari faktor supplier dan faktor produksi, Pertamina dapat menyusun distribution schedule kepada masing-masing SPBU untuk menjamin availability produk BBM bagi publik.

Aspek yang tak kalah perlu diperhatikan adalah kontrol terhadap pengusaha SPBU yang melanggar ketentuan kemitraan yang ditetapkan. Tindakan tegas perlu diberikan agar mekanisme yang sudah direncanakan berjalan lancar dan tidak mengganggu jalur distribusi yang lain. Demikian pula terhadap SPBU yang lain, perlu diawasi sehingga tidak ada peluang untuk melakukan tindakan yang dapat merugikan pelanggan pada umumnya, dan Pertamina pada khususnya. Menjamin availability produk BBM bukan pekerjaan mudah, terlebih melibatkan daerah distribusi yang cukup luas dengan tingkat kesulitan daya jelajah yang cukup tinggi pada daerah tertentu. Suatu langkah taktis yang dapat dijalankan pada daerah distribusi tertentu, belum tentu dapat pula diterapkan pada daerah distribusi yang lain. Terlebih lagi, distribusi ini melibatkan pihak eksternal (franchisee) yang tentunya memerlukan strategi khusus untuk menjalankannya. Jantung picunya adalah komitmen untuk memenuhi janji menjamin pasokan BBM domestik demi pertumbuhan ekonomi dalam negeri. ***

Peluang & resiko bisnis sekolah musik

Sekolah musik semakin diminati masyarakat
BISNIS INDONESIA JAKARTA
Perkembangan minat bermusik di Tanah Air beberapa tahun terakhir mendorong sejumlah perusahaan membidik bisnis pengembangan dan pendidikan musik bagi masyarakat yang ingin mengasah keterampilan musik. Rahayu Kertawiguna, President Director PT Naga Swarasakti, perusahaan yang bergerak di bidang label rekaman, publishing, dan manajemen artis, memprediksikan industri musik Tanah Air akan tumbuh subur dan mendorong pertumbuhan pendidikan nonformal di bidang musik.

Saat ini, lanjutnya, pihaknya mengurus perizinan untuk mengembangkan sekolah musik dengan ruang lingkup terbatas sekitar 20-25 murid per kelas. "Kami ingin memberikan kesempatan kepada calon musisi agar dapat berkembang dan berkiprah di bisnis musik melalui Nagaswara,"katanya kepada Bisnis kemarin.
Di sisi lain, Rahayu juga sedang menyiapkan pembangunan Nagaswara Music Center (NMC) seluas 2.000 meter persegi di kawasan Cibubur pada 2012. NMC, lanjutnya, dimaksudkan sebagai tempat pembudidayaan dan pengembangan musik. Rahayu berencana melengkapi NMC dengan pelatihan musik, workshop, klinik musik, dan studio rekaman bagi artis di bawah label perusahaan tersebut.
Dia mengatakan saat ini telah memiliki lahan seluas 400 meter persegi untuk membangun gedung. Namun, Rahayu masih menunggu pembebasan lahan di kawasan tersebut untuk memenuhi kebutuhan total lahan seluas 2.000 meter persegi bagi pembangunan gedung dan lahan parkir. "Saya belum bisa menyebutkan nilai investasinya karena masih menunggu pembebasan beberapa tanah lainnya," ujarnya. Tingginya potensi pasar peminat musik Juga menyulut lembaga pendidikan nonformal Primagama mengembangkan unit usaha penyelenggaraan pendidikan musik pada tahun ini.
General Manager Primagama Indonesia Adam Primaskara mengatakan minat masyarakat untuk memberikan pendidikan musik kepada anaknya luar biasa. Dia mencontohkan gerai pendidikan musik milik Primagama di Yogyakarta telah menerima 200 pendaftar sejak soft launching pada bulan lalu.
"Kami menetapkan biaya pendidikan semi, ii Rp500.000 per anak per bulan per satu bidang musik. Temyata peminatnya tidak hanya dari kalangan menengah ke atas, tetapi juga ada dari kalangan kelas sosial bawah seperti dari keluarga tukang becak," katanya.
Adam mengaku menyiapkan kelas untuk pembelajaran sembilan jenis bidang musik antara lain kelas vokal.gitar, bas, piano, biola, drum, dan lain-lain. O


mana tren tengah bertiup, ke situlah para pengusaha mengarahkan jaring bisnisnya. Begitu pula sekarang ini, maraknya kontes menyanyi dan mencetak bintang instan di televise di antaranya Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dan AFI Junior, Indonesia Idol, Bintang Cilik, dan Kontes Dangdut Indonesia (KDI) membuat banyak orang tergila-gila ingin menjadi artis musik.
Nah, kursus musik atau sekolah olah vokal pun mulai kebanjiran murid. Apalagi bila sekolah musik itu milik pemusik atau artis kondang. Muridnya tak hanya remaja atau orang dewasa, tapi juga anak-anak kecil yang baru bisa ngomong. Siapa tahu si kecil bisa kayak artis cilik Joshua, atau Samuel si juara AFI Junior yang menggemaskan itu. Agaknya, begitulah pikiran para orang tua yang belakangan getol mengirim anak-anaknya ke sekolah menyanyi. “Belajar musik memang tidak kenal usia,” tutur Fuadi, General Manager Purwa-Caraka Music Studio Kelapa Gading yang sekarang ini memiliki 400 murid.
Bila ingin menjaring keuntungan dari tren ini, mengapa tak mencoba membuka usaha kursus musik atau sekolah menyanyi di daerah Anda? Bila tak pede alias tidak percaya diri lantaran belum mempunyai nama di kancah musik, Anda bisa menggaet penyanyi kondang untuk bergabung. Cara lain yang lebih gampang, Anda tinggal ikutan waralaba yang ditawarkan para pesohor, contohnya pemusik Purwacaraka.
Sejak tahun lalu, pemusik yang ejaan nama sebenarnya Purwa-Tjaraka ini mulai menawarkan waralaba sekolah musik Purwa-Caraka Music Studio yang didirikannya 15 tahun silam. Peminatnya lumayan banyak. Saat ini, dari 23 gerai Purwa-Caraka Music Studio, 17 di antaranya merupakan milik terwaralaba yang tersebar di berbagai kota besar. Bahkan, kabarnya, setelah Lebaran sekolah musik Purwa-Caraka akan bertambah tujuh lagi, sehingga jumlahnya menjadi 30 sekolah.
Sebenarnya, ucap penata musik KDI ini, jumlah peminat waralabanya jauh lebih besar dari jumlah itu. Namun, pihaknya masih menunda keputusan pemberian waralaba bagi sejumlah peminat yang berlokasi di Jakarta. Pasalnya, dalam menjalankan bisnis waralaba sekolah musik ini, Purwa membagi area agar satu gerai dengan gerai lainnya tak saling “memakan”. “Kami menjual waralaba secara terbatas dan dibagi per area. Ini tidak seperti bisnis makanan yang bisa ada di setiap mal walau letaknya berdekatan,” terang abang kandung penyanyi Trie Utami ini.
Pertimbangkan daya beli pasar
Untuk membuka usaha sekolah musik maupun menjadi terwaralaba Purwa-Caraka, setidaknya ada tiga syarat utama yang harus Anda miliki. Yakni: kecintaan pada musik, lokasi yang strategis, dan modal.
Soal lokasi, Purwacaraka me-nsyaratkan, terwaralaba harus memiliki setidaknya delapan kelas yang terdiri dari kelas vokal, piano, keyboard, drum, biola, gitar klasik, gitar elektrik, dan bas. Targetnya, 300 murid setiap bulan. Dengan target ini, sebaiknya Anda tidak membuka usaha di mal atau pusat perbelanjaan, karena ongkos sewa ruangnya pasti sangat besar.
Menurut Purwacaraka, di Jakarta ini tempat-tempat strategis untuk membuka sekolah musik memang tidak banyak lagi. Tapi, di daerah luar Jakarta, pasarnya masih begitu luas. “Peminatnya banyak sementara pesaingnya sedikit,” ujar Purwa. Tapi, ada satu hal yang harus dihitung benar secara cermat oleh calon terwaralaba di daerah, yakni daya beli orang di daerah mungkin saja lebih rendah ketimbang orang Jakarta.
Karena perbedaan ini, mau tak mau biaya kursus di Jakarta dan di daerah pun tak bisa sama. Untuk kelas dasar vokal, misalnya, sekolah di Jakarta bisa memasang harga Rp 200.000 per bulan. Sekolah di daerah seperti Bandung, Yogyakarta, Semarang, atau Surabaya paling hanya bisa memasang tarif Rp 150.000 per bulan.
Ini berarti, dengan jumlah murid yang sama, pendapatan pengusaha sekolah musik di Jakarta dan di luar Jakarta bisa berbeda. Padahal, investasi sekolah musik di daerah umumnya tidak lebih murah dibandingkan dengan investasi di Jakarta. Di daerah, boleh jadi sewa ruangnya lebih murah dari Jakarta. Tapi, soal alat-alat musik, harganya tak jauh berbeda, bahkan di daerah biasanya lebih mahal. Kalaupun dibeli di Jakarta, ada tambahan biaya transportasi ke daerah. Belum lagi bila pengusaha daerah harus mendatangkan para tukang dan ahli dari Jakarta untuk menciptakan ruang kelas yang benar-benar akustik dan layak pakai.
Bicara soal modal, terwaralaba Purwa-Caraka Music Studio setidaknya harus menyediakan modal awal sebesar Rp 255 juta (lihat boks: Hitung-hitungan Waralaba Sekolah Musik Purwa-Caraka). Dari jumlah itu, Rp 50 juta merupakan franchise fee, dan sekitar Rp 30 juta untuk membeli alat-alat musik. Agar alat-alat musik sesuai dengan standar, pihak Purwa-Caraka yang akan menyediakan semua alat-alat musik tersebut. Pihak Purwa-Caraka juga akan mengawasi renovasi ruang belajar agar sesuai dengan standar dan memiliki akustik yang mantap.
Selain franchise fee, Purwa-Caraka selaku pewaralaba juga akan mengutip royalty sebesar 10% dari pendapatan bulanan si terwaralaba. Sebagai imbalannya, terwaralaba berhak mendapatkan sistem kerja, kurikulum, dan sistem operasional komputer untuk para murid. Dan, tentu saja, terwaralaba bisa menggunakan nama besar Purwa-Caraka di tempat kursusnya.
Nama besar saja tentu tak menjamin suksesnya bisnis kursus musik ini. Kunci keberhasilannya juga terletak pada keandalan para guru. Untuk menjamin kualitas instruktur atau guru, Purwacaraka sendiri akan turun tangan dalam audisi dan proses perekrutan para tenaga pengajar di setiap gerai. Untuk mendapatkan guru yang berkualitas, para terwaralaba pun harus berani membayar gaji para instruktur dengan standar 40% dari tarif kelas yang mereka tangani.
Keuntungan yang dinikmati terwaralaba memang lebih kecil dibandingkan dengan gaji para instruktur tersebut. Sebab, dari total omzet yang diterimanya, terwaralaba juga harus mengeluarkan berbagai biaya lain, seperti biaya operasional dan sewa tempat.
Tentu saja setiap kali menerima murid baru ada uang pendaftaran sebesar Rp 300.000 per orang. Ini bisa menjadi tambahan pendapatan terwaralaba. Tapi, menurut Purwacaraka, terwaralaba tidak bisa berharap terlalu besar. “Sisanya paling besar 25% dari omzet,” katanya.
Dengan target murid 300 orang, dan keuntungan bersih 15% dari omzet saja, terwaralaba bakal balik modal dalam tempo 2,4 tahun. Bila mau balik modal lebih cepat, Anda harus bisa menjaring lebih banyak murid lagi.
08 Jun 2010

Peluang & resiko bisnis perlengkapan sekolah

Pedagang Perlengkapan Sekolah Panen

BERITA - peluang-bisnis.infogue.com - JAKARTA, KAMIS-Sudah menjadi siklus tahunan, setiap menjelang tahun ajaran baru pedagang perlengkapan sekolah memasuki musim panen. Meski demikian, secara umum para pedagang tidak menaikkan harga.
"Sebenarnya sepatu yang lama masih ada, tapi setiap ajaran baru sekolah anak-anak minta dibeliin sepatu baru. Ya kita beliin sepasang sepatu seharga Rp 59.900," kata Tety, ibu dua anak yang ditemui di outlet Sepatu Bata di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (7/7).
Hal yang sama dikatakan Ny Ani yang sedang membelikan sepatu anaknya yang baru sekolah di Taman Kanak-kanak. Sepatu warna pink seharga Rp 89.900 dibelikan untuk putri semata wayangnya. "Biar sekolahnya bersemangat meski harga sepatu barunya hanya Rp 89.900," katanya.

Menurut salah satu pegawai outlet Bata yang enggan menyebut namanya, hari Minggu (6/7) ketika toko baru buka tiga jam, sedikitnya 200 pasang sepatu terjual. Meningkatnya penjualan sepatu juga dialami pedagang kaki lima di Asemka dan Pasar Minggu. Di Asemka harga sepatu warna hitam mulai Rp 25.000 sampai Rp 30.000, sedangkan di Pasar Minggu mulai Rp 40.000 sampai Rp 45.000. Harga tersebut masih bisa ditawar dan pada umumnya bisa turun Rp 5.000."Yang paling laku sepatu warna hitam. Setiap hari bisa menjual 50 pasang, makanya stok sepatu warna hitam kita perbanyak," kata Teguh pedagang sepatu di Asemka.
Mudik
Sementara itu, dari pemantauan Warta Kota di pusat perdagangan garmen dan tekstil di Pasar Tanahabang, permintaan akan pakaian seragam sekolah secara eceran meningkat. "Sejak awal bulan Juli, banyak ibu-ibu yang belanja seragam sekolah. Satu hari bisa terjual sampai 100 kodi untuk melayani pembelian eceran," ungkap H Sjafruddin; pedagang seragam sekolah dari toko Bradhers.
Peningkatan permintaan akan pakaian seragam sekolah secara eceran juga dialami Harkat dari toko Tiga Sekawan. "Jika sebelumnya satu hari bisa menjual 10 kodi, sejak awal bulan ini mampu menjual 25 kodi per hari. Semakin mendekati hari masuk sekolah, pembehan seragam sekolah secara eceran makin ramai," katanya.
Meski terjadi peningkatan akan pakaian seragam sekolah, tidak semua pedagang bisa memenuhi permintaan dan harga jual relatif stabil. Sebab, sekarang ini kesulitan mencari tukang jahit. "Sekarang ini saya tidak bisa berproduksi secara optimal. Karena tukang jahit pada pulang kampung untuk mengurus anaknya sekolah," kata Harkat.
Demikian juga dengan pengakuan H Sjafruddin. "Sejak bulan Juni lalu, tukang jahit dari Pekalongan dan Sukabumi pada mudik. Untungnya saya sudah produksi sejak akhir tahun lalu," ucapnya. (Warta Kota/lis/ver)
Tahun Ajaran 2009/2010 sebentar lagi bakal segera berakhir. Masa liburan yang akan datang dan para siswa artinya juga akan kembali ke sekolah. Kesempatan ini dimanfaatkan betul oleh pelaku bisnis. Berbagai bisnis penjualan perlengkapan sekolah pun kini mulai ramai.
Kondisi ini juga dimanfaatkan oleh Suzuya. Pusat perbelanjaan tersebut juga siap menyediakan berbagai peralatan yang nantinya dipakai saat Tahun Ajaran datang. ”Kita sebagai penyedia produk sandang bagi masyarakat tentunya harus mengerti jauh-jauh hari akan kebutuhan apa yang diinginkan konsumen dimasa mendatang,” jelas Safarudin, Manager Store Suzuya Pekanbaru kepada riaubisnis.com, Selasa (11/5/2010).
Safarudin memaparkan manajemennya kini tengah mempersiapkan penyediaan beberapa item produk yang berkaitan dengan kebutuhan sekolah pelajar,. Nantinya program ini dikemas dalam bentuk back to school. “Setidaknya kita bisa terlebih dahulu mensosialisasikan bahwa Suzuya telah memiliki banyak item-item produk sekolahan seperti paket buku, tas, seragam dan sepatu sekolah,” jelasnya.
Ditambahkannya, selama sepanjang Juni-Agustus 2010, penjualan Suzuya bakal banyak didominasi oleh produk-produk untuk kebutuhan sekolah. Dengan peningkatan jumlah serta jenis barang, Safarudin yakin target toko akan meningkat sebesar 20 persen dari angka penjualan tahun sebelumnya.
Pendapat sama juga disampaikan Suhardi, pemilik toko buku Ikhlas saat di jumpai riaubisnis.com, di jalan A Yani, No 22, Pekanbaru. “Kalau sudah mau masuk liburan sekolah biasanya kita semakin memperbanyak penjualan kelengkapan alat-alat tulis. Permintaan bisa mencapai 5 kali lipat dari hari-hari biasa,” paparnya.
Biasanya peningkatan akan mulai terasa pada Juli-Agustus saat suasana Tahun Ajaran baru akan dimulai. Hingga saat ini Suhardi tengah mempersiapkan berbagai orderan buku serta kelengkapan alat tulis lainnya untuk mengantisipasi lonjakan permintaan konsumen.
Bahkan untuk tahun ini Suhardi memprediksi tingkat permintaan akan lebih banyak dari tahun sebelumnya, karena di wilayah Pekanbaru sudah banyak sekolah-sekolah yang didirikan oleh pihak swasta yang jumlah siswanya juga tidak kalah banyak dengan siswa dari sekolah negeri. (*)


Jumat, 25 Juni 2010 08:13
BATAM (BP) - Tahun ajaran baru sebentar lagi, dan sudah waktunya kebutuhan sekolah sang buah hati mulai dari seragam, sepatu, tas, hingga buku ,dan alat tulis dilengkapi. Untuk mendapatkan perlengkapan sekolah yang super murah dan paling lengkap, cukup datang ke Hypermart Batam.
Di pusat perbelanjaan modern, luas, nyaman serta terlengkap itu, sekarang semua sudah tersedia. Ada berbagai merek buku tulis, antara lain
Sinar Dunia, Kiky, Hipo, Boxy, dan Value Plus. Ditawarkan dengan harga murah mulai Rp11.900 per pack. Buku gambar beserta pensil warna juga tersedia lengkap dalam berbagai ukuran.

Tak hanya itu, Hypermart Batam juga menawarkan seragam sekolah mulai pelajar SD, SMP, SMU dan seragam Pramuka. Seragam ini komplet dengan baju kemeja, rok, celana, dasi, dan topi.

Harga seragam ini pun murah seperti baju mulai dari Rp31.920 hingga Rp39.900. Sementara rok dan celana mulai Rp31.920 sampai Rp58.920. Jika anak-anak membutuhkan sepatu dan tas sekolah, Hypermart Batam menyediakan dalam berbagai ukuran, model, dan variasi warna.

Selain alat tulis dan seragam, pendukung belajar seperti meja belajar dan meja komputer ditawarkan dengan harga jauh lebih hemat dari biasa. Semua kebutuhan sekolah ini, sudah ditata di tengah area toko tepatnya dekat pintu masuk, sehingga pengunjung bisa langsung memilih sesuai kebutuhan. (wie
Masyarakat Mulai “Berburu” Perlengkapan Sekolah
Medan 27/6 (ANTARA) – Masyarakat di Medan mulai “berburu” perlengkapan sekolah, baik di pasar tradisional maupun modern seiring semakin dekatnya tahun ajaran baru.
Ningrum (41), salah seorang ibu rumah tangga yang ditemui di Pusat Pasar Medan, Minggu, mengaku sudah lazim setiap menjelang tahun ajaran baru ia harus berbelanja perlengkapan sekolah untuk anak-anaknya.
Ia mengaku harus membeli pakaian sekoleh, sepatu dan alat-alat tulis seperti buku tulis, pensil dan pulpen.
“Yang dicari sekarang ini perlengkapan alat tulis dan sepatu saja dulu, untuk seragam sekolah nanti saja ketika sudah ada pengumuman dari pihak sekolah. Karena berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumya biasanya untuk siswa baru pakaian seragamnya harus dibeli di sekolah,” katanya.
Mulai banyaknya masyarakat yang “berburu” perlengkapan sekolah berdampak positif pada para pedagang.
Mahdi, salah seorang pedagang perlengkapan sekolah di Pusat Pasar Medan, misalnya, mengaku dalam sepekan terakhir omsetnya meningkat sekitar 20-30 persen dibandingkan pekan-pekan sebelumnya.
“Lumayan juga dalam seminggu ini, omset kita sedikit naik terutama sepatu sekolah,” katanya.
Meski mengalami peningkatan, ia mengaku tidak berani megambil untung telalu banyak, mengingat belakangan ini daya beli masyarakat tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya.
Jika ia mematok perlengkapan sekolah tersebut dengan harga tinggi, kemungkinan besar pelanggan tidak akan jadi membeli dan beralih ke pedagang lain.
“Selain karena sekarang ini sudah semakin banyak saingan, ekonomi lagi susah. Jadi masyarakat cukup selektif untuk berbelanja meski produk tersebut sebenarnya sangat penting,” katanya.
Pengamat sosial Universitas Sumatera Utara Yos Rizal, MSi mengatakan, sudah menjadi keharusan pada setiap tahun ajaran baru orang tua siswa harus menyiapkan dana lebih untuk memenuhi kebutuhan sekolah anaknya.
“Bagi orang tua yang berpendapatan ekonomi lemah, hal ini tentunya sedikit memberatkan, namun ini sudah menjadi kewajiban bagi orang tua,” katanya. ***2***

Peluang & resiko bisnis perumahan

Bisnis Perumahan Booming 2010-2014

JAKARTA - Bisnis perumahan nasional akan kembali bangkit 2010 dan booming hingga 2014. Selain didukung perbaikan perekonomian, pertumbuhan pasokan dan permintaan hunian ditopang oleh penurunan suku bunga pembiayaan sektor ini.

"Prospek bisnis perumahan akan tetap bagus hingga 2014. Pertumbuhan ekonomi RI jauh lebih baik dibanding negara-negara tetangga. Masih kurangnya pasokan kumulatif perumahan dibanding permintaan akan menjadikan bisnis sektor ini sangat prospektif," ujar Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit dalam seminar Housing Estate bersama MEP UGM bertema "Pospek Bisnis Properti 2010 dan Pembiayaannya" di Jakarta, Selasa (15/12).

Panangian memperkirakan, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) mencapai 5,5-6% pada 2010 dan naik hingga 7% pada 2012. Sedangkan laju inflasi tahun depan diperkirakan bergerak stabil pada angka 5,2-5,5%. Berarti juga diperkirakan tetap berada pada level 6,5% hingga tahun 2012, sedangkan suku bunga KPR diyakini akan turun hingga 9,5% pada 2012.

Pertumbuhan konsumsi sektor pemerintah dan swasta diperkirakan berkisar 5-7% per tahun, dan pertumbuhan investasi langsung lokal dan asing rata-rata 3% per tahun. Sedangkan pertumbuhan jumlah kunjungan turis lokal dan asing sekitar 12% per tahun dan pertumbuhan ekspor 8-10% per tahun.

Mengacu pada data Biro Pusat Statistik (BPS), pertambahan jumlah penduduk di kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi pada 2006 hingga 2020 mencapai 8,1 juta jiwa, atau dari 24,5 juta jiwa menjadi 32,6 juta jiwa. Dari jumlah tersebut penduduk Jakarta diprediksi bertambah 400 ribu jiwa, dari 8,8 juta menjadi 9,2 juta jiwa. Sedangkan penduduk di kawasan Botabek bertambah 7,7 juta jiwa, dari 15,7 juta menjadi 23,4 juta jiwa.

"Sekitar 90% dari 8,1 juta jiwa akan tinggal di Bodetabek karena harga tanah yang sangat mahal di Jakarta. Untuk mengakomodasi pertambahan 8,1 juta penduduk itu dibutuhkan 2,1 juta unit rumah," ujarnya.

Skenario yang mungkin terjadi, jelas dia, pertambahan 2,1 juta rumah itu terbagi atas 1,9 juta unit rumah tapak (landed house) di Bodetabek, dan 200 ribu unit apartemen di Jakarta. "Sekitar 70% dari 1,9 juta unit rumah akan dibangun di Bodetabek dengan harga di bawah Rp 300 juta per unit" jelas Panangian.

Panangian mengatakan, pada periode 2009-2014 pemerintah akan membangun 650.000 rumah sederhana sehat (RSh) melalui dana APBN dengan total nilai kapitalisasi mencapai Rp 50 triliun. Sedangkan untuk unit rumah susun, baik rumah susun sederhana milik (rusu-nami) maupun rumah susun sederhana sewa (rusunawa) jumlahnya mencapai 200.000 unit satuan rumah susun (sarusun) dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp 30 triliun.

"Dengan demikian, total nilai kapitalisasi pasar untuk pembangunan rumah yang didukung pemerintah hingga tahun 2014 mencapai Rp 80 triliun," ujarnya.

Panangian optimistis pasar perumahan, rumah toko (ruko), apartemen menengah, dan rusunami masih prospektif pada 2010. Kendati demikian, nilai kapitalisasi properti komersial seperti apartemen, pusat berbelanjaan diprediksi cenderung stagnan.

Sementara itu, penjualan ruko masih akan meningkat dari Rp 8 triliun pada 2009 menjadi Rp 10 triliun. Penjualan rumah masih meningkat dari Rp 30 triliun menjadi Rp 34 triliun, dan penjualan apartemen menengah masih meningkat dari Rp 8 triliun menjadi Rp 10 triliun.

Prospek Pendanaan

Sementara itu, Kepala Divisi Kredit PT Bank Tabungan Negara (BTN) Budi Hartono memperkirakan, pembiayaan perumahan tahun 2010 masih prospektif. Asumsi itu berdasarkan data BTN yang menyatakan total pertumbuhan kre dit perumahan lebih tinggi dari total pertumbuhan kredit di sektor lainnya.

"Hingga akhir tahun ini total pertumbuhan kredit perumahan mencapai 10,7%, lebih tinggi dibanding pertumbuhan kredit di sektor lainnya yang hanya mencapai 9,6% dibanding tahun 2008. Ini juga mencerminkan tingginya prospek pasar pembiayaan perumahan," kata Budi Hartono.

Budi memprediksikan suku bunga kredit properti tahun depan turun hingga berkisar 10-11%, atau bahkan kurang dari satu digit Penurunan ini diharapkan bisa diimbangi dengan meningkatnya kemampuan pengembang membangun 800.000 unit rumah per tahun untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan pasar perumahan.

"Potensi pengembangan pasar perumahan masih sangat menjanjikan pada 2010. Kami ingin meningkatkan porsi kredit perumahan hingga 75%. Saat ini kendala pertumbuhan properti adalah ketidakseimbangan antara pembiayaan dan pembangunan," kata Budi.
<< Back Bisnis Perumahan November 11, 2007 JAKARTA – Keinginan seseorang memiliki rumah sendiri ataupun rumah bagus tidak pernah pudar. Hal itu terbukti dengan maraknya pengunjung pada setiap kali diselenggarakan pameran rumah. Ada yang datang sekadar melihat-lihat dan ada pula yang cukup serius membeli rumah. Kondisi seperti itu menjadi peluang bagi pengembang untuk memasarkan produknya. Orang yang tadinya tidak berencana membeli rumah, setelah mendapat penjelasan dari sales marketing bisa berubah pikiran. Asik melihat sebuah sketsa perumahan Jatinegara Indah yang ditawarkan, seorang calon konsumen Ny Santi Purnomo, asal Tangerang, kian tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai perumahan tersebut. Rasa tertarik itu kian bertambah ketika sang salesman, Mursyidi, menambahkan,” Perumahan ini bersebelahan dengan perumahan Jatinegara Baru, tempat tinggalnya Eko Patrio.” Karuan saja Ibu Santi tambah bersemangat. Niatnya langsung ingin melihat langsung perumahan tersebut. “Sepertinya perumahan ini bagus ya. Apakah di lokasi ada rumah contoh yang bisa saya lihat?” Wajah Mursyidi pun tampak sedikit gerah. Ia hanya bisa berkata,” Maaf Bu. Kita belum membangun rumah secara fisik ataupun rumah contoh yang bisa dilihat. Sekarang baru infrastruktur dasar seperti jalan masuk ke lokasi. Tapi sudah banyak yang terjual. Yang sisa paling banyak 8 unit dari ratusan unit rumah yang ada,” katanya mencoba meyakinkan. Percakapan singkat di atas terjadi pada BUMN Expo 2003 yang kini sedang berlangsung di Jakarta Convention Center, Jakarta. Salah satu peserta stan adalah PT Pembangunan Sarana Jaya, salah satu BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Selama ini PT Sarana Jaya sering bertindak sebagai developer yang membangun berbagai sarana gedung perkantoran di DKI Jakarta. Untuk perumahan Jatinegara Indah yang ditawarkan pada ajang BUMN Expo tersebut, PT Sarana Jaya bekerjasama dengan PT Cakrasarana Larasasri. Keduanya membangun satu kompleks perumahan real estat berlokasi di samping jalan KRT Radjiman, Jakarta Timur. Setidaknya developer merencanakan membangun ratusan unit rumah tipe 45, 60, 75 dan 90 dengan konsep cluster. Dari ratusan tersebut, pengembang cukup berani dengan hanya menawarkan konsep atau brosur. Singkat kata, satu brosur setara dengan rumah tipe 90 bernilai Rp 348,3 juta. Luar biasa bukan? Laris Fenomena menjual rumah dengan cara menjual konsep dengan bermodalkan secarik brosur berwarna dan spesifikasi rumah, agaknya kian menjamur. Terlebih setelah krisis, makin banyak developer yang melakukan strategi pemasaran model begini. Cara seperti ini untuk properti jenis perumahan memang belum lazim. Namun pada properti jenis lain semisal apartemen, sudah jamak dilakukan. Konsep pemasaran ini sering disebut sebagai pre-sales. Beberapa properti di kawasan Sudirman dan wilayah lain di Jakarta, banyak dijual dengan cara ini. Contohnya, apartemen The Pinnacle dan SCBD Suites. The Pinnacle yang lokasinya bersebelahan dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jalan Jenderal Sudirman, menawarkan 136 unit. Terjual di atas 80 persen dan bermodalkan uang muka dari pembeli itu, apartemen ini mulai dibangun dan direncanakan selesai pada tahun 2005. Sementara SCBD Suites lebih sedikit lagi, hanya menawarkan 68 unit apartemen berkelas mewah. Pembangunannya sendiri ditargetkan selesai 2005, namun kini belum ada tanda-tanda pengerjaan konstruksi. Untuk apartemen, PT Colliers International Indonesia memperkirakan, untuk tahun 2003-2005, total suplai di kota Jakarta kurang lebih mencapai 15.778 unit yang bersumber dari 22 proyek pembangunan apartemen strata-title. Antara lain Grand Permata Hijau sebanyak 200 unit, Pakubuwono Residence (600 unit), Apartemen Da Vinci (30 unit), Four Seasons (234), Mediterania Palace Residences (1.597 unit), Sudirman Mansion (216 unit), dan sebagainya. Selain itu, belum lama ini PT Centra Lingga Perkasa (CLP), salah satu anak perusahaan PT Gapura Prima Grup bekerjasama dengan PT Megapolitan Grup menawarkan Apartemen The Bellagio untuk kalangan atas di bilangan Mega Kuningan. Jumlah apartemen dengan dua tower ini juga tidak tanggung-tanggung, 700 unit. Harganya juga tidak main-main. Termurah Rp 724 juta dan paling mahal satu unitnya harganya lebih dari Rp 6 miliar. Boleh percaya boleh tidak, untuk satu tower sudah laku 90 persen, sementara tower lain 80 persen laris diserbu orang. Apa modalnya? Nyaris tidak ada. Cukup bermodalkan nama PT Gapura Prima Grup sebagai pengembang, sketsa rancangan/desain rumah yang bagus dan selebihnya, model-model berparas ayu dan bersuara merdu. Spekulatif Tren penjualan seperti di atas menurut Lukman Purnomosidi, Wakil Ketua Umum DPP REI (Dewan Pimpinan Pusat Real Estat Indonesia), dari kaca mata pengembang masih dapat dibenarkan. Itu katanya, merupakan strategi para pengembang untuk dapat terus berproduksi atau membangun. Karena menurutnya, masih banyak pengembang yang jatuh terkena krisis ekonomi, namun kini kondisi finansialnya masih belum pulih total. Mereka membutuhkan pembiayaan yang lebih bertumpu pada konsumen atau calon pembeli. Tidak masalah jika mereka mengeruk uang dari calon pembeli dulu. Toh, soal membangun rumah contoh atau unit rumah sebenarnya hanya soal waktu. Hanya saja katanya, cara seperti ini tidak boleh menjadi ajang spekulatif. “Harus ada aspek kehati-hatian dari konsumen, begitupun dengan pengembang. Yang terpenting semua perizinan lengkap, baik izin prinsip, IMB (Izin Mendirikan Bangunan), izin lokasi, dan sebagainya. Jika semua itu lengkap, seharusnya tidak ada masalah,” katanya. Secara eksplisit Lukman mengakui bahwa ada pengembang nakal yang melakukan cara-cara penjualan seperti itu bermotifkan kejahatan. Demi mengeruk uang banyak promosi dilakukan gencar. Tidak jarang dengan menggelar acara di hotel berbintang. Namun tunggu punya tunggu, rumah atau apartemen yang dijanjikan tidak kunjung dibangun. Konon ada properti yang masih berlokasi di Mega Kuningan, pembeli sudah membayar uang muka, namun apartemen atau propertinya belum kelihatan batang hidungnya. Bahkan tanda-tanda pengerjaan konstruksi juga sama sekali belum terlihat. Inilah yang ditakutkan bakal terjadi. “Memang ada bedanya. Pada perumahan, tidak masalah membangun satu unit rumah dulu sebagai rumah contoh. Pembangunan juga bisa bertahap menunggu laku dulu baru dilanjutkan. Untuk apartemen cara itu sulit dilakukan, karena pembangunannya harus kolektif, tidak bisa hanya satu unit. Jadi risiko lebih banyak pada apartemen,” Lukman menjelaskan. Reputasi Pendapat hampir senada juga dikemukakan oleh Herman Sudarsono, mantan Ketua DPP REI. Ia yang kini menjabat sebagai CEO PT Duta Putra Group dan memiliki tidak kurang dari 23 proyek properti di Jakarta dan Jabar itu, mewanti-wanti agar konsumen benar-benar mengetahui reputasi dan latar belakang pengembang. “Jika developernya baru dan belum banyak mengerjakan proyek properti sejenis, lebih baik tunggu. Jangan langsung percaya dengan sketsa rumah yang ditawarkan, tetapi lihat apakah developer itu melakukan tahap-tahap konstruksi seperti pembersihan lahan, cut and fill, sampai ada rumah contoh,” ujarnya. Kecuali katanya, yang ditawarkan oleh developer tersebut adalah fase selanjutnya dari rencana jangka panjang pembangunan perumahan itu. Berarti, lanjut Herman, pengembang tersebut sudah terbukti mampu mengerjakan properti di fase sebelumnya. Baik Herman maupun Lukman menggarisbawahi, yang juga layak dipertimbangkan oleh konsumen adalah pertimbangan apakah developer tersebut sudah terdaftar menjadi anggota REI (Real Estat Indonesia) DKI Jakarta. Karena kata Lukman, pengembang yang kenyang asam garam dan banyak membangun perumahan dan properti lain, pastilah sudah terdaftar sebagai anggota di REI. Maka berhati-hatilah konsumen. Jangan sampai maksud hati menuai impian, namun yang didapat justru nasib buruk. (SH/rudy victor sinaga) Sumber: Investor Daily Indonesia 16/12/2009 Oleh Wahyu Sudoyo

Kamis, 13 Januari 2011

Bisnis Internet

Review NegeriAds.Com - Bukan Scam

Dear teman-teman semua,.. Pada posting kali ini, saya ingin menyampaikan sebuah kabar gembira untuk Anda semua. Kabar gembiranya adalah: telah diluncurkan sebuah jaringan PPC baru, bernama NegeriAds.Com.
PPC Ads Network lagi? Betul sekali. Tapi tentu, jaringan baru ini tidak akan seperti yang lainnya. Jaringan PPC ini akan lebih user friendly, responsif dan tentunya juga lebih membawa untung untuk semua pihak.
Bagi Anda yang tertarik untuk menjadi advertiser, untuk menyebarkan iklan tentang produk-produk Anda, atau produk-produk yang Anda affiliasikan, bisa mulai mencoba untuk mengiklankannya di jaringan NegeriAds.Com.
Cost per Click (CPC) sangat murah, hanya mulai Rp 400 / klik / iklan. Dan dengan dilindungi oleh sistem Anti Fraud (1 klik / IP / hari), Anda bisa lebih tenang dan yakin bahwa setiap sen uang yang Anda keluarkan tidak sia-sia.
Bagi para affiliate dan reseller, Anda bisa menjadikan jaringan NegeriAds.Com pilihan alternatif (atau bahkan pilihan utama) untuk beriklan. Bagi para product owner, Anda pun bisa melakukan hal serupa plus merekomendasikan jaringan baru ini kepada para affiliate dan reseller Anda (karena persaingan di jaringan PPC lain sudah ketat).
Untuk mereka yang ingin menjadikan blog / website yang sudah dimiliki sebagai sebuah mesin uang, segeralah bergabung menjadi publisher NegeriAds.Com, dan mulai jaring komisi dari klak-klik pengunjung pada blog / website Anda. Pendaftaran publisher 100% GRATIS.
NegeriAds.Com memberikan sharing profit yang adil, 50%-50% antara network owner dan para publisher. Untuk jenis dan ukuran iklan, disediakan berbagai ukuran iklan berbasis text dan gambar dengan standard tampilan yang sesuai dengan ukuran IAB.
Minimum payout hanya Rp 25.000 dan dibayar dalam waktu 7-14 hari setelah request komisi dilakukan. Ini jauh lebih baik daripada banyak jaringan PPC lainnya yang baru melakukan pembayaran setelah 30 atau bahkan 40 hari setelah payout diminta... mana mau nunggu lama-lama kan?
Kesimpulannya, NegeriAds adalah tempat yang tepat bila Anda ingin menjadi seorang Advertoser atau Publisher untuk market Indonesia. Jadi untuk Anda yang ingin tahu lebih banyak tentang NegeriAds.Com dan ingin mendaftar (sebagai Advertiser atupun Publisher), silakan segera datang ke:
•••> http://negeriads.com/index.php?r=12530
Selamat mencoba menjadi publisher NegeriAds.
Salam sukses untuk Anda!