Laman

Jumat, 14 Januari 2011

Peluang & resiko bisnis perikanan

Kredit Perikanan Kurang Diperhatikan
TEMPO Interaktif, Jakarta - Perbankan dinilai kurang memberikan perhatian pada sektor perikanan. Pada tahun 2009, porsi kredit perikanan hanya sebesar 0,23 dari total kredit yang disalurkan perbankan. Sementara sumbangan sektor ini terhadap produk domestik bruto mencapai 3,5 persen.
"Porsi kredit kepada sektor perikanan tidak seimbang dibandingkan kontribusinya pada perekonomian," kata Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad seusai penandatanganan nota kesepahaman dengan Bank Indonesia di Jakarta, 22 April 2010.

Jumlah kredit perikanan sepanjang tahun 2009 sebesar Rp 3,3 triliun. Sebagian besar, sekitar Rp 2,1 triliun, merupakan kredit untuk usaha kecil dan menengah. Jumlah ini meningkat jika dibandingkan tahun 2008 sebesar Rp 2,7 triliun. Meski diakuinya, seiring dengan meningkatnya jumlah kredit, rasio kredit seret turut terkerek.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Rohadi mengatakan kredit seret atau Non Performing Loan sektor perikanan pada 2008 mencapai 11,02 persen dan meningkat menjadi 11,76 persen pada 2009. Nilai tersebut termasuk sangat tinggi dibandingkan risiko sektor lain yang maksimal hanya 5 persen.

"Tingginya risiko ini membuat perbankan enggan memberikan kredit," ujar Budi. Menurutnya Budi, tingkat kesadaran nelayan untuk membayar kembali utangnya masih rendah.

Sebagai upaya meningkatkan porsi kredit di sektor ini, Bank Indonesia dan Kementrian Kelautan dan Perikanan mendorong penyaluran kredit pada bidang budidaya perikanan. Kredit budidaya dianggap berisiko lebih rendah karena letak budidaya ikan lebih mudah dipantau daripada sektor perikananan tangkap.

Kredit tersebut akan diberikan dengan jaminan yang berasal dari Kementrian. "Bank Indonesia akan membentuk unit usaha di setiap kantor Bank Indonesia untuk memfasilitasi pertemuan antara bankir dengan pengusaha perikanan," kata Budi.

Salah satu bank yang memberikan kredit bagi sektor perikanan adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. Hingga Maret 2010, BRI telah menyalurkan kredit sebesar Rp 975,1 miliar. Meski porsinya besar dalam kredit perikanan, namun jumlah ini hanya sebagian kecil dari total kredit BRI yang mencapai lebih dari Rp 200 triliun.

Menurut Direktur BRI Bambang Soepono, ada beberapa hal yang masih menjadi kendala penyaluran kredit perikanan. Antara lain belum adanya jaminan, dan risiko yang tinggi.
Kamis, 22 April 2010 | 16:24 WIB
Peluang Usaha Perikanan Gurame
Usaha perikanan banyak memberikan pendapatan bagi masyarakat meski awalnya sering dipandang sebelah mata. Sebagai salah satu pendukung kebutuhan pangan dan kehidupan yang bergizi, ikan memberikan asupan gizi yang cukup sehingga banyak orang kini mengkonsumsinya. Apalagi dalam membudidayakannya telah banyak mengalami kemajuan sehingga untuk mengembangkan usaha ini banyak mendapat menarik minat dan perhatian dari berbagai pihak.
Hal inilah yang dialami oleh Wiwid bersama Bambang yang merintis usaha perikanan di Desa Jambidan Kecamatan Banguntapan Kabupaten Bantul. Melihat banyaknya tenaga kerja produktif di desanya berbondong-bondong mencari kerja, mereka tertantang untuk membuktikan bahwa perikanan bias memberikan penghidupan.
Sehingga pada tahun 1998 mereka mencoba untuk membudidayakan lele dan memperoleh hasil yang cukup bagus. Mereka berdua memulai usaha ini hanya berbekal modal Rp50.000,- dan hingga saat ini usaha ini telah manjadi sentra proyek percontohan tingkat nasional. Melihat hasil yang cukup menjanjikan, banyak masyarakat sekitar tertarik untuk mengembangkannya, apalagi saat itu krisis moneter sedang melanda.
Pendirian Kelompok Usaha Tani
Melihat banyaknya minat dari masyarakat sekitar,Wiwid dan Bambang ditambah Heru mendirikan kelompok tani ikan. Dengan berdirinya kelompok tani ini diharapkan;
1. Menambah motivasi untuk terus maju
2. Mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk mengembangkan usaha ini
3. Menjaga kekompakan
4. Mempunyai visi yang sama dalam pengembangannya, termasuk dalam penerapan standar harga
Mereka mengumpulkan petani-petani ikan di desa tersebut dan mendirikan kelompok tani Mino Raharjo dimana saat peresmiannya mendatangkan petugas PPL Kecamatan dan Dinas Koperasi.
Dengan berjalannya waktu, banyak petani yang ingin bergabung dengan kelompok tersebut. Untuk menjaga efektifitas, kelompok tani tersebut membatasi jumlah anggotanya 30 orang. Sedangkan sisanya mereka fasilitasi sehingga terbentuk kelompok-kelompok baru yang mencapai 4 kelompok tani di desa Jambidan.
Masing-masing kelompok mempunyai agenda sendiri-sendiri. Prestasi yang pernah diraih antara lain menjadi proyek percontohan gurame tingkat nasional dan model pendanaan tingkat nasional sebesar Rp 900juta. Selain itu juga, beberapa LSM dan lembaga-lembaga resmi lain diantaranya UNDP, menggandeng mereka dalam mengembangkan usaha ini.
Semakin berkembangnya usaha tersebut, kelompok tani ini mencoba menciptakan diversifikasi produk. Pada awalnya pembibitan lele kemudian mereka mencoba pembibitan gurame. Setelah melewati beberapa waktu ternyata hasil dari pembibitan gurame lebih bagus dibanding pembibitan lele.
Mulai saat itulah mereka fokus untuk mengembangkan budidaya gurame sehingga saat ini mereka lebih dikenal dengan sentra budidaya gurame. Dalam pembudidayaan ini, mereka tidak fokus dalam pemijahan. Mayoritas petani fokus pada penetasan telur dan pembesaran.
Mereka membeli benih telur gurame seharga Rp30,- per ekor dan telur-telur ini mereka peroleh dari petani ikan di desa tersebut dan sekkota-kota sekitarnya. Produk yang dihasilkan petani ikan di kelompok tersebut berbeda-beda. Ada yang fokus hanya menyediakan telur ikan, ada yang fokus menyediakan bibit ikan usia 1 bulan, bibit usia 2 – 4 bulan sampai dengan bibit seukuran bungkus rokok atau berat 5 ons. Jika dirata-rata, kelompok tani tersebut bisa menghasilkan 2,5juta ekor per bulan.
Saat ini, UPR Mino Raharjo mengelola kolam yang tersebar di wilayah desa tersebut dengan total luas lahan mencapai +/- 7 hektar. Masing-masing petani mengelola kolamnya sendiri kecuali pada saat panen tiba. Biasanya mereka dibantu 2-3 orang yang membantu penangkapan, penghitungan, dan pengemasan. Tenaga kerja ini mendapat upah Rp30.000,- per hari.
Proses Produksi
Dalam proses produksinya, setelah telur menetas langsung ditempatkan dalam ember-ember khusus supaya benih-benih tersebut aman dan kuat hingga usia 4 hari. Kemudian dipindahkan ke dalam kolam-kolam hingga usia 1 bulan.
Kolam ukuran 2x2m bisa memuat 10ribu ekor bibit. Untuk mendapatkan bibit dengan ukuran yang lebih besar lagi, bibit tersebut dipindahkan ke kolam tanah dengan ukuran 5x5m atau lebih besar. Saat pembesaran bibit yang harus diperhatikan adalah kesehatan dan kondisi air. Ukuran ikan untuk dijual sesuai target pasar yang ingin disasar masing-masing petani. Untuk pakan, masing-masing ukuran dan usia bibit berbeda. Misal:
Usia bibit Jenis pakan Jumlah pakan Harga pakan
Telur-1 bulan Cacing sutra 10ribu ekor = 7lt/bulan Rp10rb/liter
1 – 2 bulan D0 (pelet gembur) 10ribu ekor = 10kg Rp11rb/kg
atau secukupnya
2 bulan atau lebih pelet (jenis min2) sesuai ukuran yang Rp6500/kg
ingin dicapai
Harga pakan yang cukup mahal menjadi salah satu kendala dalam pembudidayaan ikan gurame ini.
Keuntungan dalam budidaya gurame dibandingkan dengan jenis ikan yang lain adalah :
1. Permintaan gurame yang cukup tinggi sehingga pasar terjamin
2. Nilai jual yang cukup tinggi
3. Bisa dijual dalam usia atau ukuran berapa pun karena kebutuhan pasar sangat variatif.
Sedangkan keunggulan budidaya gurame yang diterapkan kelompok tani Mino Raharjo adalah sistem guba, gugus simba, dimana bibit diberi suplemen nutrisi sehingga ikan dalam kategori sehat dan kualitas baik serta pengelolaannya dilakukan oleh petani yang cukup ahli dalam pembibitan dan pembesaran. Proses penjualannya dilakukan seleksi sesuai kualitas dan ukuran.
Pemasaran sampai ke luar pulau
Sejauh ini mayoritas konsumen berasal dari Jogja dan pulau Jawa, beberapa Sumatera dan Kalimantan. Untuk wilayah Jogja sendiri mereka hanya bisa memenuhi 25% dari permintaan. Mereka diantaranya adalah petani pembesaran, pedagang besar, rumah makan dan sebagainya. Harga jual untuk bibit usia 1 bulan adalah Rp150,-per ekor dan untuk ukuran konsumsi (5 ons) Rp21.000/kg.
Dengan besarnya permintaan, adanya kompetitor tidak terlalu dirasa pengaruhnya. Salah satu upaya kelompok ini untuk memenuhi kebutuhan pasar, mereka mencoba memasyarakatkan budidaya gurame dengan mengadakan pelatihan rutin 1 bulan sekali. Demi kenyamanan dan efektifitas, peserta peltihan sehari itu dibatasi 25 sampai 30 orang. Mereka juga melayani konsultasi pembudidayaan tersebut.
Rencana ke depannya, UPR Mino Raharjo, pada tahun 2010 mentargetkan menjadi sentra percontohan dengan mengembangkan usaha perikanan dengan sistem one stop shoping. Diatas lahan di sebelah selatan desa seluas 2 hektar, dengan target dana Rp2milyar, mereka akan mengembangkan kawasan budidaya ikan terpadu dari hulu sampai hilir.
Mulai dari penetasan, pembesaran sampai dengan produk jadi yaitu ikan matang yang disajikan di rumah makan yang akan didirikan di atas lahan tersebut juga. Di samping itu, lokasi tersebut akan dilengkapi arena bermain dan wisata sehingga saat orang dewasa belajar budidaya, anak-anak diberikan fasilitas bermain. Saat ini, dengan perkembangan budidaya dan besarnya pasar, peluang masih cukup terbuka. Apakah anda ingin mencoba?
Analisa Ekonomi:

Analisis keuangan dibuat dengan basis perhitungan
1000 ekor bibit gurame ditebar

Pengeluaran
Pembelian bibit : 1.000 ekor x Rp. 150,00 = Rp. 150.000,00
Pakan D0 : 10 kg x Rp. 11.000,00 = Rp. 110.000,00
Pakan Pelet : 900 kg x Rp. 6.500,00 = Rp. 5.850.000,00
Total Pengeluaran = Rp. 6.110.000,00

Pendapatan
Penjualan Ikan Gurame : 400 kg x Rp. 21.000,00 = Rp. 8.400.000,00
Total Pendapatan = Rp. 8.400.000,00
Keuntungan = Rp. 8.400.000,00 - Rp. 6.110.000,00 = Rp. 2.290.000,00
(Sumber: Tim BisnisUKM)

Peluang & resiko bisnis mobil bekas

Peluang Bisnis Jual Beli Mobil Bekas

Bisnis ini sangat menjanjikan, tetapi jika anda bergelut dalam bidang ini harus punya relasi yang banyak dan pintar strategi pemasarannya. Supaya anda nantinya mudah untuk menjual mobil dan mencarinya lagi untuk stok. (ref: Peluang Usaha)

Bagaimana Prospek bisnis ini?
Berapa Modalnya?
Analisa keuntungannya gimana?

Yah… mari kita bahas satu-persatu.
Bisnis Jual Beli Mobil bekas ini sangat prospek sekali. Segmentasinya luas. Bayangkan dinegara Majupun masih ada kok jual beli mobil bekas. Malah diluar negri banyak banget stoknya makanya sangat murah kalau kita langsung beli dari sana. Untuk itu tidak salah kalau importer Indonesia mengambil mobil bekas dari luar negri. Untuk modal, anda bisa sesuaikan dengan kondisi keuangan anda. Kalau modal anda dibawah 100 juta. Anda bisa membidik segmen pasar, yang mau beli mobil kategori mobil lama.
Kategori mobil bekas saya kelompokkan menjadi 3:
Mobil lama
Agak baru
Baru (Second tapi masih belum lama pakai)

Masing masing kategori itu mempuyai segment pasar sendiri-sendiri kok. Jadi jangan takut. Peluang pasarnya luas sekali. Selama apapun mobil itu, masih bisa dijual kok. Terkadang semakin lama-semakin mahal, lihat aja mobil-mobil kuno. Harganya pasti selangit. Saya tidak membahas mobil kono. Tetapi yang jelas bisnis jual beli mobil pangsa pasarnya banyak sekali, Apakah anda berminat dengan bisnis ini?

Keuntunganya mobil bekas yang lama: kita bisa ambil keuntungan sekitar Rp.500.000 sampai dengan Rp.1.000.000. Mobil yang agak baru bisa ambil untung 1 sampai 2 juta an. Dan mobil yang Baru bisa ambil untung 3 sampai 4 juta an. Itulah analisa saya tentang jual beli mobil bekas. Jika anda berminat silahkan dicoba. Dan jika kesulitan dalam pemasaran bisa konsultasi lewat email saya.
======

Peluang & resiko bisnis warnet (warung internet)

Selain menjanjikan keuntungan bisnis warnet juga mengandung resiko. Tetapi dengan menganalisis resiko-resiko itu maka pemilik warnet akan dengan mudah meminimalisis resiko itu. Sengaja saya tulis ini karena saya 2 hari yang lalu kehilangan monitor LCD flat LG 16″ dan hardis 160 GB, dengan rapinya pengunjung usil itu membongkar CPU dan mengambil monitor tanpa diketahui oleh pengunjung yang lain.
Untuk meminimalisir resiko guna kelancaran bisnis kita perlu diperhatikan hal berikut :

1. Lakukan pendekatan dan membangun hibungan yang baik kepada pemilik tempat usaha anda jika anda kontrak atau sewa. Ini berguna karena pada jaman sekarang mencari tempat usaha strategis sangat sulit dan pastinya mahal. Tak jarang pemilik tempat usaha tidak nemperbolehkan perpanjangnan kontrak/sewa. Ini akan merugikan pemilik usaha terlebih warnet yang dimiliki dilihat maju dan ramai. Bahkan ada pemilik tempat ingin membuka usaha yang sama di tempat itu.
2. Tingkatkan pengawasan. Agar tidak terjadi pencurian maka peran pengawasan harus lebih ditingkatkan. Pasca pencurian yang terjadi di warnet saya, saya langsung memasang CCTV di 2 area. Atas dan bawah. Ini akan sangat membatu, bang napi bilang “kejahatan bukan hanya terjadi karena niat pelakunya, tapi kesempatan-kesempatan”. Biarpun resikonya harga CCTV yang mahal tapi membuat hati tenang.
3. Lakukan program member. Ini akan efektif karena warnet akan memiliki pelanggan tetap. Akan tetapi tarif harus diturunkan
4. Jika memungkinkan ekspansi pada program voucer wirelless yang menjangkau hingga beberapa kilometer dari warnet. Ini juga akan membantu proses promosi
Setidaknya bisnis ini sudah berjalan sekitar 14 tahun sejak diluncurkannya internet. Pada awalnya, orang-orang harus rela mengantri hingga luar ruangan untuk mendapatkan fasilitas berinternet.
Namun, seiring bertambah murahnya biaya berlangganan internet, sebagian orang memilih untuk mengakses internet dari rumah. Tantangan nyata dari sebuah bisnis ini adalah menjaga pelanggan agar terus datang kembali. Bagaimana caranya, tentu saja ini yang menjadi pertanyaan utama.
Langkah penting pertama dalam memulai bisnis warnet adalah menentukan model bisnis seperti apa yang ingin Anda adopsi. Ada banyak pilihan. Yang paling konservatif adalah model yang hanya memberikan akses internet.
Pilihan lainnya adalah melayani teh, kopi dan makanan ringan bersama dengan koneksi internet. Anda juga dapat menambahkan servis komputer, bahkan menjual komputer dan komponennya.
Banyak orang yang tertarik membeli waralaba bisnis warnet. Bila Anda membeli franchise, Anda mendapatkan keuntungan dari batas waktu uji coba model bisnis ini dan mengetahui seluk beluknya. Meski demikian, pada akhirnya Anda tetap harus membayar kepada franchisor.
Sebelum memulai bisnis, cobalah membuat rencana bisnis warnet yang solid. Rencana bisnis yang baik harus menetapkan tujuan bisnis, cara untuk mencapai tujuan, kendala yang mungkin terjadi, bagaimana mendapatkan keuntungan lebih, perencanaan dan analisa bisnis.
Jika keadaan memungkinkan, Anda bisa berdiskusi setidaknya dengan tiga pemilik warnet tentang rencana yang akan Anda lakukan.
Cobalah untuk menghubungi pemilik bisnis warnet dari luar kota, sehingga tidak akan ada konflik persaingan di kemudian hari. Jika memungkinkan, tunjukkan rencana bisnis Anda.
Mintalah nasihat untuk mengembangkan usaha dengan efektif, tanpa membuang banyak uang karena ketidaktahuan kita. Jangan ragu untuk menawarkan mereka makan siang atau makan malam sebagai ucapan terima kasih.
Oh ya, modal awal tentu saja memiliki peran sangat penting dalam setiap jenis usaha. Jadi pastikan Anda mendapatkan dana yang cukup sebelum memulai bisnis warnet Anda. Berapa banyak dana yang harus disiapkan? Itu semua tergantung pada model bisnis dan layanan yang Anda tawarkan.
Jika Anda berencana untuk memberikan pelayanan eksklusif seperti permainan, interaksi sosial atau kantor jarak jauh pada bisnis warnet, Anda dapat mengajukan persyaratan modal, seperti untuk membeli komputer, koneksi broadband, perabot yang akan dibeli dan tempat untuk disewa atau diperoleh sekaligus.
Termasuk dalam hal ini anggaran. Lakukan analisis biaya bulanan, proyeksi pendapatan dan keuntungan di masa depan. Anda dapat meningkatkan keuangan melalui investor swasta, perbankan dan lembaga keuangan yang khusus memberikan pinjaman usaha kecil.
Keberhasilan sebuah bisnis warnet tergantung pada bagaimana Anda tetap mengikuti teknologi terbaru. Tren yang terus berganti, terkait berkembangnya pengetahuan dan teknologi, seperti Webcam, video conference dan inovasi seperti VOIP.
Ingat, hidup dan kesejahteraan bisnis ini tergantung pada seberapa baik Anda beradaptasi dengan perubahan tren yang berhubungan dengan komputer dan teknologi.
Cobalah membuat Iklan yang sebisa mungkin menarik perhatian orang ke warnet Anda. Sebarkan kartu bisnis kapan saja ketika Anda memiliki kesempatan. Anda juga dapat menjual keanggotaan dalam hal waktu pemakaian internet.
Masukkan ke dalam sebuah iklan di koran dan website lokal. Terakhir, buatlah permohonan izin usaha untuk menjalankan bisnis warnet. Lakukan evaluasi terhadap semua resiko, lakukan riset pasar dan sesuaikan dengan perubahan tren teknologi.
Warnet Tidak Rela Senasib dengan Wartel
OPINI
Afandi Sido
| 15 Juni 2010 | 17:50

Warnet alias Warung Internet.
Bukan internet yang terkenal sebagai makanan “Indomi telur blablabla” itu. Ini yang real warung internet. Walaupun saat ini istilah penamaannya beragam dan inovatif, saat ini kehidupan masyarakat hampir di semua daerah di Indonesia sangat lekat dengan wadah pusat informasi yang satu ini. Buktinya, sampai sekarang pertumbuhan bisnis warnet di Indonesia mengalami dinamika positif yang menguntungkan bagi para pengelolanya. Namun, semua bisnis memiliki “cerita kalah”. Apakah warnet yang saat ini menjamur akan menemui titik surutnya dan nasibnya berakhir seperti wartel (Warung Telepon) yang kini “pasrah”?
Wacana sejenis mengenai prediksi perkembangan dunia bisnis warnet serta perbandingannya dengan keadaan bisnis wartel nampaknya bukanlah bahan bahasan baru di Indonesia. Sudah banyak review dan artikel yang mengupas tentang dinamika serta potensi masa depan dari bisnis warnet ini.
Salah satu artikel di http://aurrazone.wordpress.com mengupas tentang uraian definitif warnet di Indonesia. Data dari artikel tersebut menjelaskan bahwa perkembangan bisnis warnet di Indonesia memasuki masa-masa suburnya pada awal tahun 2007. Kerja keras Ikatan Warnet Indonesia yang membuat masterplan sedemikian rupa dalam mengintegrasikan kesamaan visi dan inovasi dari semua warnet di Indonesia menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan bisnis warnet bisa bertahan dan semakin maju pada zaman sekarang ini.
Hal-hal terkait inovasi inilah yang menjadi titik pokok pembeda antara warnet dan wartel.
Jika dijabaarkan dalam analisis SWOT, maka perbandingan antara warnet dan wartel adalah sebagai berikut.
STRENGTH (Internal, Kekuatan)
Wartel Warnet
1. Terkoneksi langsung dengan layanan terpercaya, yaitu TELKOM
2. Biaya harian relatif kecil, tergantung pada intensitas pemakaian.
3. Pengoperasiannya mudah, tidak dibutuhkan keahlian khusus.
4. Sistem pengawasannya mudah, karena unit pelayanan relatif sedikit. 1. Terkoneksi secara sendiri dengan provider yang beda-beda setiap operator, lebiih fleksibel dan efisien.
2. Biaya harian cenderung bisa ditutupi oleh pendapatan harian yang reltif besar.
3. Peluang berinovasi sangat tinggi.
4. Bisa menyediakan informasi dan koneksi yang cukup bagi masyarakat pelangga, selama operasional berjalan.
WEAKNESS (Internal, Kelemahan)
Wartel Warnet
1. Jenis pelayanan monoton dan sulit diinovasikan, kecuali perbaikan pelayanan. Yang sudah ada.
2. Karena unit relatif sedikit, setiap kerusakan akan menimbulkan efek yang besar.
3. Pendapatan operasional terkadang sulit menutupi biaya harian yang justru kecil.
4. Kebanyakan usaha dikelola oleh orang-orang dengan pendidikan sedang dan rendah. 1. Banyaknya jenis layanan yang tersedia mengakibatkan biaya membengkak serta penambahan jam kerja karyawan.
2. Risiko kerusakan unit masih besar, karena jaringan koneksi yang lebih rumit.
3. Proses maintenance bisa berdampak pada berkurangnya pendapatan.
OPPORTUNITY (Eksternal, Peluang)
Wartel Warnet
1. Melestarikan kegemaran orang-orang pada telepon analog
2. Motif jaga-jaga terhadap kebutuhan masyarakat yang bisa datang tiba-tiba. 1. Kebutuhan teknologi informasi masyarakat semakin besar dan beragam, terutama terkait layanan publik.
2. Perkembangan teknologi informasi yang semakin mudah diaplikasikan membantu masyarakat semakin dekat dengan dunia TI.
3. Pandangan masyarakat bahwa warnet adalah tempat yang bisa memberikan kepuasan lebih dalam mencari informasi.
4. Terbukanya peluang kerjasama venture sesama pengusaha warnet.
5. Pelayanan internet bagi masyarakat semakin beragam dan bermanfaat, menarik minat masyarakat untuk semakin kenal internet.
THREAT (Eksternal, Rintangan)
Wartel Warnet
1. Teknologi yang sudah beralih ke era digital mengalihkan perhatian masyarakat. Misalnya penggunaan telepon genggam yang semakin canggih.
2. Terbentuknya opini publik bahwa wartel adalah teknologi yang sudah lama dan kurang efektif.
3. Sikap acuh para stakeholder tarmasuk penyedia layanan koneksi semisal TELKOM
4. Kurangnya sosialisasi dari pihak terkait tentang pelestarian bisnis wartel. 1. Risiko kerusakan piranti lunak sangat besar, sehingga berpotensi pemakaian biaya perbaikan yang besar.
2. Warnet belum dipahami oleh seluruh masyarakat.
3. Munculnya teknologi internet portable yang lebih efisien dan tidak membutuhkan ruang serta biaya banyak. Contoh: modem dan wireless.
4. Isu keterkaitan kemajuan TI dengan hal-hal yang dianggap merusak moral warga.
Dalam bisnis wartel, derasnya faktor-faktor threat (tantangan dari luar) seperti perkemangan pesat dari teknologi telepon genggam dan internet sangat memudakah manusia untuk terhubung dengan orang lain tanpa harus melalui telepon kabel. Selain itu, peluang berinovasi yang kecil disebabkan oleh pola operasional yang monoton menjadi pertimbangan yang membangun opini publik bahwa wartel sudah tidak bisa menjangkau kebutuhan masyarakat yang semakin tinggi dan intens terhadap akses informasi.
Warnet, walaupun tetap memiliki kelemahan terkait pembiayaan dan fungsi kontrol operasionalnya, terbukti bisa terakomodasi dengan peluang yang juga masih sangat tinggi dan terus meningkat. Semakin tingginya rasa penasaran masyarakat tentang layanan-layanan yang disediakan melalui teknologi informasi jelas menambah peluang kuantitatif konsumsi warnet di Indonesia.
Isu jejaring sosial yang semakin populer, isu pengintegrasian TI dengan kehidupan sehari-hari seperti kebutuhan tugas belajar mahasiswa, dan masih banyak hal lain terpatri secara otomatis menjadi peluang yang terbuka lebar bagi bisnis warnet untuk melebarkan sayapnya.
Namun, bukan tanpa rintangan. Pandangan masyarakat yang masih mengaitkan perkembangan dunia TI dengan kemerosotan akhlak bangsa patut menjadi sorotan strategis dalam membangun kebijakan bagi pengelola bisnis Warnet.
Meski demikian, berbagai survey tetap memberikan angin segar. Prediksi laju bisnis warnet yang bisa bertahan paling tidak lima (5) tahun lagi seperti yang diulas dalam warnetzenithnet.blogspot.com masih cenderung aman. Lagipula, jika dilihat dari animo masyarakat saat ini yang semakin “dimanjakan” dengan TI, maka ada kemungkinan waktu hidup bisnis warnet bisa lebih panjang.
Yang jelas, bagi para pengusaha warnet, selama masih bisa berinovasi dengan penyediaan layanan, maka masih tumbuh rasa optimis bahwa warnet tidak akan senasib dengan wartel. Ya paling tidak, tidak dalam waktu dekat ini.
Konsumsi masyarakat Indonesia terhadap berbagai layanan internet cukup mencengangkan. Beberapa penelitian bahkan menyebutkan bahwa Indonesia adalah salah satu pengguna terbesar beberapa situs jejaring sosial yang saat ini populer.
Semoga tingkat apresiasi masyarakat yang masih tinggi terhadap dunia TI ini bisa memberikan prospek bisnis yang lebih baik bagi keberlangsungan warnet-warnet Indonesia.
Terima kasih.

Peluang & resiko bisnis toko perlengkapan bayi

Bisnis Fashion untuk Si Kecil
Siapa bilang si kecil tak butuh fashion mode ?????
Setiap orang tua pasti menginginkan buah hatinya selalu tampil cantik, ganteng, imut dan lucu. Adanya keinginan tersebut, membuat para orang tua selalu berusaha mendandani buah hatinya dengan baju yang selalu trendy dan rapi. Mulai dari hunting baju – baju lucu hingga pernak – pernik pendukung pun rela dibeli para orang tua agar anaknya terlihat lucu dan menarik.

Besarnya minat para orang tua yang selalu ingin mempercantik penampilan buah hatinya, mendorong munculnya peluang usaha baru di bidang fashion anak. Bisnis baju anak memang sangat menjanjikan, hal ini dikarenakan minat para orang tua khususnya para ibu yang selalu ingin membuat anaknya selalu tampil menarik. Selain itu pertumbuhan anak juga sangatlah cepat, sehingga dalam waktu dekat selalu membutuhkan baju baru yang lebih besar.
Produk baju anak terdiri dari beberapa jenis, antara lain baju anak branded popular dari merk – merk terkenal luar negeri yang biasanya dijual dengan harga selangit, selain ituada juga baju anak merk lokal yang biasanya dijual dengan harga yang lebih murah dengan kualitas yang tidak kalah bagus dengan merk luar negeri.
Untuk memulai bisnis baju anak ada dua cara yang dapat dijalankan, yang pertama jika kita memiliki dana yang tidak banyak maka solusi yang dapat diambil adalah menjadi reseller salah satu produk baju anak yang sudah memiliki pasaran. Produk baju anak buatan lokal pun juga banyak yang telah membuka peluang untuk mencari reseller produknya. Yang kedua jika kita memiliki dana yang besar, kita bisa mengambil baju anak yang memiliki branded cukup populer. Karena biasanya baju anak dengan branded popular telah memiliki harga yang cukup tinggi, sehingga untuk membuka outlet atau butik baju anak dengan branded popular dibutuhkan dana yang tidak sedikit.
Bisnis baju anak memang masih memiliki peluang pasar yang cukup menguntungkan, karena setiap harinya lahir bayi yang membutuhkan baju dan menginginkan fashion yang mendukung penampilan mereka. Bagi yang sedang bingung mencari peluang usaha yang menguntungkan, bisnis ini dapat digunakan sebagai salah satu pilihan tepat untuk membuka usaha. Sukses dengan menekuni bisnis fashion anak pun masih terbuka lebar bagi Anda. Salam sukses selalu untuk usaha Anda.

TIPS BUKA TOKO BAYI
7 Juli 2010

Di dalam menu PELUANG USAHA sudah sedikit disinggung mengenai Usaha Baju Bayi dengan modal kecil maupun dengan modal besar. Membuka toko baju bayi merupakan salah satu usaha dengan modal besar, berkisar antara 15 - 50 juta rupiah.

Rantai bisnis di bidang penjualan hampir mirip, dimulai dari PABRIK - DISTRIBUTOR - AGEN - TOKO - BISNIS RUMAHAN - BISNIS PERORANGAN - USER... Anda dapat memulai dari atas ke bawah atau sebaliknya. Harga yang diterima terakhir oleh User biasanya sudah harga tangan ke-4 atau lebih dengan margin profit kira-kira mencapai 70%. Inilah mengapa terkadang di departemen store mempromosikan discount sampai 50%, karena dari segi profit tetap masih untung, atau minimal kembali modal untuk harga produksi. Bila Anda ingin membangun bisnis, mulailah dari user, dan sukailah produk yang Anda pakai atau yang akan Anda produksi. Bukalah toko di rumah, atau sewa toko di tempat strategis, kuasailah pasar dan dapatkan langganan, otomatis Anda akan ditunjuk sebagai distributor oleh pabrik tertentu bila target tercapai. Anda ingin mendirikan pabrik sendiri ? suatu hal yang mungkin

Peluang & resiko bisnis teknologi informasi

Mengintip Bisnis Teknologi Informasi di Masa Depan
Deriz S. Syarief
Hampir 40 tahun lalu, Gordon Moore, direktur riset Fairchild Semiconductor mengamati bahwa setiap 18 bulan, kekuatan prosesor meningkat dua kali lipat Dalam satu tahun, jumlah transistor yang dapat dimampatkan dalam satu chip silicon secara ekonomis berlipat ganda.

Fenomena yang dikemukakan peraih gelar Ph.D di bidang Kimia dan Fisika dari California Institute of Technology itu dikenal sebagai, 'Moore's Law'. Gordon Moore kini menjabat sebagai Chairman Emeritus di perusahaan prosesor dunia Intel Corporation.
Berangkat dari hukum Moore itu, lembaga riset pasar Gartner memprediksikan tahun 2008 umum dijumpai di rumah-rumah PC desktop berkecepatan 40 GigaHertz dan memori (RAM) 12 Gigabytes. Media penyimpanannya mencapai 1,5 terabytes (1500 Gigabytes), sementara lalu lintas data pada local area network (LAN) mendekati 100Gigabit per detik.
Kecepatan prosesor terus meningkat hingga 150GHz pada 2011 dengan enam terabytes media storage. Belum lagi kemajuan teknologi fisika kuantum seperti transistor nanotubes dan spintronics yang diyakini melipatgandakan unjuk kerja komputer.
Kekuatan komputer yang sebesar itu sangat mungkin mengubah cara manusia menggunakannya. Menurut prediksi Gartner, pada 2008 sebagian besar manusia mengadaptasi remote computing.
Pada saat itu, PC kemungkinan hanya terdiri dari peranti output -monitor, printer- dan peranti input -keyboard, mouse saja. Semua proses dan penyimpanan data dilakukan oleh 'komputer bersama' nun jauh di sana.
Hasil proses dikirimkan melalui bandwidth kepada PC pengguna, layaknya listrik disalurkan ke rumah-rumah dari reaktor pembangkit melalui sejumlah gardu.
Komputasi jarak jauh itu dimungkinkan karena kapasitas bandwidth sudah sedemikian besarnya. Biaya remote computing akhirnya menjadi lebih murah ketimbang local computing. Proses komputasi pun menjadi sebuah layanan publik. Pengguna tinggal menyediakan monitor dan papan ketik, lalu mencolokannya ke jaringan. Tidak perlu upgrade atau mengganti hard disk jika sudah penuh, karena itu akan dilakukan oleh perusahaan penyedia layanan yang dikenal sebagai application service provider.
Berkonsolidasi

Analis Gartner Carl Claunch memprediksikan sedikitnya satu perusahaan teknologi informasi yang tergolong kelas kakap, menghilang mulai 2004. Entah akibat akuisisi, merger, kehilangan pasar atau teknologinya absolete. Perusahaan-perusahaan dot com pun berguguran dan ibarat kolam, ikan besar memangsa ikan kecil.
Sebelum akhir 2007, industri teknologi informasi memasuki masa oligopoli -segelintir vendor menguasai pasar. Setelah konsolidasi, industri ini akan kembali tumbuh dan menghasilkan inovasi baru.
Konsolidasi vendor besar itu berdampak pada model arsitektur sistem teknologi informasi pada perusahaan. Jumlah vendor yang tidak terlalu banyak membuat peranti lunak dan peranti keras lebih kompatibel antara satu dengan yang lainnya.
Aplikasi dan middleware di masa datang akan lebih mudah diatur dan dikonfigurasi ulang sehingga lebih adaptif terhadap perubahan bisnis. Aplikasi bisnis tidak saja menyatukan berbagai divisi internal, tetapi sudah menghubungkan perusahaan dan lembaga bisnis dalam satu ekosistem ekonomi. Claunch menyebut arsitektur aplikasi ini sebagai interenterprise system.
Konsep konektivitas ini merupakan evolusi dari enterprise resources planning (ERP), customer relationship management (CRM) dan supply chain management (SCM).
Saling keterkaitan antar unit bisnis inilah yang dijanjikan oleh Web Services dan standar industri extensible markup language (XML). Bila pasar menyambut keduanya dengan baik, aplikasi akan memiliki kemampuan plug-and-play sesuai kebutuhan bisnis.
Hasil akhirnya, produktivitas dan efisiensi perusahaan melonjak drastis dan ujung-ujungnya akan mendongkrak ekonomi secara makro. Perusahaan mengoptimalkan Internet dan Intranet untuk menjalankan bisnisnya kapan saja, dimana saja dengan biaya serendah mungkin.
Namun, meningkatnya produktivitas diramalkan membuat banyak orang kehilangan pekerjaan. Sistem otomatisasi akan memangkas kebutuhan tenaga kerja manusia.
Pada 2005, diperkirakan 70% perusahaan yang bergerak lewat Internet jumlah karyawannya berkurang 10% dan pada 2010, sebanyak 60% perusahaan mengurangi 30% karyawannya.
Analis Gartner mengingatkan pengurangan ini baru terjadi pada saat tingkat utilisasi sistem otomatisasi mencapai 100%. Di tahun sebelumnya, kebutuhan tenaga kerja teknologi informasi akan melonjak terlebih dahulu guna menyiapkan peranti keras dan lunak untuk otomatisasi itu.
Peranan bank Presence service bisa diartikan sebagai segala macam layanan yang mendukung keberadaan individu. KTP, SIM, Kartu ATM, Kartu Kredit, Smart Card, alamat email, dan user ID adalah beberapa diantara jenis layanan itu. Tanpanya manusia modern tidak bisa berbuat apa-apa, tidak diakui keberadaannya.
Kehadiran presence service ini berawal dari konsep 'one-click Internet' yang menawarkan pengaturan preferensi dan informasi sesuai kebutuhan pengguna ketika berselancar di Internet.
Ke depan, bank akan lebih banyak berperan sebagai presence service provider karena sektor ini sarat dengan teknologi informasi dalam menjalankan bisnisnya. Disamping itu, bank sudah biasa berurusan dengan security dan privacy nasabahnya. Gartner memprediksikan 70% bank sukses mengelola layanan ini sebelum 2007.
Dari potret masa depan itu, terlihat peranan teknologi informasi dalam dunia bisnis semakin besar. Teknologi informasi tidak lagi dipandang sebagai cost center, bukan juga hanya sebagai profit center tetapi sudah menjadi enabling factor -faktor penyedia yang memungkinkan bisnis berjalan. Dalam setiap keputusan bisnis terkandung muatan teknologi informasi yang semakin kental, begitu juga sebaliknya.

Bisnis Teknologi Informasi 2007 Diprediksi Capai Rp 2,2 Triliun
Selasa, 05 Desember 2006 | 19:35 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta:

Transaksi bisnis teknologi informasi (TI) pada 2007 diperkirakan mencapai Rp 2,2 triliun. Ketua Asosiasi Piranti Lunak Indonesia (Aspiluki) Djarot Subiantoro mengatakan rencana pemerintah melegalkan piranti lunak di setiap komputer di kantor pemerintah mendorong peningkatan industri teknologi informasi.

“Belanja pemerintah dan BUMN untuk sektor TI mencapai 60 persennya,” kata Djarot, Senin (4/12). Selain itu rencana pemerintah menetapkan tahun 2007 sebagai tahun teknologi informasi turut memberikan andil bagi peningkatan transaksi bisnis TI.

Rencana itu dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pengurangan angka pembajakan di Indonesia. Aspiluki memprediksikan transaksi bisnis TI tahun ini sekitar Rp 1,9 Triliun. Dari jumlah itu 80 persennya berasal dari transaksi perangkat keras seperti personal komputer dan aksesorisnya. Sedangkan piranti lunak menyumbang 20 persen.
p

Peluang & resiko bisnis SPBU

Persaingan Bisnis SPBU
Persaingan bisnis SPBU akan semakin ketat dan atraktif. Apalagi makin banyak pemain dari luar yang masuk dan beroperasi di Indonesia. Kendati akhir-akhir ini BBM mengalami masalah di negeri ini, perusahaan penyuplai BBM ini, terus tumbuh setiap tahun. Pertumbuhannya sangat pesat, seiring dengan bertambahnya jumlah kendaraan bermotor yang terus meningkat setiap tahun.

Selain itu, kebutuhan industri pun juga sangat tinggi. ''Kebutuhan BBM di Indonesia untuk jenis premium mencapai 56 ribu kiloliter (kl) per hari, dan untuk jenis disel mencapai 70 ribu kiloliter per hari,'' kata Toharso, general manager Humas PT Pertamina, kepada Republika, Selasa (30/1) di Jakarta.
Sepanjang tahun 2004, kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap BBM mencapai 64,4 miliar liter. Dari jumlah itu, kebutuhan untuk transportasi (ritel) dan industri cukup berimbang. ''Kebutuhan ritel mencapai 34,3 miliar liter dan komersial sebesar 30 miliar liter,'' kata Fathia Syarif, manager Komunikasi Perusahaan, Shell Companies in Indonesia, kepada Republika.
Besarnya kebutuhan masyarakat Indonesia akan BBM ini, membuat perusahaan asing tertarik untuk menanamkan investasinya di Indonesia dan mencoba bersaing memperebutkan kue yang ada.
Di Indonesia, pasar BBM dikuasai oleh Pertamina. Jumlah Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) Pertamina mencapai lebih dari 3.600 buah. Sementara itu, perusahaan asing lain yang saat ini sudah beroperasi di Indonesia adalah Royal Ducth Shell (berpusat di Belanda) dan Petroliam Nasional Berhad (Petronas) asal Malaysia.
Saat ini, Shell telah membuka lima SPBU di Indonesia. Yakni, di Lippo Karawaci (Tangerang), Buncit (Mampang Prapatan), Jalan Gatot Soebroto, Jalan Soeprapto dan Jalan S Parman (Jakarta). Shell menjual produk bahan bakar seperti Shell Super Extra, Shell Super dan Shell Diesel.
Sementara itu, Petronas telah memiliki empat SPBU, yakni di Cibubur (Jaktim), Lenteng Agung (Jaksel), Pekayon (Bekasi), Cikokol (Tangerang). BBM yang ditawarkan berupa Primax 92, Primax 95 dan Diesel.
Selain Shell dan Petronas, kabarnya, perusahaan minyak raksasa asal Perancis, Total, juga berencana menanamkan investasinya di Indonesia dan siap merebut hati masyarakat Indonesia. Total berencana membangun enam SPBU di Jakarta. Januari lalu, Presiden Direktur Total, Thierry Desmarest seusai bertemu dengan Presiden SBY mengatakan, pihak Total sangat tertarik dengan prospek bisnis SPBU di Indonesia. Karena itu, pihaknya telah menambah investasi sebesar enam juta dolar AS di Indonesia selama lima tahun, yang digunakan untuk eksplorasi sumber minyak dan gas baru.
Kabarnya, Total saat ini juga sedang melanjutkan negosiasi dengan Pertamina untuk menambah produksi gas untuk domestik dan ekspor. Saat dimintai tanggapannya mengenai kehadiran sejumlah perusahaan asing dalam bisnis SPBU ini, Toharso mengatakan, hal justru makin membuat Pertamina diuntungkan. Selain itu, tentu saja, konsumen pula yang senang.
''Pertamina melihat, hadirnya para pesaing dalam bisnis SPBU ini akan makin membuat Pertamina tambah kuat. Kenapa? Karena Pertamina akan semakin mempercepat proses transformasi dalam segala bidang, mulai dari layanan, sistem informasi hingga kinerja operator,'' paparnya.
Apalagi, lanjutnya, sebagai pemain yang sudah lama berkiprah dalam bisnis ini dan merupakan pemain dengan pangsa pasar terbesar, Pertamina memiliki jaringan infrastruktur yang sangat luas.
Layanan Terbaik
Toharso menilai, saat ini dan di masa depan, persaingan bisnis SPBU semakin ketat dan atraktif. Sebab, lanjutnya, bukan saja masing-masing perusahaan akan pure (murni) berbisnis BBM, melainkan juga akan merambah fasilitas lainnya.
Hal itu juga diungkapkan Media Relation Petronas Niaga Indonesia, Bayu Anggraeni. ''Persaingan yang sangat ketat, harus diimbangi dengan strategi yang baik. Bisnis SPBU tidak hanya sekedar menjual BBM, tetapi juga layanan servis yang baik dan kemudahan akses serta fasilitas bagi konsumen, seperti minimarket, laundry, mushalla dan lainnya. Karena itu, Petronas membuat SPBU berkonsep one stop shopping (layanan satu atap),'' kata Bayu kepada Republika.
Petronas, ungkapnya, berencana terus melakukan ekspansi dan melebarkan sayapnya dengan menambah SPBU di sejumlah daerah. ''Kami berharap, tahun 2007 ini bisa menambah SPBU Petronas antara 40-50 unit,'' jelasnya.
Persaingan di bisnis ini memang sangat ketat. Apalagi, masing-masing perusahaan berupaya memberikan layanan terbaik bagi konsumennya. Bila Petronas mengembangkan konsep one stop shopping, Pertamina membuat konsep Pertamina Way.
Konsep SPBU Pertamina Way mengandalkan lima kaidah, yaitu aspek mutu dan jumlah (kualitas bagus dan takaran tepat), aspek SDM dan operator yang selalu menerapkan 3S (Salam, Senyum, Sapa). Kemudian aspek keamanan (ada petugas keamanan/satpam); lalu aspek fasilitas (mushalla, cafe, dan toilet); dan aspek servis pelayanan secara umum (menyangkut hak-hak konsumen). ''Kami akan terus menambah SPBU Pertamina Way. Tahun ini, sedikitnya kami membuat 150 SPBU Pertamina Way se-Jabodetabek atau 300 SPBU di seluruh Indonesia,'' ungkap Toharso.
Saat ini Pertamina memiliki lebih dari 3.600 unit SPBU di seluruh Indonesia. Dalam mengembangkan jaringan SPBU, kata Toharso, Pertamina memiliki tiga jaringan, yaitu Coco (Company on Company Operated) -- Pertamina yang bertindak sebagai operator dan agen -- Codo (Company on Dealer Operated) -- Pertamina sebagai operator dan diler sebagai agen,-- dan jaringan Dodo (Dealer on dealer Operated) --diler yang bertindak sebagai operator dan agen.
Sementara itu, Shell mengedepankan konsep QQS (Quality, Quantity and Service). Kualitas terbaik, dengan kuantitas (jumlah) yang tepat dan akurat serta layanan yang memuaskan konsumen. ''QQS ini merupakan tiga pilar yang dikembangkan Shell. Dan Shell akan terus konsisten menerapkan konsep ini tidak hanya sekadar kata-kata. Selama ini, karyawan Shell juga terus melayani konsumen dengan sikap yang santun, sopan dan menyenangkan hati konsumen,'' ungkap Fathia.
Pengusaha SPBU Ogah Rugi!

Pengusaha SPBU ogah rugi!. Demikian kira-kira ungkapan yang muncul di beberapa media pada awal Desember 2008 kemarin. Pemberitaan miring mengenai franchisee Pertamina ini muncul seiring dengan keputusan pemerintah melalui Pertamina untuk menurunkan harga BBM bersubsidi (Premium) sebesar Rp. 500,- sehingga harga Premium menjadi Rp. 5.500,-. Pengusaha SPBU bertindak tidak professional dengan mengurangi pemesanan Premium pada beberapa hari sebelum tanggal efektif keputusan tersebut. Dengan demikian, mereka mengurangi kerugian akibat proses jual rugi; yakni membeli stok premium dengan harga lama (Rp. 6.000,-) namun dijual dengan harga baru. Bagi pengusaha sektor retail lainnya, praktik bisnis seperti ini mungkin sah-sah saja terlebih dalam situasi krisis financial seperti sekarang ini. Namun, SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) sebagai jalur distribusi BBM adalah bisnis yang menyangkut kepentingan orang banyak yang harus mengutamakan prinsip layanan terhadap masyarakat (public service obligation).

Pertanyannya, bagaimana hubungan supply chain antara Pertamina Hilir dan SPBU ini dioptimalkan sehingga kejadian stok habis tidak terulang lagi? Terlebih lagi, pada awal 2009 nanti penetapan harga jual BBM (tidak hanya Pertamax, namun juga Premium dan Solar) akan mengikuti mekanisme harga pasar yang tentunya memperbesar uncertainty (demand uncertainty) bagi pengusaha SPBU. Apa langkah yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut?

Inventory Planning SPBU

Terlepas dari intense atau niatan buruk dari beberapa oknum pengusaha SPBU, kasus stok habis di beberapa daerah pada dasarnya merupakan persoalan inventory planning dan supply chain planning and control. Dalam Operations Management, kedua konsep diatas merupakan usaha untuk mengurangi ketidakpastian dalam bisnis dan sebagai media untuk mencapai tujuan bisnis; yakni memberikan value bagi pelanggan. Dalam konteks bisnis SPBU, value yang diberikan kepada pelanggan adalah ketersediaan BBM sesuai kualitas yang ditetapkan oleh Pertamina dengan takaran yang tepat pula sesuai program “Pasti Pas”. Selain ketersediaan (availability), aspek kualitas dan ketepatan takaran juga merupakan aspek yang sedang hangat diperbincangkan dan akan dibahas pada kesempatan lain. Terlebih lagi, keputusan untuk merubah harga jual BBM dari fixed menjadi floating menambah faktor ketidakpastian tersebut. Artikel ini memfokuskan pembahasan pada aspek ketersediaan terkait dengan adanya ketidakpastian akibat perubahan harga diluar kompetisi dengan retailer swasta. Mengikuti logika ekonomi, pada saat harga naik maka permintaan akan BBM juga berkurang; demikian pula sebaliknya. Pada masa lalu, fenomena ini muncul setiap ada perubahan penetapan harga. Pada saat BBM bersubsidi naik dari Rp. 4.500,- menjadi Rp. 6.000,- pada awal 2008, antrean kendaraan marak terjadi di hamper setiap SPBU menjelang hari kenaikan harga. Konsumen ingin menikmati harga lama semaksimal mungkin dengan mengisi penuh tanki bahan bakar; meskipun hal ini berlangsung beberapa hari saja. Sebaliknya, ketika kali ini harga diturunkan; giliran pengusaha melakukan hal tidak terpuji yang mengakibatkan Pertamina mengurangi kiriman BBM akibat prediksi demand yang (seolah-olah) turun. Dapat Anda bayangkan apa yang terjadi jika perubahan ini berlangsung dalam frekuensi yang lebih tinggi dan tidak terprediksi. Laju roda ekonomi akan terhambat akibat isu transportasi yang berkepanjangan.

Setiap SPBU perlu memiliki safety stock level yang dikontrol oleh Pertamina sebagai franchisor berdasarkan moving average demand yang dihitung dari historical data penjualan BBM. Safety stock level ini merupakan inventory cost yang akan dikompensasi dengan besaran margin penjualan BBM. Dengan sinergi ini, Pertamina mencapai tujuannya untuk memberikan public service obligations melalui availability BBM yang konsisten melalui jaringan franchise SPBU-nya. Sebaliknya, resiko bisnis pengusaha SPBU akibat demand uncertainty menjadi lebih terukur melalui indikator safety stock level. Inventory cost yang dibebankan tersebut diperhitungkan dari holding cost dan ordering cost.

Holding cost merupakan biaya yang muncul karena menetapkan level inventory tertentu yang ditentukan oleh besarnya safety level stock, biaya penyimpanan, opportunity cost, pengurangan stock-out cost, fluktuasi permintaan BBM, dsb. Diskusi holding cost akan semakin menarik karena setiap SPBU menjual beberapa jenis BBM (Solar, Premium, Pertamax, BioSolar, dst) yang masing-masing memiliki pola penjualan yang berbeda yang tentunya memiliki safety level stock yang berbeda pula. Sedangkan ordering cost, merupakan biaya pemesanan terkait dengan pemeliharaan safety stock level; dan bukannya seluruh biaya ordering cost. Besarnya akan tergantung dari persentase safety stock level terhadap total inventory total. Ordering cost muncul dari biaya komunikasi, biaya modal, biaya system pembayaran, dan biaya sumber daya manusia yang tergantung dari frekuensi dan lead time pemesanan. Oleh karena itu, Pertamina dan SPBU perlu mendiskusikan Inventory Control System yang digunakan; memilih Q-System atau P-System berdasarkan faktor lokasi SPBU, kepraktisan, dan keamanan.

Supply Chain Planning and Control

Bagi Pertamina, persoalan ini merupakan persoalan manajemen supply chain; khususnya dari sisi distribusi. Kunci sukses Pertamina dalam hal ini adalah mendapatkan forecast demand yang presisi sehingga cukup akurat untuk mengukur kebutuhan produk BBM yang harus dipasok kepada SPBU sebagai retailer dan mendesain jalur distribusi yang tepat sehingga distribusi produk BBM sampai tepat jumlah dan tepat waktu. Untuk itu, data moving average demand dari masing-masing SPBU perlu dikumpulkan sedini mungkin sehingga demand forecast dapat ditetapkan yang selanjutnya menjadi patokan penyusunan production forecast. Sesudah mengintegrasikan lead time dari faktor supplier dan faktor produksi, Pertamina dapat menyusun distribution schedule kepada masing-masing SPBU untuk menjamin availability produk BBM bagi publik.

Aspek yang tak kalah perlu diperhatikan adalah kontrol terhadap pengusaha SPBU yang melanggar ketentuan kemitraan yang ditetapkan. Tindakan tegas perlu diberikan agar mekanisme yang sudah direncanakan berjalan lancar dan tidak mengganggu jalur distribusi yang lain. Demikian pula terhadap SPBU yang lain, perlu diawasi sehingga tidak ada peluang untuk melakukan tindakan yang dapat merugikan pelanggan pada umumnya, dan Pertamina pada khususnya. Menjamin availability produk BBM bukan pekerjaan mudah, terlebih melibatkan daerah distribusi yang cukup luas dengan tingkat kesulitan daya jelajah yang cukup tinggi pada daerah tertentu. Suatu langkah taktis yang dapat dijalankan pada daerah distribusi tertentu, belum tentu dapat pula diterapkan pada daerah distribusi yang lain. Terlebih lagi, distribusi ini melibatkan pihak eksternal (franchisee) yang tentunya memerlukan strategi khusus untuk menjalankannya. Jantung picunya adalah komitmen untuk memenuhi janji menjamin pasokan BBM domestik demi pertumbuhan ekonomi dalam negeri. ***